tarbiyah


Kiranya sangat bermanfaat untuk disajikan di sini sedikit atau sebagian perkataan imam-imam mazhab yang EMPAT, dengan harapan, semoga di dalamnya terdapat pelajaran dan peringatan bagi orang yang mengikuti mereka, bahkan bagi orang yang mengikuti selain mereka yang lebih rendah darjatnya dari taqlid buta, dan bagi orang yang berpegang teguh kepada madzab-madzab dan perkataan-perkataan mereka, sebagaimana kalau madzab-madzab dan perkataan-perkataan itu turun dari langit.

Allah Subhanahu Wa Taala, berfirman: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)”. (QS. Al-Araf :3)

I. ABU HANIFAH
Yang pertama-tama di antara mereka adalah Imam Abu Hanifah An-Numan bin Tsabit. Para sahabatnya telah meriwayatkan banyak perkataan dan ungkapan darinya, yang semuanya melahirkan satu kesimpulan, iaitu kewajiban untuk berpegang teguh kepada hadith dan meninggalkan pendapat para imam yang bertentangan dengannya.

1. “Apabila hadits itu sahih, maka hadith itu adalah madzhabku.” (Ibnu Abidin di dalam Al-Hasyiyah 1/63)

2. “Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya”. (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Intiqau fi Fadha ilits Tsalatsatil Aimmatil FuqahaI, hal. 145)

3. Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku”.

4. Di dalam sebuah riwayat ditambahkan: “Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari”.

5. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah dan khabar Rasulullah salallahu alaihi Wa Sallam, maka tinggalkanlah perkataanku”. (Al-Fulani di dalam Al-Iqazh, hal. 50)

II. MALIK BIN ANAS
Imam Malik berkata:
1. “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan kitab dan sunnah, ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan sunnah, tinggalkanlah”. (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami, 2/32)

2. “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Salallhu Alaihi Wasallam”. (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)

3. Ibnu Wahab berkata, “Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang menyelang-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, “Tidak ada hal itu pada manusia. Dia berkata. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu, maka dia berkata: Apakah itu? Aku berkata: Al-Laits bin Saad dan Ibnu Lahiah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al-Maafiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadith kepada kami, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menunjukkan kepadaku dengan kelingkingnya apa yang ada diantara jari-jari kedua kakinya. Maka dia berkata, “Sesungguhnya hadith ini adalah Hasan, Aku mendengarnya hanya satu jam. Kemudian aku mendengarnya, setelah itu ditanya, lalu ia memerintahkan untuk menyelang-nyelangi jari-jari. (Mukaddimah Al-Jarhu wat Tadil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)

III. ASY-SYAFII
Adapun perkataan-perkataan yang diambil dari Imam Syafii di dalam hal ini lebih banyak dan lebih baik, dan para pengikutnya pun lebih banyak mengamalkannya. Di antaranya:
1. “Tidak ada seorangpun, kecuali dia harus bermadzab dengan Sunnah Rasulullah dan menyendiri dengannya. Walaupun aku mengucapkan satu ucapan dan mengasalkan kepada suatu asal di dalamnya dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang bertentangan dengan ucapanku. Maka peganglah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Inilah ucapanku.” (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir, 15/1/3)

2. “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya kerana untuk mengikuti perkataan seseorang.” (Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal. 68)

3. “Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah Salallahu alaihi Wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam, 3/47/1)

4. “Apabila Hadist itu Shahih, maka dia adalah madzhabku.” (An-Nawawi di dalam Al-Majmu, Asy-Syarani, 10/57)

5. “Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari padaku tentang hadisth dan orang-orangnya (Rijalu l-Hadits). Apabila hadith itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, akan bermadzhab dengannya.” ( Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy- SyafiI, 8/1)

6. “Setiap masalah yang didalamnya kabar dari Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam adalah shahih bagi ahli naqli dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati.” (Al-Harawi, 47/1)

7. “Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadith Nabi yang bertentangan dengannya shahih, maka ketahuilah, sesungguhnya akalku telah bermadzhab dengannya.” (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Muaddab)

8. “Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari nabi salallahu alaihi wa sallam terdapat hadith sahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadith nabi adalah lebih utama. Oleh kerana itu, janganlah kamu mengikutiku.” (Aibnu Asakir, 15/9/2)

IV. AHMAD BIN HAMBAL
Imam Ahmad adalah salah seorang imam yang paling banyak mengumpulkan sunnah dan paling berpegang teguh kepadanya. Sehingga ia membenci penulisan buku-buku yang memuat cabang-cabang (furu’) dan pendapat. Oleh karena itu ia berkata:

1. “Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafii, Auzai dan Tsauri, tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-Ilam, 2/302)

2. “Pendapat AuzaI, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan alasan hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar.” (Ibnul Abdl Barr di dalam Al-Jami, 2/149)

3. “Barang siapa yang menolak hadith Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran.” (Ibnul Jauzi, 182).

Allah berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An- Nisa:65),

dan firman-Nya: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cubaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur:63).

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Adalah menjadi kewajiban bagi setiap orang yang telah sampai kepadanya perintah Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Sallam dan mengetahuinya untuk menerangkannya kepada umat, menasihati mereka dan memerintahkan kepada mereka untuk mengikuti perintahnya. Dan apabila hal itu bertentangan dengan pendapat orang besar di antara umat, maka sesungguhnya perintah Rasulullah salallahu alaihi wa Sallam itu lebih berhak untuk disebarkan dan diikuti dibanding pendapat orang besar manapun yang telah bertentangan dengan perintahnya di dalam sebagian perkara secara salah. Dan dari sini, para sahabat dan orang-orang setelah mereka telah menolak setiap orang yang menentang sunnah yang sahih, dan barangkali mereka telah berlaku keras dalam penolakan ini. Namun demikian, mereka tidak membencinya, bahkan dia dicintai dan diagungkan di dalam hati mereka. Akan tetapi, Rasulullah Salallahu alaihi wa Sallam adalah lebih dicintai oleh mereka dan perintahnya melebihi setiap makhluk lainnya.

Oleh karena itu, apabila perintah rasul itu bertentangan dengan perintah selainnya, maka perintah rasul adalah lebih utama untuk didahulukan dan diikuti. Hal ini tidak dihalang-halangi oleh pengagungan terhadap orang yang bertentangan dengan perintahnya, walaupun orang itu mendapat ampunan. Orang yang bertentangan itu tidak membenci apabila perintahnya itu diingkari apabila memang ternyata perintah Rasulullah itu bertentangan dengannya. Bagaimana mungkin mereka akan membenci hal itu, sedangkan mereka telah memerintahkan kepada para pengikutnya, dan mereka telah mewajibkan mereka untuk meninggalkan perkataan-perkataan yang bertentangan dengan sunnah.”

* (Saduran daripada Mukaddimah Kitab Shifatu Shalatiin Nabii SAW, karya Al-Imam Al-Muhaddith Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullah)

`

Semoga ada manfaatnya buat diri penulis terutamanya, InsyaAllah…

Artikel daripada: http://opalotus99.blogspot.com/2008/12/perkataan-empat-4-imam-madzhab-dalam.html

PETUA KHUSYUK DLM SOLAT

zulaikha
Halaqah.net
Editor:PenaHalaqah

1. Sentiasa menghadirkan hati meyakini kebesaran dan kekuasaan Allah.

2. Menghadirkan hati mengakui tentang kelemahan kita sebagai hamba Allah yang sentiasa memerlukan pertolongan Allah.

3. Menghadirkan hati mengakui segala kemewahan dunia dan kesenangan adalah sementara.

4. Tidak tergesa-gesa dalam menunaikan solat kerana tergesa-gesa boleh membawa kepada luputnya beberapa perkara penting  untuk khusyuk.

