tarbiyah


Kiranya sangat bermanfaat untuk disajikan di sini sedikit atau sebagian perkataan imam-imam mazhab yang EMPAT, dengan harapan, semoga di dalamnya terdapat pelajaran dan peringatan bagi orang yang mengikuti mereka, bahkan bagi orang yang mengikuti selain mereka yang lebih rendah darjatnya dari taqlid buta, dan bagi orang yang berpegang teguh kepada madzab-madzab dan perkataan-perkataan mereka, sebagaimana kalau madzab-madzab dan perkataan-perkataan itu turun dari langit.

Allah Subhanahu Wa Taala, berfirman: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)”. (QS. Al-Araf :3)

I. ABU HANIFAH
Yang pertama-tama di antara mereka adalah Imam Abu Hanifah An-Numan bin Tsabit. Para sahabatnya telah meriwayatkan banyak perkataan dan ungkapan darinya, yang semuanya melahirkan satu kesimpulan, iaitu kewajiban untuk berpegang teguh kepada hadith dan meninggalkan pendapat para imam yang bertentangan dengannya.

1. “Apabila hadits itu sahih, maka hadith itu adalah madzhabku.” (Ibnu Abidin di dalam Al-Hasyiyah 1/63)

2. “Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya”. (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Intiqau fi Fadha ilits Tsalatsatil Aimmatil FuqahaI, hal. 145)

3. Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku”.

4. Di dalam sebuah riwayat ditambahkan: “Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari”.

5. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah dan khabar Rasulullah salallahu alaihi Wa Sallam, maka tinggalkanlah perkataanku”. (Al-Fulani di dalam Al-Iqazh, hal. 50)

II. MALIK BIN ANAS
Imam Malik berkata:
1. “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan kitab dan sunnah, ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan sunnah, tinggalkanlah”. (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami, 2/32)

2. “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Salallhu Alaihi Wasallam”. (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)

3. Ibnu Wahab berkata, “Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang menyelang-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, “Tidak ada hal itu pada manusia. Dia berkata. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu, maka dia berkata: Apakah itu? Aku berkata: Al-Laits bin Saad dan Ibnu Lahiah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al-Maafiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadith kepada kami, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menunjukkan kepadaku dengan kelingkingnya apa yang ada diantara jari-jari kedua kakinya. Maka dia berkata, “Sesungguhnya hadith ini adalah Hasan, Aku mendengarnya hanya satu jam. Kemudian aku mendengarnya, setelah itu ditanya, lalu ia memerintahkan untuk menyelang-nyelangi jari-jari. (Mukaddimah Al-Jarhu wat Tadil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)

III. ASY-SYAFII
Adapun perkataan-perkataan yang diambil dari Imam Syafii di dalam hal ini lebih banyak dan lebih baik, dan para pengikutnya pun lebih banyak mengamalkannya. Di antaranya:
1. “Tidak ada seorangpun, kecuali dia harus bermadzab dengan Sunnah Rasulullah dan menyendiri dengannya. Walaupun aku mengucapkan satu ucapan dan mengasalkan kepada suatu asal di dalamnya dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang bertentangan dengan ucapanku. Maka peganglah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Inilah ucapanku.” (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir, 15/1/3)

2. “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya kerana untuk mengikuti perkataan seseorang.” (Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal. 68)

3. “Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah Salallahu alaihi Wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam, 3/47/1)

4. “Apabila Hadist itu Shahih, maka dia adalah madzhabku.” (An-Nawawi di dalam Al-Majmu, Asy-Syarani, 10/57)

5. “Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari padaku tentang hadisth dan orang-orangnya (Rijalu l-Hadits). Apabila hadith itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, akan bermadzhab dengannya.” ( Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy- SyafiI, 8/1)

6. “Setiap masalah yang didalamnya kabar dari Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam adalah shahih bagi ahli naqli dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati.” (Al-Harawi, 47/1)

7. “Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadith Nabi yang bertentangan dengannya shahih, maka ketahuilah, sesungguhnya akalku telah bermadzhab dengannya.” (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Muaddab)

8. “Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari nabi salallahu alaihi wa sallam terdapat hadith sahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadith nabi adalah lebih utama. Oleh kerana itu, janganlah kamu mengikutiku.” (Aibnu Asakir, 15/9/2)

IV. AHMAD BIN HAMBAL
Imam Ahmad adalah salah seorang imam yang paling banyak mengumpulkan sunnah dan paling berpegang teguh kepadanya. Sehingga ia membenci penulisan buku-buku yang memuat cabang-cabang (furu’) dan pendapat. Oleh karena itu ia berkata:

1. “Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafii, Auzai dan Tsauri, tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-Ilam, 2/302)

2. “Pendapat AuzaI, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan alasan hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar.” (Ibnul Abdl Barr di dalam Al-Jami, 2/149)

3. “Barang siapa yang menolak hadith Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran.” (Ibnul Jauzi, 182).

Allah berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An- Nisa:65),

dan firman-Nya: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cubaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur:63).

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Adalah menjadi kewajiban bagi setiap orang yang telah sampai kepadanya perintah Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Sallam dan mengetahuinya untuk menerangkannya kepada umat, menasihati mereka dan memerintahkan kepada mereka untuk mengikuti perintahnya. Dan apabila hal itu bertentangan dengan pendapat orang besar di antara umat, maka sesungguhnya perintah Rasulullah salallahu alaihi wa Sallam itu lebih berhak untuk disebarkan dan diikuti dibanding pendapat orang besar manapun yang telah bertentangan dengan perintahnya di dalam sebagian perkara secara salah. Dan dari sini, para sahabat dan orang-orang setelah mereka telah menolak setiap orang yang menentang sunnah yang sahih, dan barangkali mereka telah berlaku keras dalam penolakan ini. Namun demikian, mereka tidak membencinya, bahkan dia dicintai dan diagungkan di dalam hati mereka. Akan tetapi, Rasulullah Salallahu alaihi wa Sallam adalah lebih dicintai oleh mereka dan perintahnya melebihi setiap makhluk lainnya.

Oleh karena itu, apabila perintah rasul itu bertentangan dengan perintah selainnya, maka perintah rasul adalah lebih utama untuk didahulukan dan diikuti. Hal ini tidak dihalang-halangi oleh pengagungan terhadap orang yang bertentangan dengan perintahnya, walaupun orang itu mendapat ampunan. Orang yang bertentangan itu tidak membenci apabila perintahnya itu diingkari apabila memang ternyata perintah Rasulullah itu bertentangan dengannya. Bagaimana mungkin mereka akan membenci hal itu, sedangkan mereka telah memerintahkan kepada para pengikutnya, dan mereka telah mewajibkan mereka untuk meninggalkan perkataan-perkataan yang bertentangan dengan sunnah.”

* (Saduran daripada Mukaddimah Kitab Shifatu Shalatiin Nabii SAW, karya Al-Imam Al-Muhaddith Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullah)

`

Semoga ada manfaatnya buat diri penulis terutamanya, InsyaAllah…

Artikel daripada: http://opalotus99.blogspot.com/2008/12/perkataan-empat-4-imam-madzhab-dalam.html

PETUA KHUSYUK DLM SOLAT

zulaikha
Halaqah.net
Editor:PenaHalaqah

1. Sentiasa menghadirkan hati meyakini kebesaran dan kekuasaan Allah.

2. Menghadirkan hati mengakui tentang kelemahan kita sebagai hamba Allah yang sentiasa memerlukan pertolongan Allah.

3. Menghadirkan hati mengakui segala kemewahan dunia dan kesenangan adalah sementara.

4. Tidak tergesa-gesa dalam menunaikan solat kerana tergesa-gesa boleh membawa kepada luputnya beberapa perkara penting  untuk khusyuk.

5. Hendaklah menunaikan solat pada awal waktu dan secara berjemaah.

6. Pakaian yang digunakan dalam solat hendaklah bersih daripada najis. Begitu juga dengan sejadah. Ia hendaklah bersih dan tidak mempunyai gambar-gambar yang boleh melalaikan solat.

7. Dalam suasana yang aman tanpa suara bising daripada kanak-kanak mahupun menerusi televisyen atau radio.

8. Imam hendaklah seorang yang elok bacaannya kerana bacaan yang elok membantu menghadirkan hati. Imam itu pula tidak dibenci oleh ahli jemaah.

9. Bersihkan fikiran daripada masalah hidup dan tumpukan sepenuh perhatian kepada Allah.

10. Membuang air kecil dan air besar terlebih dahulu jika berasa perlu berbuat demikian. ini kerana orang yang solat dalam keadaan menahan buang air kecil dan buang air besar tidak akan memperoleh kekhusyukan.

11. Tidak berada dalam keadaan lapar atau terlalu kenyang kerana orang yang lapar hanya memikirkan untuk makan. Begitu juga dengan orang yang terlalu kenyang berada dalam keadaan tidak selesa dalam setiap pergerakannya.

12. Kesihatan tubuh badan hendaklah dijaga. Badan yang sakit sukar mendatangkan rasa khusyuk dalam solat.

13. Hati hendaklah hadir dalam solat, bukannya melayang tak tentu arah.

14. Memahami makna bacaan dalam solat.

Ala’ An-Nadee*

Islamonline

ImageFiqh perubahan yang dianut oleh Syaikh Ahmad Yaseen diyakini mampu menciptakan perubahan menyeluruh di lapangan. Keranaya, studi atas fiqh as-syahid menjadi penting dan asas bagi semua gerakan perubahan secara umum dan gerakan jihad secara khusus.

Statemen di atas tidaklah berlebihan atau hanya kecenderungan emosional simpatisme. Keberhasilan konsep perubahan Syaikh Asy-Syahid diakui oleh lawan-lawannya sebelum diakui oleh pendukungnya. Keberhasilan itu memberikan pengaruh kepada situasi Palestina dan bahkan melampaui batas teritorial Palestina ke dunia internasional.

Kesyahidan Syaikh Ahmad Yaseen yang menjadi peristiwa menarik perhatian setiap level politik menegaskan betapa dalam perubahan dan pengaruh sang maestro revolusi ini.