5. Hendaklah menunaikan solat pada awal waktu dan secara berjemaah.

6. Pakaian yang digunakan dalam solat hendaklah bersih daripada najis. Begitu juga dengan sejadah. Ia hendaklah bersih dan tidak mempunyai gambar-gambar yang boleh melalaikan solat.

7. Dalam suasana yang aman tanpa suara bising daripada kanak-kanak mahupun menerusi televisyen atau radio.

8. Imam hendaklah seorang yang elok bacaannya kerana bacaan yang elok membantu menghadirkan hati. Imam itu pula tidak dibenci oleh ahli jemaah.

9. Bersihkan fikiran daripada masalah hidup dan tumpukan sepenuh perhatian kepada Allah.

10. Membuang air kecil dan air besar terlebih dahulu jika berasa perlu berbuat demikian. ini kerana orang yang solat dalam keadaan menahan buang air kecil dan buang air besar tidak akan memperoleh kekhusyukan.

11. Tidak berada dalam keadaan lapar atau terlalu kenyang kerana orang yang lapar hanya memikirkan untuk makan. Begitu juga dengan orang yang terlalu kenyang berada dalam keadaan tidak selesa dalam setiap pergerakannya.

12. Kesihatan tubuh badan hendaklah dijaga. Badan yang sakit sukar mendatangkan rasa khusyuk dalam solat.

13. Hati hendaklah hadir dalam solat, bukannya melayang tak tentu arah.

14. Memahami makna bacaan dalam solat.

Ala’ An-Nadee*

Islamonline

ImageFiqh perubahan yang dianut oleh Syaikh Ahmad Yaseen diyakini mampu menciptakan perubahan menyeluruh di lapangan. Keranaya, studi atas fiqh as-syahid menjadi penting dan asas bagi semua gerakan perubahan secara umum dan gerakan jihad secara khusus.

Statemen di atas tidaklah berlebihan atau hanya kecenderungan emosional simpatisme. Keberhasilan konsep perubahan Syaikh Asy-Syahid diakui oleh lawan-lawannya sebelum diakui oleh pendukungnya. Keberhasilan itu memberikan pengaruh kepada situasi Palestina dan bahkan melampaui batas teritorial Palestina ke dunia internasional.

Kesyahidan Syaikh Ahmad Yaseen yang menjadi peristiwa menarik perhatian setiap level politik menegaskan betapa dalam perubahan dan pengaruh sang maestro revolusi ini.

Tumbuhan di tengah badai

Di awal perjuangannya, Asy-Syahid berangkat dan membangun format persepsinya berdasarkan ilham (inspirasi) pemikiran Islam. Namun proses pembentukan ini tidaklah mudah. Beliau hidup ditengah situasi bergolak dan rumit. Semua upaya pasukan Arab untuk mengalahkan tentera Israel sudah berleluasa. Semua harapan yang digantungkan kepada sebagian gerakan Palestina sudah pupus setelah indikasi pengunduran sudah muncul.

Dalam situasi seperti inilah Syaikh Asy-Syahid memulai menformat pemahaman dan membangun projek perubahannya.

Beliau yakin bahwa nafas perubahan hanya ada akan tumbuh dari nafas budaya dan moral manusia. Budaya dan moral itulah yang selanjutkan akan menguasai manusia dalam segala bidangnya dan menjadi pengedali dari semua persepsinya. Pemahaman beliau inilah yang akhirnya menemukan ruang di masyarakatnya sehingga tercipta miliu melalui upaya dan kesungguhan berkesinambungan. Melalui pengembangan, menjauhi sikap reaksioner, dan tidak tergesah bersikap maka perubahahan itu menjadi kristal kuat yang tidak mungkin dihancurkan.

Apa yang disaksikan oleh Syaikh Asy-Syahid dalam kerja perjuangan berupa hambatan dan tantangan semakin meyakinkan kebenaran konsep perubahannya. Reaksioner dalam kerja tentera tanpa perhitungan dan persiapan dan mengandalkan kemampuan internal serta mengindar dari pendidikan masyarakat justru telah menjatuhkan banyak gerakan dalam “tawanan tarik ulur” bahkan tak sedikit yang saling beradu ‘tanduk’. Sebab mereka dikuasai oleh partai duniawi yang memiliki keterbatasan nilai, visi dan misi.

Menyiapkan masyarakat terlebih dulu

Kepemimpinan jamaah Ikhwanul Muslimin dipegang oleh Syaikh Asy-Syahid di Jalur Gaza dan Tepi Barat setelah tahun 1968 setelah Ismael Al-Khalidi keluar.

Sejak saat itu, persepsi pemikiran yang dibangun Syaikh mengalami fase perpindahan dari konsep menuju praktik penerapan. Gerakannya pun aktif memberikan tauiyah (penyadaran) kepada masyarakat. Syaikh tidak terburu-buru. Beliau sadar beban berat masyarakat Palestina dan gerakannya menghadapi musuh Israel yang didukung dunia luar.

Syaikh mendorong pengikutnya untuk menfokuskan kesungguhannya pada medan sosial. Projek perubahan difokuskan kepada landasan jihad tidak akan terbuka benuhnya dan berbuah selama realitas masyarakat belum disirami dengan makna dan nilai-nilai Islam, terutama nilai-nilai keterpautan dan solidaritas.

Syaikh saat itu belum siap meninggalkan konsep pemahaman perubahannya dengan tekanan peristiwa. Karenanya, beliau komitmen dengan falsafah perubahan yang dia yakini dan menolak semua upaya propaganda yang mendorong gerakannya kepada konfrontasi yang belum waktunya.

Manusia dan membentuk masyarakat berdasarkan nilai-nilai Islam adalah dua fokus yang menjadi landasan proyek perubahannya.

Masyarakat Islami ….titik tolak dan benih perubahan

Benih perubahan pertama dalam proyek perubahan Asy-Syahid Syaikh direpresentasikan dalam pembentukan Mujamma’ Islami di Gaza tahun 1973. Mujamma’ telah membumikan makna-makna pemahanan perubahan Syaikh. Mujamma’ ini terdiri dari Masjid Iqtida yang dijadikan sebagai eksperimen pertama dalam unsur perubahan. Sebab masjid dijadikan tempat pendidikan untuk membentuk kepribadian muslim.

Di samping masjid itu terbentuk lembaga pendidikan anak-anak, sekolah Islam, dan gedung penyelenggaraan acara-acara tertentu. Di sana digelar berbagai macam acara dari berbagai sektor dakwah dan ekonomi. Syaikh semakin bahwa akar perubahan tidak akan tumbuh kecuali secara sosial. Sebab proyek perubahan itu harus melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Terburu-buru dan tudingan

Syaikh konsisten dengan politik “menahan nafas panjang”. Dengan kesabaran dan keuletannya, landasan masyarakat yang meyakini proyek perubahan semakin menemukan ritme untuk meluas dan mengakar. Muncullah suara-suara agar segera mengefektifkan gerakan perubahan ke ladang jihad melalui methode militer. Dari dalam tubuh gerakannya muncul suara itu meski terbatas. Dari luar gerakannya muncul tuduhan bahwa gerakannya mengesampingkan kewajiban jihad bahkan dituduh berpihak kepada Israel. Tudingan dan propaganda ini tidak melemahkan Asy-Syahid dalam meneruskan perjuangannya. Sejak awal beliau sadar bahwa perjuangan jihad dengan Israel adalah pilihan satu-satunya dalam proyek perubahan ini.

Namun beliau ingin proyek perubahan dan perjuangan jihad yang merupakan puncaknya dibangun di atas landasan kokoh di bumi, dahannya harus lebih kokoh dari rantingnya sehingga tidak mudah rapuh.

Kelahiran itu

Ketika Syaikh sudah nyaman berdiri di atas realitas masyarakat yang diwarnai oleh nilai Islam, bersama murid-muridnya mendirikan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mendirikan di akhir tahun 1987. Namun dengan pembentukan gerakan ini, Syaikh tidak mundur dari perubahan masyarakat. Justru masyarakat itulah yang mendasari gerakan jihad. Beliau membuka gerakannya untuk setiap unsur Islam. Beliau membuka kaidah dialog dan partisipasi. Pengumuman pendirian Hamas disusul dengan Intifadlah I atau yang dikenal dengan “Intifadlah dengan batu”.

Sejak awal gerakan Hamas menyatakan bahwa proyek pembebasan Palestina tidak mungkin kecuali dengan pilihan satu-satunya melalui gerbang jihad, membudayakan pengorbanan dan gugur syahid. Pertumbuhan gagasan ini pun sangat drastis. Banyak pihak yang menilai bahwa gerakan ini hanya berjuang sejak 1987 dimana ia dilahirkan. Namun selama bertahun-tahun mereka sudah melakukan perjuangan perubahan budaya dan pemikiran sebelum dilahirkan.

Dengan Intifadlah I dan II gerakan Hamas mampu tegar menghadapi tantangan tersulit. Gerakan yang berjalan sesuai dengan manhaj Syaikh tidak pernah gentar dengan ancaman pembunuhan para pemimpinnya dan kadernya. Sebab pelajaran pertama yang ditanamkan Syaikh Asy-Syaikh adalah “ketergantungan hanya kepada nilai dan ajaran tertinggi”, “kesetian kepada pribadi harus diukur sejauh mana kesetiaan pribadi itu kepada jalan Islam. Kesetian itu akan menemukan bukti pembenarannya dengan kesinambungan perjuangan dan tidak merendah di hadapan badai.

Jika gerakan Hamas sudah menyerap konsep perubahan Syaikh Ahmad Yaseen, maka landasan perubahan masyarakat tidak akan pernah berhenti. Jihad pun menjadi tuntutan sosial dan menyebarlah budaya mati syahid.

Inspirasi dan pelajaran

Musuh Israel mengira pembunuhan Syaikh Ahmad Yaseen akan menghancurkan semangat rakyat Palestina untuk melawan. Israel berjanji menemukan kemenangan setelah membunuh Syaikh Yasin. Realitas akan membuktikan – dengan daya dan kekuatan Allah – persangkaan Israel hanya khayalan. Pohon perubahan yang ditanam Syaikh Yaseen dan disirami dengan darah dan keringatnya di Palestina tidak akan bisa dicabut oleh kekuatan manapun.

Syaikh Asy-Syahid berpulang setelah membuktikan kebenaran janjinya kepada Allah. Beliau meninggal dunia dengan cara yang sesuai dengan pribadinya.

Di antara tanda-tanda kesetiaan beliau ketika anak-anak bangsa ini berusaha menjaga dan merawat warisan Syaikh Asy-Syahid.

Banyak dari anak bangsa Arab ini mengusung konsep perubahan yang diambil dari tokoh dan sosok yang bukan dari akar kita (Arab), tentu tak ada aib untuk mengambil yang bermanfaat dari orang lain. Namun yang aib adalah melupakan jasa dan pemikiran orang-orang besar seperti Syaikh Yaseen yang sulit dilupakan oleh ingatan manusia. (bn-bsyr)

*Wartawan dan peneliti Mesir

Contoh-contoh ini telah dibentangkan oleh Dr Layth Su’ud Jasim di dalam bukunya Khidmat Masyarakat, Peranan Wanita di Zaman Rasulullah s.a.w.,

Rasulullah s.a.w. meninggalkan kepada kita suatu manhaj dan sumbernya yang terpelihara. Ia menjadi asas pembinaan tamadun Islam yang menjadi agama penutup kepada agama-agama langit terdahulu. Tamadun ini mengadaptasi tabiat manhaj rabbaniy tersebut. Iaitu suatu manhaj yang sifatnya sentiasa menyumbang dan memenuhi keperluan manusia sehingga hari kiamat.

Menerusi hakikat inilah kaum wanita menjalankan aktivitinya dalam kehidupan masyarakat Islam. Ia bertindak sebagai satu komponen penting dalam sistem dan tamadun Islam. Kaum wanita turut menyertai anggota masyarakat lain dalam memperkayakan sudut-sudut amali bagi tamadun yang hebat ini. Penyertaan kaum wanita berlaku dalam paksi-paksi berikut:

Paksi Pertama : Menubuhkan dan Mengaktifkan Institusi Khidmat Kemasyarakatan
Paksi Kedua : Pembiayaan Program Institusi Kemasyarakatan

Paksi Pertama : Menubuhkan dan Mengaktifkan Institusi Khidmat Kemasyarakatan

i. Penubuhan Badan Kebajikan (Suffah Wanita)

Orang pertama yang mengeluarkan idea ini ialah Asma’ binti Yazid bin al-Sakan al-Ansariyyah. Beliau pernah menjadi wakil bagi kaum wanita menemui Rasulullah s.a.w. bagi bertanyakan tentang kewajipan wanita dalam masyarakat dan peranan mereka dalam kerja-kerja kemasyarakatan. Ini dapat difahami daripada kata-kata beliau: “Aku adalah utusan kepada seluruh kumpulan kaum wanita yang berada di belakangku. Mereka semua sependapat denganku.” Rasulullah s.a.w. memuji beliau kerana kepintaran dan keprihatinannya terhadap agama. Semua ini menunjukkan kaum wanita dibenarkan berpersatuan sendiri dan mengeluarkan pendapat dalam permasalahan-permasalahan penting, terutama yang bersangkutan dengan kaum wanita, kepentingan agama dan kepentingan dakwah.

Antara aktiviti yang mereka jalankan:
a. Menuntut ilmu
b. Aktiviti Pekerjaan
c. Aktiviti memelihara alam sekitar
d. Mengadakan Perayaan, Sambutan, Bernasyid dan Menyanyi
e. Menghadiri Perhimpunan Tergempar dan Penting

ii. Membina Rumah Tamu dan Membiayainya

Antara wanita yang memberikan sumbangan dalam pembinaan rumah tetamu dan mengeluarkan biaya terhadap tetamu negara Islam ialah Ramlah binti al-Harith bin Tha’labah yang dikenali dengan Umm Thabit. Rumah beliau mempunyai ruang yang besar dan dikelilingi dengan taman luas yang dipenuhi pohon tamar. Rasulullah s.a.w. pernah mengurung Bani Quraizah yang berjumlah 400 orang atau lebih menurut sesetengah riwayat di dalam rumah tersebut.