Tumbuhan di tengah badai

Di awal perjuangannya, Asy-Syahid berangkat dan membangun format persepsinya berdasarkan ilham (inspirasi) pemikiran Islam. Namun proses pembentukan ini tidaklah mudah. Beliau hidup ditengah situasi bergolak dan rumit. Semua upaya pasukan Arab untuk mengalahkan tentera Israel sudah berleluasa. Semua harapan yang digantungkan kepada sebagian gerakan Palestina sudah pupus setelah indikasi pengunduran sudah muncul.

Dalam situasi seperti inilah Syaikh Asy-Syahid memulai menformat pemahaman dan membangun projek perubahannya.

Beliau yakin bahwa nafas perubahan hanya ada akan tumbuh dari nafas budaya dan moral manusia. Budaya dan moral itulah yang selanjutkan akan menguasai manusia dalam segala bidangnya dan menjadi pengedali dari semua persepsinya. Pemahaman beliau inilah yang akhirnya menemukan ruang di masyarakatnya sehingga tercipta miliu melalui upaya dan kesungguhan berkesinambungan. Melalui pengembangan, menjauhi sikap reaksioner, dan tidak tergesah bersikap maka perubahahan itu menjadi kristal kuat yang tidak mungkin dihancurkan.

Apa yang disaksikan oleh Syaikh Asy-Syahid dalam kerja perjuangan berupa hambatan dan tantangan semakin meyakinkan kebenaran konsep perubahannya. Reaksioner dalam kerja tentera tanpa perhitungan dan persiapan dan mengandalkan kemampuan internal serta mengindar dari pendidikan masyarakat justru telah menjatuhkan banyak gerakan dalam “tawanan tarik ulur” bahkan tak sedikit yang saling beradu ‘tanduk’. Sebab mereka dikuasai oleh partai duniawi yang memiliki keterbatasan nilai, visi dan misi.

Menyiapkan masyarakat terlebih dulu

Kepemimpinan jamaah Ikhwanul Muslimin dipegang oleh Syaikh Asy-Syahid di Jalur Gaza dan Tepi Barat setelah tahun 1968 setelah Ismael Al-Khalidi keluar.

Sejak saat itu, persepsi pemikiran yang dibangun Syaikh mengalami fase perpindahan dari konsep menuju praktik penerapan. Gerakannya pun aktif memberikan tauiyah (penyadaran) kepada masyarakat. Syaikh tidak terburu-buru. Beliau sadar beban berat masyarakat Palestina dan gerakannya menghadapi musuh Israel yang didukung dunia luar.

Syaikh mendorong pengikutnya untuk menfokuskan kesungguhannya pada medan sosial. Projek perubahan difokuskan kepada landasan jihad tidak akan terbuka benuhnya dan berbuah selama realitas masyarakat belum disirami dengan makna dan nilai-nilai Islam, terutama nilai-nilai keterpautan dan solidaritas.

Syaikh saat itu belum siap meninggalkan konsep pemahaman perubahannya dengan tekanan peristiwa. Karenanya, beliau komitmen dengan falsafah perubahan yang dia yakini dan menolak semua upaya propaganda yang mendorong gerakannya kepada konfrontasi yang belum waktunya.

Manusia dan membentuk masyarakat berdasarkan nilai-nilai Islam adalah dua fokus yang menjadi landasan proyek perubahannya.

Masyarakat Islami ….titik tolak dan benih perubahan

Benih perubahan pertama dalam proyek perubahan Asy-Syahid Syaikh direpresentasikan dalam pembentukan Mujamma’ Islami di Gaza tahun 1973. Mujamma’ telah membumikan makna-makna pemahanan perubahan Syaikh. Mujamma’ ini terdiri dari Masjid Iqtida yang dijadikan sebagai eksperimen pertama dalam unsur perubahan. Sebab masjid dijadikan tempat pendidikan untuk membentuk kepribadian muslim.

Di samping masjid itu terbentuk lembaga pendidikan anak-anak, sekolah Islam, dan gedung penyelenggaraan acara-acara tertentu. Di sana digelar berbagai macam acara dari berbagai sektor dakwah dan ekonomi. Syaikh semakin bahwa akar perubahan tidak akan tumbuh kecuali secara sosial. Sebab proyek perubahan itu harus melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Terburu-buru dan tudingan

Syaikh konsisten dengan politik “menahan nafas panjang”. Dengan kesabaran dan keuletannya, landasan masyarakat yang meyakini proyek perubahan semakin menemukan ritme untuk meluas dan mengakar. Muncullah suara-suara agar segera mengefektifkan gerakan perubahan ke ladang jihad melalui methode militer. Dari dalam tubuh gerakannya muncul suara itu meski terbatas. Dari luar gerakannya muncul tuduhan bahwa gerakannya mengesampingkan kewajiban jihad bahkan dituduh berpihak kepada Israel. Tudingan dan propaganda ini tidak melemahkan Asy-Syahid dalam meneruskan perjuangannya. Sejak awal beliau sadar bahwa perjuangan jihad dengan Israel adalah pilihan satu-satunya dalam proyek perubahan ini.

Namun beliau ingin proyek perubahan dan perjuangan jihad yang merupakan puncaknya dibangun di atas landasan kokoh di bumi, dahannya harus lebih kokoh dari rantingnya sehingga tidak mudah rapuh.

Kelahiran itu

Ketika Syaikh sudah nyaman berdiri di atas realitas masyarakat yang diwarnai oleh nilai Islam, bersama murid-muridnya mendirikan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mendirikan di akhir tahun 1987. Namun dengan pembentukan gerakan ini, Syaikh tidak mundur dari perubahan masyarakat. Justru masyarakat itulah yang mendasari gerakan jihad. Beliau membuka gerakannya untuk setiap unsur Islam. Beliau membuka kaidah dialog dan partisipasi. Pengumuman pendirian Hamas disusul dengan Intifadlah I atau yang dikenal dengan “Intifadlah dengan batu”.

Sejak awal gerakan Hamas menyatakan bahwa proyek pembebasan Palestina tidak mungkin kecuali dengan pilihan satu-satunya melalui gerbang jihad, membudayakan pengorbanan dan gugur syahid. Pertumbuhan gagasan ini pun sangat drastis. Banyak pihak yang menilai bahwa gerakan ini hanya berjuang sejak 1987 dimana ia dilahirkan. Namun selama bertahun-tahun mereka sudah melakukan perjuangan perubahan budaya dan pemikiran sebelum dilahirkan.

Dengan Intifadlah I dan II gerakan Hamas mampu tegar menghadapi tantangan tersulit. Gerakan yang berjalan sesuai dengan manhaj Syaikh tidak pernah gentar dengan ancaman pembunuhan para pemimpinnya dan kadernya. Sebab pelajaran pertama yang ditanamkan Syaikh Asy-Syaikh adalah “ketergantungan hanya kepada nilai dan ajaran tertinggi”, “kesetian kepada pribadi harus diukur sejauh mana kesetiaan pribadi itu kepada jalan Islam. Kesetian itu akan menemukan bukti pembenarannya dengan kesinambungan perjuangan dan tidak merendah di hadapan badai.

Jika gerakan Hamas sudah menyerap konsep perubahan Syaikh Ahmad Yaseen, maka landasan perubahan masyarakat tidak akan pernah berhenti. Jihad pun menjadi tuntutan sosial dan menyebarlah budaya mati syahid.

Inspirasi dan pelajaran

Musuh Israel mengira pembunuhan Syaikh Ahmad Yaseen akan menghancurkan semangat rakyat Palestina untuk melawan. Israel berjanji menemukan kemenangan setelah membunuh Syaikh Yasin. Realitas akan membuktikan – dengan daya dan kekuatan Allah – persangkaan Israel hanya khayalan. Pohon perubahan yang ditanam Syaikh Yaseen dan disirami dengan darah dan keringatnya di Palestina tidak akan bisa dicabut oleh kekuatan manapun.

Syaikh Asy-Syahid berpulang setelah membuktikan kebenaran janjinya kepada Allah. Beliau meninggal dunia dengan cara yang sesuai dengan pribadinya.

Di antara tanda-tanda kesetiaan beliau ketika anak-anak bangsa ini berusaha menjaga dan merawat warisan Syaikh Asy-Syahid.

Banyak dari anak bangsa Arab ini mengusung konsep perubahan yang diambil dari tokoh dan sosok yang bukan dari akar kita (Arab), tentu tak ada aib untuk mengambil yang bermanfaat dari orang lain. Namun yang aib adalah melupakan jasa dan pemikiran orang-orang besar seperti Syaikh Yaseen yang sulit dilupakan oleh ingatan manusia. (bn-bsyr)

*Wartawan dan peneliti Mesir

Contoh-contoh ini telah dibentangkan oleh Dr Layth Su’ud Jasim di dalam bukunya Khidmat Masyarakat, Peranan Wanita di Zaman Rasulullah s.a.w.,

Rasulullah s.a.w. meninggalkan kepada kita suatu manhaj dan sumbernya yang terpelihara. Ia menjadi asas pembinaan tamadun Islam yang menjadi agama penutup kepada agama-agama langit terdahulu. Tamadun ini mengadaptasi tabiat manhaj rabbaniy tersebut. Iaitu suatu manhaj yang sifatnya sentiasa menyumbang dan memenuhi keperluan manusia sehingga hari kiamat.