Delegasi-delegasi yang pernah menghuni rumah tersebut antara lain:
– Delegasi Salman yang terdiri daripada tujuh orang
– Delegasi Bani Kilab yang berjumlah 13 orang
– Delegasi Bani Murrah yang terdiri daripada 13 orang
– Delegasi Bani Fuzarah
– Delegasi Bani ‘Abd Qays
– Delegasi Bani Tamim
– Delegasi Bani Hanifah
Kesemua delegasi tersebut menjadi tetamu di rumah itu pada masa yang sama.

Paksi Kedua : Pembiayaan Program/Projek Institusi Kemasyarakatan

Allah s.w.t. menyifatkan harta sebagai paksi serta asas kehidupan masyarakat Islam. Lantaran itu Islam meletakkan antara matlamat syara’ ialah memelihara harta. Islam juga memperundangkan hukum-hukum tertentu berkaitan dengan pemeliharaan harta seperti zakat,sedekah, wasiat, waqaf dan sebagainya.

Perundangan ini tidak khusus kepada lelaki sahaja, malah turut melibatkan kaum wanita. Terlalu banyak contoh-contoh yang terkandung di dalam sirah mengenai keterlibatan wanita secara langsung di dalam memberi sumbangan material sama ada zakat, sedekah, hadiah pembebasan hamba dan lain-lain.

Institusi Khidmat Kesihatan

Dr. Lyth juga menyebutkan bahawa institusi khidmat kesihatan merupakan salah satu institusi yang berkaitan dengan masjid. Dan para sejarawan dalam bidang perubatan menganggap khemah yang didirikan oleh Rufaydah binti Ka’ab al-Aslamiyyah merupakan hospital pertama dalam Islam. Beliau mempunyai ilmu tentang perubatan dan mewakafkan dirinya untuk membantu umat Islam yang memerlukan. Ketika Sa’ad bin Mu’az r.a cedera dalam satu peperangan, Rasulullah s.a.w. membina khemah untuknya di kawasan masjid bagi memudahkan baginda sentiasa melawatnya. Semua ini membawa banyak manfaat dari aspek perundangan dan kemajuan:

1. Wanita dibolehkan mempelajari ilmu perubatan. Bahkan kadangkala hukumnya menjadi wajib dalam keadaan tertentu.
2. Keperluan untuk membina hospital-hospital atau pusat-pusat perubatan di masjid atau di kawasan sekitarnya.
3. Wanita dibolehkan bekerja di dalam sebarang bidang pengkhususan yang membawa manfaat kepada masyarakat.
4. Doktor wanita boleh mengubati pesakit lelaki sekiranya tidak wujud doctor lain atau mana-mana pakar yang lain.
5. Wanita dibolehkan mendalami ilmu kejururawatan. Contohnya Ku’aibah yang membantu saudaranya Rufaydah.
6. Doktor Muslimah atau pembantunya wajib memakai pakaian yang menutup aurat. Ia tidak bertentangan dengan tugas yang diberi.
7. Perlunya mengambil berat terhadap ketua turus tentera dengan diberikan perhatian khusus terhadapnya. Contohnya Sa’ad bin Mu’az.
8. Mengganjari doctor wanita yang cemerlang dan pakar. Rasulullah s.a.w. memberikan sejumlah harta rampasan perang Khaybar kepada Rufaydah sebagaimana ia diberikan kepada kaum lelaki.
9. Orang-orang Islam begitu maju dalam penubuhan hospital-hospital yang merangkumi pelbagai pengkhususan.

Medan Aktiviti Wanita Kini

Dari apa yang dibentangkan di atas, jelas kepada kita bagaimana wanita berperanan memberikan saham kepada masyarakat menerusi institusi dan aktivitinya tanpa merosakkan nilai dan etika yang ditetapkan syarak. Ia telah dikembangkan menerusi pelbagai usaha dalam ruang lingkup yang seimbang dan difahami dengan sebaiknya oleh wanita Islam. Mereka memberikan komitmen sebagaimana komitmen mereka terhadap amal ibadat yang lain.

Wanita hari ini mengikut segala pemikiran dan perilaku yang diimport sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga akhirnya membawa kepada pelanggaran batas serta sempadan yang telah digariskan Allah dan Rasul.

Lantaran itu wanita Islam memerlukan badan atau institusi kemasyarakatan yang berkaitan dengan aspek-aspek kewanitaan. Melaluinya tenaga mereka dapat disalurkan kepada masyarakat secara tersusun menurut konsep Islam.

Saling bertukar pengaman kejayaan di kalangan institusi-institusi wanita Islam juga merupakan satu perkara yang amat diperlukan. Begitu juga tolong menolong secara berterusan bagi memberikan galakan kepada institusi yang baru muncul meneruskan khidmat baktinya.

Monday, 19 November 2007

Image

Apa pun status kewajipan berdakwah, mukmin mestilah melakukannya, kerana jika benar ia fardu `ain dan kita tidak melakukannya kita akan berdosa, jika kita melakukannya kita telah melangsaikan kewajipan di samping mendapat ganjaran. Kalau benar ia fardu kifayah dan kita melakukannya kita akan mendapat pahala. Dalam semua keadaan melakukannya adalah laba. Dalam keadaan tertentu tidak melakukannya mungkin akan mendapat dosa.

Timbul pula persoalan samaada ada perbezaan hukum di antara lelaki dan wanita dalam berdakwah. Apakah ianya hanya wajib kepada lelaki sahaja dan tidak perempuan? Berdasarkan hakikat yang boleh dikutip daripada al-?Quran surat at-Taubah ayat 71;

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dapat dilihat kesepaduan kerjasama antara lelaki dan wanita dalam melakukan amal dakwah ke arah Islam dan pengukuhan hukum-hukumnya.

Penjelasan di atas menunjukkan bahawa tidak syak lagi wanita Islam mempunyai peranan istimewa dan amat penting dalam melaksanakan amal dakwah bagi melengkapkan peranan kaum lelaki. Bahkan dalam sesetengah keadaan peranan mereka lebih penting, malah mengatasi peranan lelaki, terutama dalam bidang yang didominasi oleh kaum wanita. Ini kerana kaum wanita mempunyai beberapa keistimewaan tersendiri dari sudut kesediaan, kemampuan, sifat-sifat keperibadian, kejiwaan dan perasaan yang berbeza daripada kaum lelaki.

Jelas bahawa kewajipan dakwah sama sahaja antara lelaki dan wanita. Semua hujah yang mewajibkan dakwah terpakai ke atas wanita. Semua hujah wajib amal jama`ie terpakai ke atas wanita. Kewajipan wala’ `ammah dan khassah juga wajib ke atas wanita. Hakikat masa kini menunjukkan bahawa penglibatan wanita dalam dakwah dan kerja-kerja kemasyarakatan amat penting, kerana wanita adalah salah satu dari sumber kekuatan Islam. Tidak menggunakan kekuatan ini adalah satu pembaziran ke atas kekuatan yang ada. Selain dari itu masuk Islam menggunakan wanita dalam usaha menentang Islam, malah melihat wanita sebagai pintu masuk paling penting dalam usaha merosakkan Islam, oleh itu kaum wanita mesti disedarkan. Dalam hubungan ini wanitalah yang paling sesuai menyedarkan wanita.