Menerusi hakikat inilah kaum wanita menjalankan aktivitinya dalam kehidupan masyarakat Islam. Ia bertindak sebagai satu komponen penting dalam sistem dan tamadun Islam. Kaum wanita turut menyertai anggota masyarakat lain dalam memperkayakan sudut-sudut amali bagi tamadun yang hebat ini. Penyertaan kaum wanita berlaku dalam paksi-paksi berikut:

Paksi Pertama : Menubuhkan dan Mengaktifkan Institusi Khidmat Kemasyarakatan
Paksi Kedua : Pembiayaan Program Institusi Kemasyarakatan

Paksi Pertama : Menubuhkan dan Mengaktifkan Institusi Khidmat Kemasyarakatan

i. Penubuhan Badan Kebajikan (Suffah Wanita)

Orang pertama yang mengeluarkan idea ini ialah Asma’ binti Yazid bin al-Sakan al-Ansariyyah. Beliau pernah menjadi wakil bagi kaum wanita menemui Rasulullah s.a.w. bagi bertanyakan tentang kewajipan wanita dalam masyarakat dan peranan mereka dalam kerja-kerja kemasyarakatan. Ini dapat difahami daripada kata-kata beliau: “Aku adalah utusan kepada seluruh kumpulan kaum wanita yang berada di belakangku. Mereka semua sependapat denganku.” Rasulullah s.a.w. memuji beliau kerana kepintaran dan keprihatinannya terhadap agama. Semua ini menunjukkan kaum wanita dibenarkan berpersatuan sendiri dan mengeluarkan pendapat dalam permasalahan-permasalahan penting, terutama yang bersangkutan dengan kaum wanita, kepentingan agama dan kepentingan dakwah.

Antara aktiviti yang mereka jalankan:
a. Menuntut ilmu
b. Aktiviti Pekerjaan
c. Aktiviti memelihara alam sekitar
d. Mengadakan Perayaan, Sambutan, Bernasyid dan Menyanyi
e. Menghadiri Perhimpunan Tergempar dan Penting

ii. Membina Rumah Tamu dan Membiayainya

Antara wanita yang memberikan sumbangan dalam pembinaan rumah tetamu dan mengeluarkan biaya terhadap tetamu negara Islam ialah Ramlah binti al-Harith bin Tha’labah yang dikenali dengan Umm Thabit. Rumah beliau mempunyai ruang yang besar dan dikelilingi dengan taman luas yang dipenuhi pohon tamar. Rasulullah s.a.w. pernah mengurung Bani Quraizah yang berjumlah 400 orang atau lebih menurut sesetengah riwayat di dalam rumah tersebut.

Delegasi-delegasi yang pernah menghuni rumah tersebut antara lain:
- Delegasi Salman yang terdiri daripada tujuh orang
- Delegasi Bani Kilab yang berjumlah 13 orang
- Delegasi Bani Murrah yang terdiri daripada 13 orang
- Delegasi Bani Fuzarah
- Delegasi Bani ‘Abd Qays
- Delegasi Bani Tamim
- Delegasi Bani Hanifah
Kesemua delegasi tersebut menjadi tetamu di rumah itu pada masa yang sama.

Paksi Kedua : Pembiayaan Program/Projek Institusi Kemasyarakatan

Allah s.w.t. menyifatkan harta sebagai paksi serta asas kehidupan masyarakat Islam. Lantaran itu Islam meletakkan antara matlamat syara’ ialah memelihara harta. Islam juga memperundangkan hukum-hukum tertentu berkaitan dengan pemeliharaan harta seperti zakat,sedekah, wasiat, waqaf dan sebagainya.

Perundangan ini tidak khusus kepada lelaki sahaja, malah turut melibatkan kaum wanita. Terlalu banyak contoh-contoh yang terkandung di dalam sirah mengenai keterlibatan wanita secara langsung di dalam memberi sumbangan material sama ada zakat, sedekah, hadiah pembebasan hamba dan lain-lain.

Institusi Khidmat Kesihatan

Dr. Lyth juga menyebutkan bahawa institusi khidmat kesihatan merupakan salah satu institusi yang berkaitan dengan masjid. Dan para sejarawan dalam bidang perubatan menganggap khemah yang didirikan oleh Rufaydah binti Ka’ab al-Aslamiyyah merupakan hospital pertama dalam Islam. Beliau mempunyai ilmu tentang perubatan dan mewakafkan dirinya untuk membantu umat Islam yang memerlukan. Ketika Sa’ad bin Mu’az r.a cedera dalam satu peperangan, Rasulullah s.a.w. membina khemah untuknya di kawasan masjid bagi memudahkan baginda sentiasa melawatnya. Semua ini membawa banyak manfaat dari aspek perundangan dan kemajuan:

1. Wanita dibolehkan mempelajari ilmu perubatan. Bahkan kadangkala hukumnya menjadi wajib dalam keadaan tertentu.
2. Keperluan untuk membina hospital-hospital atau pusat-pusat perubatan di masjid atau di kawasan sekitarnya.
3. Wanita dibolehkan bekerja di dalam sebarang bidang pengkhususan yang membawa manfaat kepada masyarakat.
4. Doktor wanita boleh mengubati pesakit lelaki sekiranya tidak wujud doctor lain atau mana-mana pakar yang lain.
5. Wanita dibolehkan mendalami ilmu kejururawatan. Contohnya Ku’aibah yang membantu saudaranya Rufaydah.
6. Doktor Muslimah atau pembantunya wajib memakai pakaian yang menutup aurat. Ia tidak bertentangan dengan tugas yang diberi.
7. Perlunya mengambil berat terhadap ketua turus tentera dengan diberikan perhatian khusus terhadapnya. Contohnya Sa’ad bin Mu’az.
8. Mengganjari doctor wanita yang cemerlang dan pakar. Rasulullah s.a.w. memberikan sejumlah harta rampasan perang Khaybar kepada Rufaydah sebagaimana ia diberikan kepada kaum lelaki.
9. Orang-orang Islam begitu maju dalam penubuhan hospital-hospital yang merangkumi pelbagai pengkhususan.

Medan Aktiviti Wanita Kini

Dari apa yang dibentangkan di atas, jelas kepada kita bagaimana wanita berperanan memberikan saham kepada masyarakat menerusi institusi dan aktivitinya tanpa merosakkan nilai dan etika yang ditetapkan syarak. Ia telah dikembangkan menerusi pelbagai usaha dalam ruang lingkup yang seimbang dan difahami dengan sebaiknya oleh wanita Islam. Mereka memberikan komitmen sebagaimana komitmen mereka terhadap amal ibadat yang lain.

Wanita hari ini mengikut segala pemikiran dan perilaku yang diimport sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga akhirnya membawa kepada pelanggaran batas serta sempadan yang telah digariskan Allah dan Rasul.

Lantaran itu wanita Islam memerlukan badan atau institusi kemasyarakatan yang berkaitan dengan aspek-aspek kewanitaan. Melaluinya tenaga mereka dapat disalurkan kepada masyarakat secara tersusun menurut konsep Islam.

Saling bertukar pengaman kejayaan di kalangan institusi-institusi wanita Islam juga merupakan satu perkara yang amat diperlukan. Begitu juga tolong menolong secara berterusan bagi memberikan galakan kepada institusi yang baru muncul meneruskan khidmat baktinya.

Monday, 19 November 2007

Image

Apa pun status kewajipan berdakwah, mukmin mestilah melakukannya, kerana jika benar ia fardu `ain dan kita tidak melakukannya kita akan berdosa, jika kita melakukannya kita telah melangsaikan kewajipan di samping mendapat ganjaran. Kalau benar ia fardu kifayah dan kita melakukannya kita akan mendapat pahala. Dalam semua keadaan melakukannya adalah laba. Dalam keadaan tertentu tidak melakukannya mungkin akan mendapat dosa.

Timbul pula persoalan samaada ada perbezaan hukum di antara lelaki dan wanita dalam berdakwah. Apakah ianya hanya wajib kepada lelaki sahaja dan tidak perempuan? Berdasarkan hakikat yang boleh dikutip daripada al-?Quran surat at-Taubah ayat 71;

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dapat dilihat kesepaduan kerjasama antara lelaki dan wanita dalam melakukan amal dakwah ke arah Islam dan pengukuhan hukum-hukumnya.

Penjelasan di atas menunjukkan bahawa tidak syak lagi wanita Islam mempunyai peranan istimewa dan amat penting dalam melaksanakan amal dakwah bagi melengkapkan peranan kaum lelaki. Bahkan dalam sesetengah keadaan peranan mereka lebih penting, malah mengatasi peranan lelaki, terutama dalam bidang yang didominasi oleh kaum wanita. Ini kerana kaum wanita mempunyai beberapa keistimewaan tersendiri dari sudut kesediaan, kemampuan, sifat-sifat keperibadian, kejiwaan dan perasaan yang berbeza daripada kaum lelaki.

Jelas bahawa kewajipan dakwah sama sahaja antara lelaki dan wanita. Semua hujah yang mewajibkan dakwah terpakai ke atas wanita. Semua hujah wajib amal jama`ie terpakai ke atas wanita. Kewajipan wala’ `ammah dan khassah juga wajib ke atas wanita. Hakikat masa kini menunjukkan bahawa penglibatan wanita dalam dakwah dan kerja-kerja kemasyarakatan amat penting, kerana wanita adalah salah satu dari sumber kekuatan Islam. Tidak menggunakan kekuatan ini adalah satu pembaziran ke atas kekuatan yang ada. Selain dari itu masuk Islam menggunakan wanita dalam usaha menentang Islam, malah melihat wanita sebagai pintu masuk paling penting dalam usaha merosakkan Islam, oleh itu kaum wanita mesti disedarkan. Dalam hubungan ini wanitalah yang paling sesuai menyedarkan wanita.

Masyarakat Islam terawal memberikan contoh yang praktikal mengenai peranan wanita di dalam dakwah. Ummu ‘Atiyyah al-Ansariyyah umpamanya menjadikan rumahnya tempat tumpuan kaum lelaki di dalam menimba ilmu. Beliau begitu terkenal kerana keaktifannya di dalam memberi nasihat dan menyampaikan ajaran Islam di kalangan pelbagai qabilah pada zaman Nabi s.a.w. Baliau pernah diseksa dan dipenjarakan. Namun semangatnya tidak patah.

Menurut Zainab al-Ghazali di dalam bukunya yang berjudul Ila Ibnati, keadaan umat masa kini sangat memerlukan kaum wanita memainkan peranan yang aktif di dalam dakwah. Ini disebabkan penjajah Barat mengeksploitasi wanita di dalam menabur benih-benih kejahatan dan keruntuhan nilai-nilai akhlak dan kemanusiaan. Wanita Islam yang lemah pegangan agamanya serta cetek ilmunya akan terus menjadi alat propaganda syaitan di dalam melariskan kemungkaran yang ditajanya melalui media massa, sama ada media cetak mahupun media elektronik.

Menurut penelitian beliau, wanita adalah orang yang paling layak diketengahkan untuk menjalankan operasi dakwah di kalangan kaum sejenis mereka. Mereka lebih memahami tabiat, kedudukan dan permasalahan yang dihadapi kaum sejenis mereka. Dengan itu mereka lebih berupaya menembusi hati-hati mad’u dengan pendekatan yang bersesuaian serta lebih serasi dengan fitrah mereka.

Dengan penegasan oleh nas syarak mengenai kewajipan dakwah yang tidak membatasi gencer , pengamalan wanita di awal Islam, kenyataan dan amalan wanita Islam kini tiada lagi alasan bagi wanita untuk tidak terlibat dalam kerja-kerja dakwah. Alasan untuk memfokuskan usaha mendidik anak di rumah tidak boleh lagi dijadikan hujah untuk tidak terlibat dalam kegiatan dakwah di luar rumah. Dalam hubungan yang sama amatlah songsang jika ada wanita yang tidak sedia terlibat dalam kegiatan dakwah di luar rumah dengan berbagai hujah syar`ie sedangkan dalam masa yang sama mereka bekerja di luar rumah dengan menjawat jawatan-jawatan kerajaan.

ZAMAN SEKOLAH
1.    Saya kecil lagi, tak perlu dakwah pun tak apa. Dah besar nanti insyaallah.

2.    Sibuklah dengan tuisyen, kerja rumah, nak ‘exam’, ko-kurikulum, sukan…

3.    ‘Parents i’ tak bagi le…

4.    Aku takut nanti ganggu akademik.

5.    Dah masuk ‘u’ nanti ok le ‘join’ dakwah, fikiran pun dah matang sikit.

ZAMAN UNIVERSITI/ KOLEJ
1.    ‘You’ faham-faham jelah, masuk ‘u’ ni bukan macam sekolah. ‘Study’ buku tebal-tebal, ‘assignment’ berlambak…nantilah lapang-lapang sikit.

2.    Dah habis belajar nanti aku memang niat nak aktif dalam dakwah. Engkau jangan risaulah. Sekarang tumpu akademik dulu. Takut nanti dakwah entah ke mana, akademik entah ke mana.

3.    Aku tengah ‘tension’ la… awek/ balak aku buat hal pulak…!

ZAMAN HABIS BELAJAR
1.    Nantilah… dapat kerja dulu. Dah ada kerja nanti, dah stabil, ‘ok’ le ‘join’ dakwah. Ni diri sendiri pun tak lepas lagi.

2.    Ada kenderaan baru senang nak bergerak, ye tak? Tunggu le aku ada motor nanti.

3.    Mak bapak aku tengah bising tu. Diorang dah naik muak tengok aku asyik menganggur je. Kalau aku ‘join’ dakwah, lagi teruk le kena hentam.

4.    Letih belajar pun tak habis lagi. Bagilah peluang aku rehat kejap. Dari kecil asyik ‘study study study’, dah ‘grad’ ni ‘relax’ le kejap. Dakwah tu tak lari ke mana. Sampai masa nanti, engkau tengok le.

ZAMAN KERJA
1.    Sibuklah… tau aje la, keluar kerja pagi, balik dah nak malam. Letih giler. Dah balik tentu nak rehat. Aduhhh…

2.    Aku tengah pening kepala nak kumpul duit, nak kahwin ni. Nantilah aku dah ‘settle’ problem–problem aku…

3.    Dah kahwin mesti nak ada kereta. Aku tengah cari duit nak buat ‘down payment’ ni. Ada kereta esok senang nak bergerak. Hujan panas ‘no’ hal.

4.    Bergerak sorang-sorang ni tak berapa ‘best’. Aku cadang nak kahwin dulu. Dah ada pasangan nanti baru laju sikit nak gerak. Betul tak?

ZAMAN KAHWIN
1.    Engkau tahu aje la, dah masuk alam rumahtangga ni. Tanggungjawab bertambah, belanja bertambah. Nak sesuaikan diri dengan pasangan, dengan keluarga pasangan… kena ambil masa jugak. Hari cuti aje dah tentu kena balik rumah mak bapak aku ataupun rumah mak bapak dia. Adik-beradik dah bertambah. Kejap-kejap kenduri la, bertunang la, tahlil la, masuk rumah baru la. Semua nak kena pergi tu. ‘Sorry’ la kawan, aku betul-betul tengah ‘pack’ ni. Nantilah ye.

2.    Orang rumah aku masalah sikitlah. Kalau aku ikut program dakwah aje, dia mula muncung. Rumahtangga mestilah diutamakan, ye tak?

3.    Abang (suami) aku memang tak pernah terdedah dengan program-program dakwah ni. Jadi takkan aku nak keluar sedangkan dia asyik tarik muka aje.

4.    Aku cadang nak tarbiah isteri aku dulu. Pelan-pelanlah aku buka minda dia. Nanti dia pun dah ada minat, kami boleh bergerak sama-sama.

ZAMAN ANAK-ANAK MASIH KECIL
1.    Anak kecik, engkau faham-faham sajalah. Nak keluar rumah pun tak boleh. Sekarang kain baju, masak-memasak, kemas rumah, urus anak-anak semua aku buat. Memang aku tak boleh nak bagi masa untuk program agama la buat masa ni. Anak besar sikit nanti insyaallah la…

2.    Aku nak sambung belajar lagi le, kasi naik pangkat, tambah ‘income’. Baru boleh betul-betul stabil. ‘Time’ tu nanti isyaallah le aku boleh aktif. Nanti le habis sambung belajar dulu. Habis ‘master’, dapat PHD, barulah ada nama sikit. Nak dakwah pun senang, cakap kita orang dengar.

ZAMAN ANAK-ANAK BERSEKOLAH
1.    Nak dakwah macam mana, aku sembahyang pun tak ‘perfect’ lagi, tajwid pun berterabur. Aku ingat nak mengaji kat surau la bab-bab sembahyang, tajwid. Dah boleh baca Quran nanti baru le sedap nak ‘join’ program. Takkan terus-terus nak ikut program, nak dakwah, kalau yang ‘basic’ pun tak lepas lagi, kan?

2.    Umur dah meningkat ni, macam-macam penyakit datang. Badan dah tak kuat macam dulu. Setakat manalah aku boleh ikut program, setakat manalah aku nak berdakwah. Kalau kuat macam muda-muda dulu lain le. Nantilah… pelan-pelannn…

3.    Tak ada masa langsung. Hantar anak-anak ke ‘nursery’, ke sekolah, petang ke sekolah agama, malam tuisyen, hari cuti bawa diorang jalan-jalan, rehat-rehat…tentu nak rekreasi jugak kan?

4. Nak ‘online’ internet? Nak ‘update’ blog? Nak sertai forum? Dua minggu sekali ada le aku online. Blog? Forum? Hmmm…

ZAMAN ANAK-ANAK LEPAS SEKOLAH/ ZAMAN PENCEN
1.    Aku tengah sibuk belajar dan menghafal pasal haji ni. Cadang lagi tiga tahun nak pergi tapi nak kena belajar dari sekarang le. Engkau tahu aje la aku ni bab agama tau yang ‘basic-basic’ je. Rugi la kalau haji ni tak buat elok-elok. Nantilah.

2.    30 tahun kerja siang malam, sekarang baru dapat peluang nak rehat, nak tumpu pada ibadah, nak mengaji di masjid-masjid, nak ziarah anak cucu, nak lawat saudara-mara, nak jaga rumah… Bagilah aku rehat kejap setahun dua, nak ‘cover’ balik yang 30 tahun tu. Sementara hidup ni, nak juga merasa, ye tak?

3.    Tak tahulah. Sekarang asyik bergantung dengan ubat je aku ni. Berjalan jauh sikit penat. Kerja lebih sikit darah naik.

4.    Aku bukan tak mahu, dari zaman sekolah lagi aku memang minat, cuma belum ada rezeki aje nak teruskan kerja-kerja Rasulullah ni. Kerja Tuhan jugak yang tak tentukan jalan hidup aku macam ni, nak buat macam mana.

5.    Anak-anak aku tu… diorang kalau boleh nak tengok aku berehat aje di rumah, tak payah fikir apa-apa, tenangkan fikiran, tumpu pada sembahyang, mengaji… Betul jugak, esok kalau aku sakit ke apa ke, diorang jugak yang susah. Aku malas le nak bertekak dengan diorang.

ZAMAN DALAM KUBUR
1.    Aduh… hafazan aku sikit! ‘Waddhuha’ ke bawah pun tajwid berterabur. Dulu masa sekolah aku main bola dua jam sehari. Kalaulah aku ambil 10 minit sehari daripada masa main bola tu untuk hafazan, seminggu sudah 70 minit. Sebulan? Setahun? Aduh, menyesalnye!

2.    Arg, kawan-kawan aku yang ‘beragama’ boleh dibilang dengan jari! Kalaulah masa di ‘u’ dulu aku aktif, tentu dapat banyak kenalan dan banyak ilmu dan banyak pewaris dakwah melalui tangan aku. Apa yang mereka buat semuanya saham pahala untuk aku tu. Ruginya aku….

3.    Ya Allah, isteri, anak-anak dan cucu-cucu aku ditinggalkan tanpa sempat aku mentarbiah agama mereka. Sekarang mereka jauh dari agama sebab aku tak contohkan diri aku dulu. Semua salah-silap mereka aku nak kena jawab tu. Tapi aku nak buat majlis tarbiah di rumah macam mana sedangkan aku sendiri tak ada ilmu. Padan muka aku!