Masyarakat Islam terawal memberikan contoh yang praktikal mengenai peranan wanita di dalam dakwah. Ummu ‘Atiyyah al-Ansariyyah umpamanya menjadikan rumahnya tempat tumpuan kaum lelaki di dalam menimba ilmu. Beliau begitu terkenal kerana keaktifannya di dalam memberi nasihat dan menyampaikan ajaran Islam di kalangan pelbagai qabilah pada zaman Nabi s.a.w. Baliau pernah diseksa dan dipenjarakan. Namun semangatnya tidak patah.

Menurut Zainab al-Ghazali di dalam bukunya yang berjudul Ila Ibnati, keadaan umat masa kini sangat memerlukan kaum wanita memainkan peranan yang aktif di dalam dakwah. Ini disebabkan penjajah Barat mengeksploitasi wanita di dalam menabur benih-benih kejahatan dan keruntuhan nilai-nilai akhlak dan kemanusiaan. Wanita Islam yang lemah pegangan agamanya serta cetek ilmunya akan terus menjadi alat propaganda syaitan di dalam melariskan kemungkaran yang ditajanya melalui media massa, sama ada media cetak mahupun media elektronik.

Menurut penelitian beliau, wanita adalah orang yang paling layak diketengahkan untuk menjalankan operasi dakwah di kalangan kaum sejenis mereka. Mereka lebih memahami tabiat, kedudukan dan permasalahan yang dihadapi kaum sejenis mereka. Dengan itu mereka lebih berupaya menembusi hati-hati mad’u dengan pendekatan yang bersesuaian serta lebih serasi dengan fitrah mereka.

Dengan penegasan oleh nas syarak mengenai kewajipan dakwah yang tidak membatasi gencer , pengamalan wanita di awal Islam, kenyataan dan amalan wanita Islam kini tiada lagi alasan bagi wanita untuk tidak terlibat dalam kerja-kerja dakwah. Alasan untuk memfokuskan usaha mendidik anak di rumah tidak boleh lagi dijadikan hujah untuk tidak terlibat dalam kegiatan dakwah di luar rumah. Dalam hubungan yang sama amatlah songsang jika ada wanita yang tidak sedia terlibat dalam kegiatan dakwah di luar rumah dengan berbagai hujah syar`ie sedangkan dalam masa yang sama mereka bekerja di luar rumah dengan menjawat jawatan-jawatan kerajaan.

ZAMAN SEKOLAH
1.    Saya kecil lagi, tak perlu dakwah pun tak apa. Dah besar nanti insyaallah.

2.    Sibuklah dengan tuisyen, kerja rumah, nak ‘exam’, ko-kurikulum, sukan…

3.    ‘Parents i’ tak bagi le…

4.    Aku takut nanti ganggu akademik.

5.    Dah masuk ‘u’ nanti ok le ‘join’ dakwah, fikiran pun dah matang sikit.

ZAMAN UNIVERSITI/ KOLEJ
1.    ‘You’ faham-faham jelah, masuk ‘u’ ni bukan macam sekolah. ‘Study’ buku tebal-tebal, ‘assignment’ berlambak…nantilah lapang-lapang sikit.

2.    Dah habis belajar nanti aku memang niat nak aktif dalam dakwah. Engkau jangan risaulah. Sekarang tumpu akademik dulu. Takut nanti dakwah entah ke mana, akademik entah ke mana.

3.    Aku tengah ‘tension’ la… awek/ balak aku buat hal pulak…!

ZAMAN HABIS BELAJAR
1.    Nantilah… dapat kerja dulu. Dah ada kerja nanti, dah stabil, ‘ok’ le ‘join’ dakwah. Ni diri sendiri pun tak lepas lagi.

2.    Ada kenderaan baru senang nak bergerak, ye tak? Tunggu le aku ada motor nanti.

3.    Mak bapak aku tengah bising tu. Diorang dah naik muak tengok aku asyik menganggur je. Kalau aku ‘join’ dakwah, lagi teruk le kena hentam.

4.    Letih belajar pun tak habis lagi. Bagilah peluang aku rehat kejap. Dari kecil asyik ‘study study study’, dah ‘grad’ ni ‘relax’ le kejap. Dakwah tu tak lari ke mana. Sampai masa nanti, engkau tengok le.

ZAMAN KERJA
1.    Sibuklah… tau aje la, keluar kerja pagi, balik dah nak malam. Letih giler. Dah balik tentu nak rehat. Aduhhh…

2.    Aku tengah pening kepala nak kumpul duit, nak kahwin ni. Nantilah aku dah ‘settle’ problem–problem aku…

3.    Dah kahwin mesti nak ada kereta. Aku tengah cari duit nak buat ‘down payment’ ni. Ada kereta esok senang nak bergerak. Hujan panas ‘no’ hal.

4.    Bergerak sorang-sorang ni tak berapa ‘best’. Aku cadang nak kahwin dulu. Dah ada pasangan nanti baru laju sikit nak gerak. Betul tak?

ZAMAN KAHWIN
1.    Engkau tahu aje la, dah masuk alam rumahtangga ni. Tanggungjawab bertambah, belanja bertambah. Nak sesuaikan diri dengan pasangan, dengan keluarga pasangan… kena ambil masa jugak. Hari cuti aje dah tentu kena balik rumah mak bapak aku ataupun rumah mak bapak dia. Adik-beradik dah bertambah. Kejap-kejap kenduri la, bertunang la, tahlil la, masuk rumah baru la. Semua nak kena pergi tu. ‘Sorry’ la kawan, aku betul-betul tengah ‘pack’ ni. Nantilah ye.

2.    Orang rumah aku masalah sikitlah. Kalau aku ikut program dakwah aje, dia mula muncung. Rumahtangga mestilah diutamakan, ye tak?

3.    Abang (suami) aku memang tak pernah terdedah dengan program-program dakwah ni. Jadi takkan aku nak keluar sedangkan dia asyik tarik muka aje.

4.    Aku cadang nak tarbiah isteri aku dulu. Pelan-pelanlah aku buka minda dia. Nanti dia pun dah ada minat, kami boleh bergerak sama-sama.

ZAMAN ANAK-ANAK MASIH KECIL
1.    Anak kecik, engkau faham-faham sajalah. Nak keluar rumah pun tak boleh. Sekarang kain baju, masak-memasak, kemas rumah, urus anak-anak semua aku buat. Memang aku tak boleh nak bagi masa untuk program agama la buat masa ni. Anak besar sikit nanti insyaallah la…

2.    Aku nak sambung belajar lagi le, kasi naik pangkat, tambah ‘income’. Baru boleh betul-betul stabil. ‘Time’ tu nanti isyaallah le aku boleh aktif. Nanti le habis sambung belajar dulu. Habis ‘master’, dapat PHD, barulah ada nama sikit. Nak dakwah pun senang, cakap kita orang dengar.

ZAMAN ANAK-ANAK BERSEKOLAH
1.    Nak dakwah macam mana, aku sembahyang pun tak ‘perfect’ lagi, tajwid pun berterabur. Aku ingat nak mengaji kat surau la bab-bab sembahyang, tajwid. Dah boleh baca Quran nanti baru le sedap nak ‘join’ program. Takkan terus-terus nak ikut program, nak dakwah, kalau yang ‘basic’ pun tak lepas lagi, kan?