4.    Kawan yang ajak aku ke program-program agama dulu, bertuahnya mereka. Keluarganya jadi orang-orang soleh. Anak buahnya dalam dakwah banyak. Saham pahala daripada usaha anak-anak buahnya berterusan mengalir. Ilmu dan amalnya banyak. Iman dan pemahamannya tinggi. Ilmunya dimanfaatkan banyak orang. Aku?

5.    Kalau Tuhan tanya nama artis, nama bintang sukan, nama pimpinan dunia… ratusan orang aku ingat. Tapi kalau Tuhan tanya nama ulama, nama kitab… habis aku!

6.    Bahasa Inggeris aku macam air. Bahasa syurga?

7.    Teman-teman aku sudah kenal Tuhan, mereka menyembah Tuhan yang Esa. Aku? Rasa-rasanya masih sembah Tuhan yang bercampur dengan makhluk. Af’alnya aku tak pandai nak Esakan, Asma’nya aku tak tahu nak Esakan,Sifat dan Zatnya pun sama. Oh Tuhan, syirikkah aku? Apakah aku menyekutukan Engkau selama hari ini?

Aku menyesallllll………!!!

Abu Zulfiqar ‘Alexanderwathern’

3 NOVEMBER 2008

http://myalexanderwathern.freephpnuke.org/gate.html?name=News&file=article&sid=435&mode=&order=0&thold=0

Menurut Al-Awalaki, cepat atau lambat Allah swt akan memberikan kemenangan bagi umat Islam, dan untuk meraih kemenangan itu Allah swt menciptakan kondisi tertentu sebagai ujian bagi keimanan kaum Muslimin. Oleh sebab itu, Al-Awlaki dalam dakwahnya menyerukan umat Islam untuk tidak takut dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi berbagai tantangan zaman dan tantangan dari musuh-musuh Islam.

Sejarah Islam mencatat kemenangan gemilang kaum Muslimin di masa lalu dalam berbagai kondisi dimana ketika sebagain kaum Muslimin merasa pesimis akan menang. Semuanya itu, menurut Syaikh Anwar Al-Awlaki, seorang da’i warga negara AS keturunan Yaman, tidak terjadi begitu saja tapi karena Allah ‘Azza wa Jalla memang mempersiapkan kemenangan bagi kaum Muslimin.

Menurut Al-Awalaki, cepat atau lambat Allah swt akan memberikan kemenangan bagi umat Islam, dan untuk meraih kemenangan itu Allah swt menciptakan kondisi tertentu sebagai ujian bagi keimanan kaum Muslimin. Oleh sebab itu, Al-Awlaki dalam dakwahnya menyerukan umat Islam untuk tidak takut dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi berbagai tantangan zaman dan tantangan dari musuh-musuh Islam.

Terkait hal ini, Al-Awlaki mengungkap sejumlah peristiwa-peristiwa besar yang dihadapi oleh kaum Muslimin yang membuktikan bahwa Allah swt menyiapkan sebuah kemenangan yang gemilang bagi kaum Muslimin yang beriman teguh dalam menghadapi berbagai cobaan, mulai dari masa dakwah Rasulullah sampai era Perang Salib.

Kemenangan Dakwah Rasulullah

Masa-masa awal dakwah Islam yang dilakukan Rasululah di kota Makkah, merupakan masa-masa terberat yang dihadapi Rasulullah Muhammad Saw. Tiga belas tahun Rasulullah berdakwah di Makkah, namun tetap mendapat perlawanan dari kaum kafir Makkah dan hanya sedikit yang mau memeluk agama Islam. Sehingga Rasulullah berinisiatif untuk memperluas dakwah sampai ke Ta’if , di negeri ini Rasulullah juga menerima perlawanan bahkan perlakuan yang kasar dari mereka yang menolak agama Islam yang dibawa Rasulullah.

Hingga datanglah masa yang disebut Bu’ath. Terkait Bu’ath Aisyah ra menyatakan, “Bu’ath adalah sebuah hari dimana Allah ‘Azza wa Jalla memberikannya sebagai hadiah bagi Muhammad saw.”

Hari Bu’ath, kata Al-Awlaki, adalah hari ketika dua kelompok suku saling berperang di Madinah dan para pemimpin kedua kelompok suku itu saling bunuh, sehingga ketika Rasulullah mendatangi mereka, kedua kelompok suku yang saling berperang itu tidak memiliki kepemimpinan (Mala) lagi, karena pemimpin-pemimpin mereka terbunuh atau terluka.

Mala, sambung Al-Awlaki juga sebutan untuk sekelompok orang yang menentang para Ambiya, yang menentang Islam. Kelompok itu terdiri dari orang-orang yang mengambil keuntungan dari status quo dan menolak adanya perubahan sehingga mereka menentang dakwah para Ambiya yang memang ingin melucuti kekuasaan mereka dan menggantikannya dengan dengan kepemimpinan yang sesuai ajaran al-Quran, yaitu konsep kekhalifahan.

Dalam konsep kekhalifahan, semua warga negara adalah sama dan khalifah yang dipilih diantara mereka, adalah khalifah yang hanya dipilih untuk menenggakan hukum-hukum Allah swt dan bukan hukum atas kepentingan pribadi orang yang bersangkutan. Itulah sebabnya, seorang khalifah disebut Mas’uul yang artinya seseorang yang akan dimintai pertanggungjawabannya di Hari Kiamat. Mengingat tanggung jawab yang sangat besar, menjadi khalifah bukan posisi yang diminati banyak orang, kecuali mereka yang memiliki kualitas yang nyaris sempurna sebagai seorang Muslim dalam menegakkan hukum-hukum Allah swt.

Karena tanggung jawab yang besar sebagai khalifah, seorang Umar bin Khattab pernah mengatakan, “Saya tidak ingin dua anggota keluarga saya memegang posisi itu pada Hari Pengadilan nanti.”

Yaum al-Bu’ath adalah persiapan ketika tidak ada lagi kepemimpinan. Itulah sebabnya ketika kaum Ansor berhaji ke Makkah dan mereka mendengar tentang sosok Rasulullah Muhammad saw, kaum Ansor mengatakan, “Ayo kita bawa laki-laki ini ke kampong halaman kita dan semoga Allah menyatukan kita semua melalui laki-laki ini.”

“Mereka (kaum Ansor) kehilangan arah, kehilangan sosok pemimpin. Subhanallah, manusia tanpa sosok pemimpin tidak akan bisa bertahan. Manusia butuh seorang pemimpin dalam kondisi baik dan buruk. Dalam kubu kebaikan ada kepemimpinan, begitu juga kubu syaitan. Sudah menjadi sifat alamiah manusia, mereka butuh seseorang sebagai penunjuk jalan,” tulis al-Awlaki.

Kemenangan Pasukan Islam Menaklukan Persia

Contoh lainnya yang membuktikan bahwa Allah swt telah menyiapkan kemenangan bagi kaum Muslimin adalah ketika Umar bin Khattab mengirim pasukannya untuk melawan kekuatan imperium Persia. Pemimpin pasukan Muslim, Abu ‘Ubaida ath-Thaqafi adalah sosok yang pemberani, namun harus menelan kekalahan dalam perang al-Jisr melawan pasukan Persia. Setengah dari pasukan Muslim terbunuh dalam perang tersebut. Sementara pasukan Persia merayakan kemenangan mereka dan berpikir bahwa mereka bisa mengusir kaum Muslimin di wilayah-wilayah yang sebelumnya berhasil ditaklukkan pasukan Muslimin.

Tapi, dalam buku At-Tarikh al-Islami, penulisnya Mahmud Shaakir menyatakan, “Allah bersama orang-orang yang beriman.” Jika kaum Muslimin memenuhi syarat untuk menang, maka mereka akan meraih kemenangan itu, tanpa harus melihat apakah kaum Muslimin jumlahnya banyak atau sedikit, tanpa harus melihat apakah mereka punya senjata berupa bom nuklir atau tidak. Persoalannya bukan dari sisi jumlah atau kecanggihan senjata. Tapi persoalannya adalah apakah kaum Muslimin memiliki keimanan yang teguh. Sepanjang seorang Muslim memiliki keimanan yang tidak mudah goyah, Allah “Azza wa Jalla akan memberikan kemenangan bagi Muslim itu, seperti yang telah dijanjikan Allah swt dalam firmannya di surah Al-Hajj ayat 38, “Sesungguhnya Allah membela orang yang beriman.”

Keimanan yang kuat, itulah syarat dibutuhkan untuk mendapatkan pertolongan Allah swt. Ketika kaum Muslimin yang beriman tangguh berada dalam kesulitan, maka hanya Allah swt yang akan menolong mereka keluar dari kesulitan itu.

Lantas apa yang terjadi setelah kemenang pasukan Persia atas kaum Muslimin? Persia malah terlibat dalam pertempuran antara para pemimpinnya. Pasukan Persia terpecah menjadi dua kelompok yang saling bertikai. Jenderal Persia yang ditunjuk untuk menghadapi pasukan Muslim ditarik ke ibukota Persia untuk mengatasi pertikaian di dalam negeri Persia. Umat Islam yang menghadapi ancaman “pembersihan” secara permanen dari bangsa Persia, kini bebas dan kekhalifahan Islam punya cukup waktu untuk mengerahkan kembali pasukannya guna mengalahkan pasukan Persia. Peristiwa ini menjadi bukti, ketika situasinya nampak menjadi tidak menguntungkan bagi kaum Muslimin, pada saat itulah Allah swt membuka jalan bagi kemenangan kaum Muslimin.

Kemengan Kaum Muslimin dalam Perang Salib

Peristiwa lain yang tak kalah dashyatnya, yang menjadi momen kemenangan gemilang kaum Muslimin adalah peristiwa Perang Salib, dimana pasukan Islam saat itu berada di bawah komando Salahuddin Ayyubi.

Salahuddin menyatukan para amir di seluruh Tanah Suci dan memimpin perlawanan terhadap Pasukan Salib dari Roma yang menguasai seluruh pesisir pantai wilayah Palestina, termasuk kota Yerusalem dan kota-kota penting lainnya di Palestina, serta wilayah al-Sham (yang terdiri dari wilayah Yordania, Suriah,  dan Libanon).

Namun sebagian tokoh ulama Islam saat itu menilai keinginan Salahuddin untuk melawan penjajahan kaum Romawi di bumi Islam sebagai keinginan yang gila, mengingat kuatnya posisi kaum Romawi dengan dukungan negara-negara Eropa. Suara umat Islam pun terpecah antara yang mendukung dan tidak mendukung perjuangan Salahuddin.

Salahuddin tidak gentar, dengan bekal rasa tawakkal pada Allah swt ia tetap memimpin perlawanan dengan jumlah pengikut yang tidak sebanding jika dibandingkan dengan kekuatan pasukan Salib. Meski demikian, pasukan Salahuddin sedikit demi sedikit berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai pasukan Salib.

Puncak Perang Salib, adalah Perang Salib keempat ketika Paus memobilisasi kekuatan dari seluruh Eropa untuk melawan pasukan Muslim pimpinan Salahuddin. Tidak tanggung-tanggung, Raja dari Inggris, Prancis dan Jerman ditunjuk langsung untuk memimpin pasukannya masing-masing. Jika dijumlahkan, pasukan dari ketiga kerajaan itu sangat besar. Pasukan yang dipimpin Raja Frederick Barbarossa dari Jerman saja, diperkirakan berjumlah 300.000 orang. Saking besarnya jumlah pasukan, kapal-kapal perang tidak bisa mengangkut semua pasukan sehingga Eropa mengirim pasukannya ke Palestina dengan dua cara, pasukan Inggris dan Prancis dikirim lewat laut dan pasukan Jerman dikirim lewat darat.

Jumlah pasukan Salib yang besar, lagi-lagi membuat sebagian hari kaum Muslimin ciut dan merasa tidak yakin mampu mengalahkan pasukan Salib. Diantara mereka, bahkan ada yang mundur dari Jihad melawan pasukan Salib, dan ironisnya, diantara mereka yang mundur terdapat para ulama.

Tentang hal ini, Ibnu Athir mengatakan, “Mereka datang pada kami lewat darat dan laut. Beredar kabar di kalangan Muslimin bahwa Raja Jerman datang dengan kekuatan 300.000 pasukan dan mereka datang dari arah Utara. Sultan-sultan Muslim dan kaum Muslimin menjadi khawatir dan takut. Dari kalangan ulama banyak yang bersiap-siap untuk kembali berjihad ke al-Shaam, tapi banyak juga diantara ulama yang menarik diri karena takut mendengar jumlah pasukan Prancis yang sangat banyak.”

Dari sini bisa ditarik sebuah pelajaran penting bahwa ulama bukanlah sosok yang sempurna, mereka bukan Ambiya. Sebab itu, jika ada Muslim yang secara buta menjadi pengikut seoran ulama, tidak ada jaminan bahwa para ulama itu akan membawa pengikutnya ke jalan yang benar.

Apalagi di zaman seperti sekarang ini, posisi seorang ulama tidak lagi ditentukan oleh standar ilmu yang harus mereka miliki tapi ditentukan seberapa sering ulama bersangkutan tampil di televise sehingga membuat ulama bersangkutan terkenal layaknya seorang selebritis.

Dahulu, kata al-Awlaki, seseorang baru bisa disebut alim ulama jika sudah mendapatkan pengakuan dari ulama yang menjadi guru orang yang bersangkutan. Berbeda dengan zaman sekarang, dimana seseorang bisa tiba-tiba menjadi alim ulama karena ditunjuk sebagai alim ulama oleh pemerintah, dan ia menjadi terkenal karena sering tampil di berbagai stasiun televise, radio dan tampil berbagai acara, meski keilmuannya tentang agama Islam masih belum memenuhi standar.

Kembali ke peristiwa Perang Salib, Ibnu Athir menyebut para ulama yang lari dari jihad melawan pasukan Salib sebagai ulama pengecut, ulama yang menggunakan dalil-dalil agama untuk mencari pembenaran atas sikap pengecutnya, ulama yang memutarbalikkan ayat-ayat Allah dan hadis seolah-olah ayat-ayat dan hadist itu adalah hukum Islam yang sebenarnya. Padahal jihad itu adalah ujian Allah ‘Azza wa Jalla bukan hanya bagi para ulama dan Salahuddin tapi juga ujian bagi umat Islam.

Seperti Allah menguji Nabi Musa dan Bani Israel saat terhalang Laut Merah ketika menghindari kejaran Firaun. Ada sebagian Bani Israel yang menuding Nabi Musa telah berbohong dan tidak mampu menyelamatkan mereka dari kejaran Firaun. Namun Allah swt membuktikan pertolongannya dengan memerintahkan Nabi Musa agar memukulkan tongkatnya ke air lau, sehingga terbelahkan Laut Merah yang menjadi jalan bagi Nabi Musa dan pengikutnya untuk menyelamatkan diri dari Firaun.

Kondisi yang hampir sama dialami pasukan Raja Frederick Barbarossa. Ada beberapa versi yang menceritakan tentang nasib pasukan itu, salah satunya menyebutkan bahwa pasukan Barbarossa dihadang sungai yang airnya sangat amat dingin. Raja Barbarossa yang saat itu berusia sekitar 70 tahun, dengan mengenakan pakaian perang, diceritakan menyeberangi sungai tapi jatuh dari kudanya ke dalam air sungai yang dingin itu. Raja yang memimpin ratusan ribu pasukan itu terkena serangan jantung dan tewas. Padahal menurut riwayat Ibnu Athir kedalaman air sungai tidak sampai selutut Raja Jerman tersebut.

Setelah pimpinannya tewas, pasukan Jerman dikabarkan terserang berbagai penyakit sehingga pasukan Jerman itu mulai terpecah belah. Dari 300.000 pasukan, hanya seribu orang yang berhasil sampai ke wilayah ‘Akka.

Sebelum berangkat dengan pasukannya, Raja Barbarossa sempat mengirimkan surat pada Salahuddin yang dengan nada arogan mengatakan bahwa ia dan pasukannya akan mengusir pasukan Salahuddin dalam waktu satu tahun. Tapi apa yang terjadi? Pasukan Barbarossa bahkan sudah kalah sebelum bertempur. Sang pemimpin pasukan Salib yang arogan juga mati di tengah perjalanan. Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah mengizinkan pasukan Barbarossa menginjakkan kaki ke Tanah Suci. Inilah yang terjadi jika ada orang yang ingin memerangi agama Allah swt.

Ibnu Athir mengatakan, “Jika bukan karena kasih sayang Allah swt atas umat ini, dengan membunuh Raja Jerman, mungkin saat ini kita akan mengatakan bahwa Mesir dan Suriah dulunya adalah negeri Muslim.” Tapi Allah swt berkehendak memberikan kemenangan bagi umatnya, berapapun jumlah pasukan musuh saat itu. Dan untuk mendapatkan kemenangan itu, Allah swt menciptakan situasi guna menguji keimanan umatnya. (ln/anwar-alawlaki.com)

Disarikan dari tulisan Syaikh Anwar al-Awlaki. Imam Anwar al-Awlaki adalah seorang ulama kelahiran New Mexico. Orangtuanya berasal dari Yaman dimana ia tinggal selama sebelas tahun dan memperoleh bagian awal pendidikan Islamnya.

Imam Anwar al-Awlaki sempat menjadi Imam masjid di Colorado, California. Kemudian ia tinggal di kawasan Washington DC dimana ia memimpin Dar Al-Hijrah Islamic Center sambil menjadi Pemuka Agama Islam di George Washington University.

Imam Anwar al-Awlaki memiliki gelar S1 sebagai Insinyur Sipil dari Colorado State University, S2 di bidang Pendidikan Kepemimpinan dari San Diego State University serta sedang menekuni S3-nya di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia di George Washington University. Ia telah menghasilkan banyak seri audio popular termasuk “Kehidupan Para Nabi”, “Kehidupan Akhirat”, “Kehidupan Muhammad”, “Kehidupan Umar bin Khattab”, “kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq”, “Kisah Ibnul Awka”, “Konsisten di jalan Jihad” dan banyak lagi.

Ketika akan memasuki Baitul Maqdis, akan disambut oleh pembesar Romawi dan masyarakat banyak, Umar disarankan mengganti pakaianya dengan yang mewah, mengganti ontanya dengan kuda yang gagah, Umar tidak mau bahkan marah seraya mengatakan, “ Kita adalah kaum yang diberikan kemuliaan oleh Allah dengan Islam. Bila kami mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita”.

Suatu kalimat yang mengandung nilai-nilai keimanan yang sempurna, ketakwaan yang tinggi, akhlak yang agung, yang tidak sembarang orang mampu mengucapkan kalimat yang tegas tersebut, apalagi di zaman sekarang, bujukan meterialis dan kapitalis sangat menggoda.

Umar paham dan tahu bahwa kemuliaan seorang muslim disisi Allah bukan terletak pada pakaian yang indah, rumah yang mewah, harta yang melimpah, memiliki banyak sawah, makanan yang berkuah, sekali lagi bukan itu ! Mulianya seorang muslim disisi Allah terletak pada ketakwaannya, sikap rela sepenuh hati dan mengamalkan secara sempurna ajaran yang mulia (Islam) yang bersumber dari Dzat Yang Maha Mulia, Allah Yang Maha Agung.

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS: Al
Hujuraat/ 49 : 130)

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. (QS: Al Maa’idah/5: 3).

Siapakah Umar yang telah berkata dengan tegas lagi bijaksana tersebut?

Umar yang dimaksud adalah Umar bin Kaththab bin Nufail bin Abdul ‘Uzaa bin Rabah bin Qurth bin Razah bin Ady bin Ka’ab bin Luay. Qiyadah (pemimpin) kaum muslimin yang bergelar Amirul Mu’minin, Abu Hafash Al Qurasyi, Al Adawi, Al Faruq.

Umar adalah sahabat Rasulullah saw yang memiliki kedudukan mulia disisinya bahkan pernah didoakan secara khusus.

Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw berdoa kepada Allah:

“Ya Allah muliakanlah agama Islam ini dengan Umar ibnu Khaththab”.

(Hadits serupa diriwayatkan oleh Imam Ath- Thabarani dalam kitabnya Al Awsath dari hadits Abu Bakar, sedangkan dalam kitabnya Al Kabir dari hadits riwayat Tsauban).

Umar juga mertuanya Rasulullah saw, karena anaknya yang bernama Hafshah merupakan istri keempat Rasulullah saw setelah Khadijah binti Khuwailid, Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu Bakar Siddiq.

Dalam rangka mengunjungi Baitul Maqdis di Palestina, tempat yang pernah dikunjungi Rasulullah saw dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj pada tahun ke 10 kenabian, Umar bin Khathathab meninggalkan kota Madinah, ibu kota pemerintahan Islam untuk sementara waktu.

Beliau meyerahkan urusan kota Madinah kepada sahabat seperjuangan dalam menegakkan agama Allah di muka bumi, menantu Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib.

Umar pergi ke Baitul Maqdis, Palestina atas usulan Ali bin Abi Thalib setelah menerima surat permohonan damai dari penduduk setempat yang dipimpin Uskup Agung Severinus.

“Pasukan Muslimin sudah bersusah payah menghadapi udara dingin, perang dan sudah lama meninggalkan kampung halaman… Kalau anda datang menemui mereka, kedatangan anda dan pasukan muslimin akan merasa aman, akan merasa sejuk. Semua ini akan membawa perdamaian dan kemenangan”, kata Ali bin Abi Thalib menyampaikan pendapatnya.

Umar berangkat meninggalkan kota Madinah menuju Baitul Maqdis dengan menggunakan unta kelabu, membawa dua buah karung, masing-masing berisi tepung gandum dan kurma, sebuah kirbat di depannya berisi air penuh dan sebuah bokor tempat makanan di belakangnya.

Beliau mengenakan baju gamis tebal terbuat dari kapas bergaris-garis yang sisinya sudah sobek.

Ketika akan sampai di tempat tujuan, Umar bin Khaththab sebagai seorang khalifah, pemimpin kaum muslimin, qiyadah bagi pengikutnya, melangkahkan kaki, mengayunkan tangan sambil menuntun ontanya, pembantunya yang bernama Maisarah duduk dipunggung onta.

Maisarah merasa tidak enak dan agak rikuh ketika Baitul Maqdis sudah ada di depan mata, para pembesar Nashrani dan masyarakat umum sudah siap menyambut kedatangan Umar bin Khaththab, pemimpin kaum muslimin. Umar tetap melanjutkan perjalanannya dan menyuruh pembantunya tetap diatas punggung onta, karena berdasarkan kesepakatan mereka berdua, mereka akan bergantian untuk naik onta dan menuntun onta, ketika akan sampai di tempat tujuan tibalah giliran Umar, beliau konsisten terhadap janji.

Sebagai pemimpin, Umar telah memberikan keteladanan yang agung kepada kaum muslimin terutama para pemimpin yang telah diberikan amanah mengurus umat nabi Muhammad saw, untuk konsisten terhadap janji, tidak “mentang-mentang”, tidak zalim kepada pengikut, pendukung atau pembantunya.

Umar tidak merasa hina menuntun onta dengan pakaian yang sangat sederhana sedangkan pembantunya tetap duduk dipunggung onta. Padahal beliau seorang penguasa kaum muslimin yang kekuasaannya sudah luas, yang terbentang dari Yaman sampai Syam.

Umar telah membuktikan, dengan takwa yang sebenar-benarnya, sikap hidup yang sederhana, jujur dan amanah, ada kepedulian kepada umat, menghargai pengorbanan prajuritnya yang telah berjuang dengan jiwa dan raga. Sehingga Umar dihormati oleh pengikutnya dan disegani oleh lawannya.

Kisah Umar bin Khaththab ke Baitul Maqdis telah memberikan pelajaran sangat berharga kepada kita, bagaimana seharusnya menjadi pemimpin umat,

Semoga kita dapat masuk Baitul Maqdis dan membantu rakyat Palestina agar lepas dari belenggu penjajah Zionis Israel.

H. Ferry Nur, S.Si

Emai : ferryn2006@yahoo.co.id
Website : http://www.kispa.org

Berpegang dengan agama adalah perkara yang dituntut. Menganut sesebuah agama menuntut kita untuk berpegang dengan ajaran agama tersebut lebih-lebih lagi jika agama yang dianuti adalah agama yang benar.

Islam, sebagai sebuah agama yang benar menuntut penganutnya agar berpegang teguh dengan ajaran-ajarannya kerana Islam bukan sekadar sebuah agama biasa yang menitikberatkan amalan mahupun upacara tertentu bahkan Islam adalah sebuah cara hidup yang lengkap. Ibadah yang sempurna, muamalah yang mesra, pemerintahan yang saksama dan perundangan yang waja merupakan intipati kesempurnaan, keseimbangan dan keabadian yang ditekankan oleh Islam. Justeru itu, kita sebagai umat Islam dituntut untuk merealisasikan intipati tersebut dengan memanifestasikannya dalam kehidupan.
Namun, kadangkala di kalangan kita ada yang terpedaya dalam berpegang dengan Islam. Kita menyangka kononnya telah beramal dengan Islam yang sebenar, rupa-rupanya kita terpedaya dengan diri sendiri. Jika tersedar, itu yang terbaik. Tetapi yang menggusarkan ialah jika kita tidak menyedari bahawa kita telah terpedaya. Terpedaya lalu merasa bangga dengan diri sendiri kerana kononnya telah berpegang teguh dengan Islam adalah penyakit yang menimpa umat Islam mutakhir ini. Ada orang mendakwa dia telah beramal dengan Islam, tetapi hakikatnya pengamalan itu hanya berbentuk zahir semata-mata atau secara mendatar tanpa menyelam ke lubuk dasar intipati Islam sebenar.

Menerusi entri kali ini, saya ingin mengajak sidang pembaca untuk kita bersama-sama memahami hakikat terpedaya dalam beragama. Untuk lebih jelas, kita perlu memahami ciri-ciri mereka yang terpedaya dengan agama, faktor-faktor, kesan-kesan dan penyelesaiannya.

Hakikat.

Natijah daripada sikap ini adalah buruk jika tidak dicegah. Apabila sikap ini berterusan, maka ia melahirkan penyakit hati yang sangat berbahaya iaitu bermegah-megah dengan amalan sendiri. Kemudian setelah itu, akan muncul lagi penyakit-penyakit hati yang lebih berbahaya sebagaimana yang akan kita lihat bersama nanti.

Dalam konteks ini, kita perlu memahami dua hakikat penting yang berkait rapat dengan sikap terpedaya dalam beragama iaitu:

1) Jika kita berhadapan dengan individu yang pada pandangan kita adalah seorang yang kuat agama, namun kita melihat dia terpedaya dengan kekuatan agamanya itu maka ini adalah hakikat pertama yang tidak perlu menimbulkan sebarang kehairanan dalam diri kita. Ini adalah kerana, walau setinggi manapun kekuatan agama yang ditonjolkan oleh seseorang, dia tetap seorang manusia biasa. Dia bukan Nabi, Rasul atau Malaikat yang dipilih oleh Allah Ta’ala dengan sifat maksum. Kita berhadapan dengan hakikat ini bila kita mengimbau kembali sirah. Bukankah para sahabat radhiyallahu ‘anhum merupakan generasi terbaik? Generasi yang dididik oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, cuba kita renung kembali pada ayat-ayat al Quran yang menjelaskan tentang hukuman zina, mencuri, meminum arak dan sebagainya. Apakah sebab nuzul ayat-ayat ini? Pada zaman siapakah ayat-ayat ini diturunkan? Kita boleh menjawabnya sendiri. Kalau ini berlaku di kalangan sahabat, suatu generasi terbaik yang jikalau tanpa mereka, kita tidak mungkin menghirup udara segar ajaran Islam, bagaimana pula dengan kita yang bukan sahabat?? Bahkan para sahabat itu telah dijanjikan rahmat dan keampunan daripada Allah Ta’ala. Kita pula bagaimana?? Ini hakikat pertama yang perlu kita fahami.

2) Maksiat itu sama ada berbentuk zahir atau batin. Namun maksiat batin itu lebih berbahaya dan jarang-jarang di kalangan kita yang terlepas daripada bahaya ini. Kerana itu, kita perlukan tasawuf yang berperanan untuk mendidik hati agar berakhlak dengan akhlak-akhlak Rabbani. Tasawuf sejati adalah yang memainkan peranan untuk membersihkan hati dan memurnikan akhlak. Bukan tasawuf yang difahami oleh sesetengah pihak, tertumpu hanya pada zikir semata-mata. Inginkan kasyaf, ilham dan makrifat. Tetapi tasawuf yang menatijahkan akhlak yang murni. Berapa ramai yang bertarikat tasawuf kononnya, tetapi dia juga termasuk dalam topik perbincangan kita ini: Terpedaya dengan amalannya. Oleh itu, apabila kita meneliti al Quran kita temui perbezaan ketara antara dosa Sayyiduna Adam ‘alaihissalam dan dosa Iblis la’natullah. Dosa Sayyiduna Adam ‘alaihissalam berbentuk zahir. Kerana itu Allah Ta’ala mengampunkan Baginda. Adapun dosa Iblis, ia berpunca daripada sikap terpedaya dengan diri sendiri. Dia menyangka dirinya adalah yang terbaik kerana dicipta daripada api. Pada pandangannya, api lebih baik daripada tanah. Lalu sikap ini menatijahkan sifat yang lebih buruk lagi iaitu bermegah-megah dengan diri sendiri, takbur dan sombong lalu dia pun enggan sujud kepada Sayyiduna Adam ‘alaihissalam. Inilah hakikat kedua.

Ciri-ciri Mereka Yang Terpedaya Dalam Beragama.