2.    Umur dah meningkat ni, macam-macam penyakit datang. Badan dah tak kuat macam dulu. Setakat manalah aku boleh ikut program, setakat manalah aku nak berdakwah. Kalau kuat macam muda-muda dulu lain le. Nantilah… pelan-pelannn…

3.    Tak ada masa langsung. Hantar anak-anak ke ‘nursery’, ke sekolah, petang ke sekolah agama, malam tuisyen, hari cuti bawa diorang jalan-jalan, rehat-rehat…tentu nak rekreasi jugak kan?

4. Nak ‘online’ internet? Nak ‘update’ blog? Nak sertai forum? Dua minggu sekali ada le aku online. Blog? Forum? Hmmm…

ZAMAN ANAK-ANAK LEPAS SEKOLAH/ ZAMAN PENCEN
1.    Aku tengah sibuk belajar dan menghafal pasal haji ni. Cadang lagi tiga tahun nak pergi tapi nak kena belajar dari sekarang le. Engkau tahu aje la aku ni bab agama tau yang ‘basic-basic’ je. Rugi la kalau haji ni tak buat elok-elok. Nantilah.

2.    30 tahun kerja siang malam, sekarang baru dapat peluang nak rehat, nak tumpu pada ibadah, nak mengaji di masjid-masjid, nak ziarah anak cucu, nak lawat saudara-mara, nak jaga rumah… Bagilah aku rehat kejap setahun dua, nak ‘cover’ balik yang 30 tahun tu. Sementara hidup ni, nak juga merasa, ye tak?

3.    Tak tahulah. Sekarang asyik bergantung dengan ubat je aku ni. Berjalan jauh sikit penat. Kerja lebih sikit darah naik.

4.    Aku bukan tak mahu, dari zaman sekolah lagi aku memang minat, cuma belum ada rezeki aje nak teruskan kerja-kerja Rasulullah ni. Kerja Tuhan jugak yang tak tentukan jalan hidup aku macam ni, nak buat macam mana.

5.    Anak-anak aku tu… diorang kalau boleh nak tengok aku berehat aje di rumah, tak payah fikir apa-apa, tenangkan fikiran, tumpu pada sembahyang, mengaji… Betul jugak, esok kalau aku sakit ke apa ke, diorang jugak yang susah. Aku malas le nak bertekak dengan diorang.

ZAMAN DALAM KUBUR
1.    Aduh… hafazan aku sikit! ‘Waddhuha’ ke bawah pun tajwid berterabur. Dulu masa sekolah aku main bola dua jam sehari. Kalaulah aku ambil 10 minit sehari daripada masa main bola tu untuk hafazan, seminggu sudah 70 minit. Sebulan? Setahun? Aduh, menyesalnye!

2.    Arg, kawan-kawan aku yang ‘beragama’ boleh dibilang dengan jari! Kalaulah masa di ‘u’ dulu aku aktif, tentu dapat banyak kenalan dan banyak ilmu dan banyak pewaris dakwah melalui tangan aku. Apa yang mereka buat semuanya saham pahala untuk aku tu. Ruginya aku….

3.    Ya Allah, isteri, anak-anak dan cucu-cucu aku ditinggalkan tanpa sempat aku mentarbiah agama mereka. Sekarang mereka jauh dari agama sebab aku tak contohkan diri aku dulu. Semua salah-silap mereka aku nak kena jawab tu. Tapi aku nak buat majlis tarbiah di rumah macam mana sedangkan aku sendiri tak ada ilmu. Padan muka aku!

4.    Kawan yang ajak aku ke program-program agama dulu, bertuahnya mereka. Keluarganya jadi orang-orang soleh. Anak buahnya dalam dakwah banyak. Saham pahala daripada usaha anak-anak buahnya berterusan mengalir. Ilmu dan amalnya banyak. Iman dan pemahamannya tinggi. Ilmunya dimanfaatkan banyak orang. Aku?

5.    Kalau Tuhan tanya nama artis, nama bintang sukan, nama pimpinan dunia… ratusan orang aku ingat. Tapi kalau Tuhan tanya nama ulama, nama kitab… habis aku!

6.    Bahasa Inggeris aku macam air. Bahasa syurga?

7.    Teman-teman aku sudah kenal Tuhan, mereka menyembah Tuhan yang Esa. Aku? Rasa-rasanya masih sembah Tuhan yang bercampur dengan makhluk. Af’alnya aku tak pandai nak Esakan, Asma’nya aku tak tahu nak Esakan,Sifat dan Zatnya pun sama. Oh Tuhan, syirikkah aku? Apakah aku menyekutukan Engkau selama hari ini?

Aku menyesallllll………!!!

Abu Zulfiqar ‘Alexanderwathern’

3 NOVEMBER 2008

http://myalexanderwathern.freephpnuke.org/gate.html?name=News&file=article&sid=435&mode=&order=0&thold=0

Menurut Al-Awalaki, cepat atau lambat Allah swt akan memberikan kemenangan bagi umat Islam, dan untuk meraih kemenangan itu Allah swt menciptakan kondisi tertentu sebagai ujian bagi keimanan kaum Muslimin. Oleh sebab itu, Al-Awlaki dalam dakwahnya menyerukan umat Islam untuk tidak takut dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi berbagai tantangan zaman dan tantangan dari musuh-musuh Islam.

Sejarah Islam mencatat kemenangan gemilang kaum Muslimin di masa lalu dalam berbagai kondisi dimana ketika sebagain kaum Muslimin merasa pesimis akan menang. Semuanya itu, menurut Syaikh Anwar Al-Awlaki, seorang da’i warga negara AS keturunan Yaman, tidak terjadi begitu saja tapi karena Allah ‘Azza wa Jalla memang mempersiapkan kemenangan bagi kaum Muslimin.

Menurut Al-Awalaki, cepat atau lambat Allah swt akan memberikan kemenangan bagi umat Islam, dan untuk meraih kemenangan itu Allah swt menciptakan kondisi tertentu sebagai ujian bagi keimanan kaum Muslimin. Oleh sebab itu, Al-Awlaki dalam dakwahnya menyerukan umat Islam untuk tidak takut dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi berbagai tantangan zaman dan tantangan dari musuh-musuh Islam.

Terkait hal ini, Al-Awlaki mengungkap sejumlah peristiwa-peristiwa besar yang dihadapi oleh kaum Muslimin yang membuktikan bahwa Allah swt menyiapkan sebuah kemenangan yang gemilang bagi kaum Muslimin yang beriman teguh dalam menghadapi berbagai cobaan, mulai dari masa dakwah Rasulullah sampai era Perang Salib.

Kemenangan Dakwah Rasulullah

Masa-masa awal dakwah Islam yang dilakukan Rasululah di kota Makkah, merupakan masa-masa terberat yang dihadapi Rasulullah Muhammad Saw. Tiga belas tahun Rasulullah berdakwah di Makkah, namun tetap mendapat perlawanan dari kaum kafir Makkah dan hanya sedikit yang mau memeluk agama Islam. Sehingga Rasulullah berinisiatif untuk memperluas dakwah sampai ke Ta’if , di negeri ini Rasulullah juga menerima perlawanan bahkan perlakuan yang kasar dari mereka yang menolak agama Islam yang dibawa Rasulullah.

Hingga datanglah masa yang disebut Bu’ath. Terkait Bu’ath Aisyah ra menyatakan, “Bu’ath adalah sebuah hari dimana Allah ‘Azza wa Jalla memberikannya sebagai hadiah bagi Muhammad saw.”

Hari Bu’ath, kata Al-Awlaki, adalah hari ketika dua kelompok suku saling berperang di Madinah dan para pemimpin kedua kelompok suku itu saling bunuh, sehingga ketika Rasulullah mendatangi mereka, kedua kelompok suku yang saling berperang itu tidak memiliki kepemimpinan (Mala) lagi, karena pemimpin-pemimpin mereka terbunuh atau terluka.

Mala, sambung Al-Awlaki juga sebutan untuk sekelompok orang yang menentang para Ambiya, yang menentang Islam. Kelompok itu terdiri dari orang-orang yang mengambil keuntungan dari status quo dan menolak adanya perubahan sehingga mereka menentang dakwah para Ambiya yang memang ingin melucuti kekuasaan mereka dan menggantikannya dengan dengan kepemimpinan yang sesuai ajaran al-Quran, yaitu konsep kekhalifahan.

Dalam konsep kekhalifahan, semua warga negara adalah sama dan khalifah yang dipilih diantara mereka, adalah khalifah yang hanya dipilih untuk menenggakan hukum-hukum Allah swt dan bukan hukum atas kepentingan pribadi orang yang bersangkutan. Itulah sebabnya, seorang khalifah disebut Mas’uul yang artinya seseorang yang akan dimintai pertanggungjawabannya di Hari Kiamat. Mengingat tanggung jawab yang sangat besar, menjadi khalifah bukan posisi yang diminati banyak orang, kecuali mereka yang memiliki kualitas yang nyaris sempurna sebagai seorang Muslim dalam menegakkan hukum-hukum Allah swt.

Karena tanggung jawab yang besar sebagai khalifah, seorang Umar bin Khattab pernah mengatakan, “Saya tidak ingin dua anggota keluarga saya memegang posisi itu pada Hari Pengadilan nanti.”

Yaum al-Bu’ath adalah persiapan ketika tidak ada lagi kepemimpinan. Itulah sebabnya ketika kaum Ansor berhaji ke Makkah dan mereka mendengar tentang sosok Rasulullah Muhammad saw, kaum Ansor mengatakan, “Ayo kita bawa laki-laki ini ke kampong halaman kita dan semoga Allah menyatukan kita semua melalui laki-laki ini.”

“Mereka (kaum Ansor) kehilangan arah, kehilangan sosok pemimpin. Subhanallah, manusia tanpa sosok pemimpin tidak akan bisa bertahan. Manusia butuh seorang pemimpin dalam kondisi baik dan buruk. Dalam kubu kebaikan ada kepemimpinan, begitu juga kubu syaitan. Sudah menjadi sifat alamiah manusia, mereka butuh seseorang sebagai penunjuk jalan,” tulis al-Awlaki.

Kemenangan Pasukan Islam Menaklukan Persia

Contoh lainnya yang membuktikan bahwa Allah swt telah menyiapkan kemenangan bagi kaum Muslimin adalah ketika Umar bin Khattab mengirim pasukannya untuk melawan kekuatan imperium Persia. Pemimpin pasukan Muslim, Abu ‘Ubaida ath-Thaqafi adalah sosok yang pemberani, namun harus menelan kekalahan dalam perang al-Jisr melawan pasukan Persia. Setengah dari pasukan Muslim terbunuh dalam perang tersebut. Sementara pasukan Persia merayakan kemenangan mereka dan berpikir bahwa mereka bisa mengusir kaum Muslimin di wilayah-wilayah yang sebelumnya berhasil ditaklukkan pasukan Muslimin.

Tapi, dalam buku At-Tarikh al-Islami, penulisnya Mahmud Shaakir menyatakan, “Allah bersama orang-orang yang beriman.” Jika kaum Muslimin memenuhi syarat untuk menang, maka mereka akan meraih kemenangan itu, tanpa harus melihat apakah kaum Muslimin jumlahnya banyak atau sedikit, tanpa harus melihat apakah mereka punya senjata berupa bom nuklir atau tidak. Persoalannya bukan dari sisi jumlah atau kecanggihan senjata. Tapi persoalannya adalah apakah kaum Muslimin memiliki keimanan yang teguh. Sepanjang seorang Muslim memiliki keimanan yang tidak mudah goyah, Allah “Azza wa Jalla akan memberikan kemenangan bagi Muslim itu, seperti yang telah dijanjikan Allah swt dalam firmannya di surah Al-Hajj ayat 38, “Sesungguhnya Allah membela orang yang beriman.”

Keimanan yang kuat, itulah syarat dibutuhkan untuk mendapatkan pertolongan Allah swt. Ketika kaum Muslimin yang beriman tangguh berada dalam kesulitan, maka hanya Allah swt yang akan menolong mereka keluar dari kesulitan itu.

Lantas apa yang terjadi setelah kemenang pasukan Persia atas kaum Muslimin? Persia malah terlibat dalam pertempuran antara para pemimpinnya. Pasukan Persia terpecah menjadi dua kelompok yang saling bertikai. Jenderal Persia yang ditunjuk untuk menghadapi pasukan Muslim ditarik ke ibukota Persia untuk mengatasi pertikaian di dalam negeri Persia. Umat Islam yang menghadapi ancaman “pembersihan” secara permanen dari bangsa Persia, kini bebas dan kekhalifahan Islam punya cukup waktu untuk mengerahkan kembali pasukannya guna mengalahkan pasukan Persia. Peristiwa ini menjadi bukti, ketika situasinya nampak menjadi tidak menguntungkan bagi kaum Muslimin, pada saat itulah Allah swt membuka jalan bagi kemenangan kaum Muslimin.

Kemengan Kaum Muslimin dalam Perang Salib

Peristiwa lain yang tak kalah dashyatnya, yang menjadi momen kemenangan gemilang kaum Muslimin adalah peristiwa Perang Salib, dimana pasukan Islam saat itu berada di bawah komando Salahuddin Ayyubi.

Salahuddin menyatukan para amir di seluruh Tanah Suci dan memimpin perlawanan terhadap Pasukan Salib dari Roma yang menguasai seluruh pesisir pantai wilayah Palestina, termasuk kota Yerusalem dan kota-kota penting lainnya di Palestina, serta wilayah al-Sham (yang terdiri dari wilayah Yordania, Suriah,  dan Libanon).

Namun sebagian tokoh ulama Islam saat itu menilai keinginan Salahuddin untuk melawan penjajahan kaum Romawi di bumi Islam sebagai keinginan yang gila, mengingat kuatnya posisi kaum Romawi dengan dukungan negara-negara Eropa. Suara umat Islam pun terpecah antara yang mendukung dan tidak mendukung perjuangan Salahuddin.

Salahuddin tidak gentar, dengan bekal rasa tawakkal pada Allah swt ia tetap memimpin perlawanan dengan jumlah pengikut yang tidak sebanding jika dibandingkan dengan kekuatan pasukan Salib. Meski demikian, pasukan Salahuddin sedikit demi sedikit berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai pasukan Salib.

Puncak Perang Salib, adalah Perang Salib keempat ketika Paus memobilisasi kekuatan dari seluruh Eropa untuk melawan pasukan Muslim pimpinan Salahuddin. Tidak tanggung-tanggung, Raja dari Inggris, Prancis dan Jerman ditunjuk langsung untuk memimpin pasukannya masing-masing. Jika dijumlahkan, pasukan dari ketiga kerajaan itu sangat besar. Pasukan yang dipimpin Raja Frederick Barbarossa dari Jerman saja, diperkirakan berjumlah 300.000 orang. Saking besarnya jumlah pasukan, kapal-kapal perang tidak bisa mengangkut semua pasukan sehingga Eropa mengirim pasukannya ke Palestina dengan dua cara, pasukan Inggris dan Prancis dikirim lewat laut dan pasukan Jerman dikirim lewat darat.

Jumlah pasukan Salib yang besar, lagi-lagi membuat sebagian hari kaum Muslimin ciut dan merasa tidak yakin mampu mengalahkan pasukan Salib. Diantara mereka, bahkan ada yang mundur dari Jihad melawan pasukan Salib, dan ironisnya, diantara mereka yang mundur terdapat para ulama.

Tentang hal ini, Ibnu Athir mengatakan, “Mereka datang pada kami lewat darat dan laut. Beredar kabar di kalangan Muslimin bahwa Raja Jerman datang dengan kekuatan 300.000 pasukan dan mereka datang dari arah Utara. Sultan-sultan Muslim dan kaum Muslimin menjadi khawatir dan takut. Dari kalangan ulama banyak yang bersiap-siap untuk kembali berjihad ke al-Shaam, tapi banyak juga diantara ulama yang menarik diri karena takut mendengar jumlah pasukan Prancis yang sangat banyak.”

Dari sini bisa ditarik sebuah pelajaran penting bahwa ulama bukanlah sosok yang sempurna, mereka bukan Ambiya. Sebab itu, jika ada Muslim yang secara buta menjadi pengikut seoran ulama, tidak ada jaminan bahwa para ulama itu akan membawa pengikutnya ke jalan yang benar.

Apalagi di zaman seperti sekarang ini, posisi seorang ulama tidak lagi ditentukan oleh standar ilmu yang harus mereka miliki tapi ditentukan seberapa sering ulama bersangkutan tampil di televise sehingga membuat ulama bersangkutan terkenal layaknya seorang selebritis.

Dahulu, kata al-Awlaki, seseorang baru bisa disebut alim ulama jika sudah mendapatkan pengakuan dari ulama yang menjadi guru orang yang bersangkutan. Berbeda dengan zaman sekarang, dimana seseorang bisa tiba-tiba menjadi alim ulama karena ditunjuk sebagai alim ulama oleh pemerintah, dan ia menjadi terkenal karena sering tampil di berbagai stasiun televise, radio dan tampil berbagai acara, meski keilmuannya tentang agama Islam masih belum memenuhi standar.

Kembali ke peristiwa Perang Salib, Ibnu Athir menyebut para ulama yang lari dari jihad melawan pasukan Salib sebagai ulama pengecut, ulama yang menggunakan dalil-dalil agama untuk mencari pembenaran atas sikap pengecutnya, ulama yang memutarbalikkan ayat-ayat Allah dan hadis seolah-olah ayat-ayat dan hadist itu adalah hukum Islam yang sebenarnya. Padahal jihad itu adalah ujian Allah ‘Azza wa Jalla bukan hanya bagi para ulama dan Salahuddin tapi juga ujian bagi umat Islam.

Seperti Allah menguji Nabi Musa dan Bani Israel saat terhalang Laut Merah ketika menghindari kejaran Firaun. Ada sebagian Bani Israel yang menuding Nabi Musa telah berbohong dan tidak mampu menyelamatkan mereka dari kejaran Firaun. Namun Allah swt membuktikan pertolongannya dengan memerintahkan Nabi Musa agar memukulkan tongkatnya ke air lau, sehingga terbelahkan Laut Merah yang menjadi jalan bagi Nabi Musa dan pengikutnya untuk menyelamatkan diri dari Firaun.

Kondisi yang hampir sama dialami pasukan Raja Frederick Barbarossa. Ada beberapa versi yang menceritakan tentang nasib pasukan itu, salah satunya menyebutkan bahwa pasukan Barbarossa dihadang sungai yang airnya sangat amat dingin. Raja Barbarossa yang saat itu berusia sekitar 70 tahun, dengan mengenakan pakaian perang, diceritakan menyeberangi sungai tapi jatuh dari kudanya ke dalam air sungai yang dingin itu. Raja yang memimpin ratusan ribu pasukan itu terkena serangan jantung dan tewas. Padahal menurut riwayat Ibnu Athir kedalaman air sungai tidak sampai selutut Raja Jerman tersebut.

Setelah pimpinannya tewas, pasukan Jerman dikabarkan terserang berbagai penyakit sehingga pasukan Jerman itu mulai terpecah belah. Dari 300.000 pasukan, hanya seribu orang yang berhasil sampai ke wilayah ‘Akka.

Sebelum berangkat dengan pasukannya, Raja Barbarossa sempat mengirimkan surat pada Salahuddin yang dengan nada arogan mengatakan bahwa ia dan pasukannya akan mengusir pasukan Salahuddin dalam waktu satu tahun. Tapi apa yang terjadi? Pasukan Barbarossa bahkan sudah kalah sebelum bertempur. Sang pemimpin pasukan Salib yang arogan juga mati di tengah perjalanan. Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah mengizinkan pasukan Barbarossa menginjakkan kaki ke Tanah Suci. Inilah yang terjadi jika ada orang yang ingin memerangi agama Allah swt.

Ibnu Athir mengatakan, “Jika bukan karena kasih sayang Allah swt atas umat ini, dengan membunuh Raja Jerman, mungkin saat ini kita akan mengatakan bahwa Mesir dan Suriah dulunya adalah negeri Muslim.” Tapi Allah swt berkehendak memberikan kemenangan bagi umatnya, berapapun jumlah pasukan musuh saat itu. Dan untuk mendapatkan kemenangan itu, Allah swt menciptakan situasi guna menguji keimanan umatnya. (ln/anwar-alawlaki.com)

Disarikan dari tulisan Syaikh Anwar al-Awlaki. Imam Anwar al-Awlaki adalah seorang ulama kelahiran New Mexico. Orangtuanya berasal dari Yaman dimana ia tinggal selama sebelas tahun dan memperoleh bagian awal pendidikan Islamnya.

Imam Anwar al-Awlaki sempat menjadi Imam masjid di Colorado, California. Kemudian ia tinggal di kawasan Washington DC dimana ia memimpin Dar Al-Hijrah Islamic Center sambil menjadi Pemuka Agama Islam di George Washington University.

Imam Anwar al-Awlaki memiliki gelar S1 sebagai Insinyur Sipil dari Colorado State University, S2 di bidang Pendidikan Kepemimpinan dari San Diego State University serta sedang menekuni S3-nya di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia di George Washington University. Ia telah menghasilkan banyak seri audio popular termasuk “Kehidupan Para Nabi”, “Kehidupan Akhirat”, “Kehidupan Muhammad”, “Kehidupan Umar bin Khattab”, “kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq”, “Kisah Ibnul Awka”, “Konsisten di jalan Jihad” dan banyak lagi.

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.