Melalui ciri-ciri ini, kita boleh mengenal pasti golongan yang telah ditimpa penyakit ‘terpedaya dalam beragama’. Ciri-cirinya ialah:

1) Kepercayaan kepada prinsip: Hanya aku sahaja yang benar.

Orang yang memiliki ciri ini melihat hanya diri sendiri yang benar, orang lain salah. Hanya dia yang bagus amalannya, orang lain tak bagus. Bila berbicara, hanya bicaranya sahaja yang terbaik. Bila memberi pandangan, hanya ideanya saja yang bernas. Jika dia berhadapan dengan idea orang lain yang lebih baik bahkan disokong oleh dalil dan fakta, dia memandang kecil dan jijik idea tersebut kerana pada pandangannya, ideanya tidak mungkin mengalami sebarang kesalahan. Maksum!

2) Mudah bergembira dengan amalan ketaatan walaupun sedikit.

Bila dia melakukan ketaatan, dia tidak melakukannya dengan perasaan bimbang dan takut jika amalan ini tidak diterima Allah Ta’ala. Bahkan dia merasa gembira dengan amalannya walaupun sedikit. Tidak salah bergembira, tetapi yang salahnya ialah terlalu bergembira dengan amalan kecil sehingga merasa aman daripada perasaan bimbang dan takut kalau Allah Ta’ala tidak menerima amalan tersebut. Imam Ibnu ‘Atoillah al Sakandari radhiyallahu ‘anhu mengungkapkan menerusi hikamnya:

Di antara tanda pergantunganmu pada amalan; Kurangnya harapan ketika wujudnya kecacatan (pada amalanmu).[1]

Orang yang begini sifatnya, merasa yakin dengan amalan ketaatan yang dilakukan walaupun sedikit dan mudah merasa gembira. Dia tertipu dengan amalannya sendiri dan kerana itu apabila dia meninggalkan amalan yang biasa dilakukan sekali-sekala, dia masih merasa biasa. Seolah-olah amalan yang biasa dilakukan sebelum ini, kesemuanya diterima oleh Allah Ta’ala. Tiada bimbang, gusar dan takut kalau Allah Ta’ala tidak menerima amalannya sebelum ini.

3) Memandang remeh perkara maksiat.

Apabila dia melakukan maksiat walaupun kecil, dia hanya memandang remeh perkara tersebut seolah-olah ia adalah perkara biasa. Sekadar dosa kecil yang boleh dihapuskan dengan sembahyang dua rakaat. Si miskin ini terlupa bahawa boleh jadi sembahyangnya itu tidak diterima Allah Ta’ala. Berapa banyak pula dosa kecil yang mengundang dosa besar?! Firman Allah Ta’ala mafhumnya:

Maka janganlah kamu terpedaya dengan (keindahan) kehidupan dunia dan janganlah kamu terpedaya dengan Allah. [Luqman: 33]

Ertinya jangan kamu terpedaya dengan maksiat sehingga kamu sering melakukannya dengan sangkaan bahawa keampunan Allah Ta’ala akan sentiasa mengiringi kamu. Adakah kamu yakin akan terus mendapat keampunan-Nya? Adakah kamu yakin segala amalanmu diterima sehingga mampu menebus dosa maksiat yang kamu lakukan? Yang lebih penting, adakah kamu yakin akan terus beriman dan mati dalam keimanan?? Jangan tertipu dengan amalanmu. Jangan tertipu dengan dosa kecil yang kamu lakukan. Jangan tertipu dengan keluasan rahmat Allah sehingga kamu memandang remeh dosamu itu..

4) Terpedaya dengan keadaan diri sendiri.

Memandang diri sendiri sebagai yang terbaik berbanding orang lain. Orang lain sudah rosak. Akhlak rosak, hidup tiada hala tuju dan bermacam lagi perkara yang tidak boleh diharapkan. Hanya diri sendiri yang tidak rosak. Masih boleh diharap. Sedangkan hakikatnya, apabila dia berpandangan demikian, dia adalah orang yang binasa dengan kebinasaan sebenar! Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mafhumnya:

Apabila kamu mendengar seseorang berkata, “Orang ramai telah rosak!”

Sebenarnya, dia yang rosak!![2]

Hujjatul Islam al Ghazali radhiyyallahu ‘anhu ketika mengulas hadith ini menyebut:

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan begitu kerana perkataan yang diucapkan ini menunjukkan bahawa orang yang mengucapkannya adalah seorang yang memandang rendah orang lain dan tertipu dengan Allah Ta’ala. Dia merasa aman daripada rancangan Allah Ta’ala dan tidak merasa takut dengan kekuasaan-Nya. Bagaimana mungkin dia tidak merasa takut? Bila dia memandang rendah orang lain dan merasa kagum dengan keadaannya sendiri, ini sudah memadai untuk menunjukkan dia adalah seorang yang jahat![3]

5) Meninggi diri ke atas pelaku maksiat dan golongan yang tidak sependapat dengannya.

Dia melihat golongan yang melakukan maksiat dengan pandangan meninggi diri. Sepatutnya dia melihat mereka dengan perasaan kasihan dan berusaha membimbing golongan ini agar keluar dari kepompong maksiat. Namun apakan daya, disebabkan dia memandang dirinya sahaja yang terbaik, maka sikap ini menutup pintu hatinya daripada belas kasihan. Seolah-olah dia yakin akan terus terpelihara daripada melakukan maksiat. Begitu juga apabila berhadapan dengan golongan yang kurang ilmunya, dia memandang mereka dengan pandangan enteng. Jika golongan ini bersalahan pendapat dengannya walaupun ternyata pendapat tersebut disokong dengan dalil yang kuat, dia melenting kerana pada pandangannya orang yang kurang ilmu daripadanya tidak boleh bersalahan pendapat dengannya. Seolah-olah dia lebih tahu segala-galanya.

6) Sukar menerima nasihat.

Dia melihat dirinya tidak perlu kepada nasihat. Lebih-lebih lagi jika nasihat itu datang daripada orang yang lebih rendah ilmu atau amalan daripadanya. Dia tidak perlukan nasihat tetapi orang lain perlukan nasihatnya seolah-olah nasihatnya sudah memadai untuk membimbing orang lain ke jalan yang benar. Mana boleh orang yang lebih rendah martabatnya menasihati dirinya yang lebih baik ini!

7) Suka membanding-bandingkan dirinya dalam pegangan agama dengan orang lain.

Dia suka melakukan perbandingan terhadap dirinya dari sudut ilmu, amalan dan pegangan agama dengan orang yang lebih rendah martabat daripadanya. Lantas dia pun menyangka telah menjadi yang terbaik dan akan terus jadi yang terbaik. Natijahnya dia akan terus merasa senang dengan apa yang ada pada dirinya dari sudut ilmu dan amalan. Tanpa perlu merasa bimbang..

Faktor-faktor.

Secara umum, faktor-faktor yang menjadikan seseorang itu terpedaya dalam beragama ada tiga:

1) Faktor persekitaran.

Sudah menjadi kebiasaan, manusia itu mudah terkesan dengan persekitaran hidupnya. Suasana keluarga, masyarakat dan tempat dia membesar menyumbang kepada pembentukan perwatakannya. Boleh jadi mengapa seseorang itu terpedaya dalam beragama adalah kerana dia hidup dalam lingkungan masyarakat yang sukakan kemegahan dan ketinggian walaupun masyarakat tersebut berpegang teguh pada agama. Kemungkinan pegangan teguh mereka pada agama hanyalah berbentuk lahiriah dan secara mendatar. Jika mereka melakukan kebaikan, mereka akan mengungkit. Jika mereka menabur jasa, mereka ingin disebut. Apatah lagi, jika dia lahir dari kalangan keluarga yang terkenal dengan keilmuan, maka dia akan selalu menyebutnya dengan perasaan megah. Padahal dia tidak sealim mana pun. Hanya menumpang populariti nenek moyangnya yang alim! Dalam suasana yang sebegini, sedikit sebanyak menyumbang kepada kelahiran golongan yang mudah terpedaya dalam beragama.

2) Faktor ilmu.

Faktor kurangnya penguasaan terhadap ilmu syara’ juga boleh menyumbang kepada sikap terpedaya dalam beragama. Hanya sekadar baru membaca sebuah dua buku-buku agama atau memiliki sedikit ilmu dalam keadaan dia tidak menghalusi ilmu tersebut telah menjadikannya terpedaya dengan pegangan agamanya. Sudah berani mengkritik para ulama’ berwibawa yang jelas lebih berilmu daripadanya atau tidak segan silu ingin menandingi dan berdebat dengan mereka. Padahal buku-buku yang dibaca pun adalah terjemahan daripada bahasa Arab jika dia tidak pandai berbahasa Arab. Terjemahan belum tentu mampu menyampaikan maksud sebenar ilmu yang ingin diutarakan oleh buku-buku tersebut. Jika dia memahami bahasa Arab sekali pun, belum tentu dia mampu menangkap keseluruhan maksudnya sekaligus lebih-lebih lagi hanya menatap buku tanpa berguru! Jika dia belajar sekalipun, memadai dengan silibus-silibus yang ditetapkan tanpa ada keinginan untuk mendalami dan memperhalusi ilmu tersebut. Tapi keinginan untuk mendabik dada masih tinggi dan dia pun terpedaya dengan ilmu yang sedikit itu.

Justeru, para ulama’ menyebut bahawa ilmu itu berukuran tiga jengkal. Siapa yang hanya baru sampai di jengkal pertama, maka dia akan memiliki sikap takbur dan bongkak. Siapa yang berjaya sampai ke jengkal yang kedua, maka dia akan merendah diri. Siapa yang berjaya sampai ke jengkal terakhir, ketika itu dia akan menyedari bahawa banyak lagi perkara yang tidak diketahuinya.

Mutakhir ini, kita melihat sikap sebegini menimpa segolongan muda-mudi yang baru ingin berjinak-jinak dalam arena keilmuan dan dakwah. Hanya baru menatap sebuah dua buku (itu pun terjemahan) dan mendengar beberapa siri pengajian, telah berani mengkritik dan menghukum para ulama’ yang lebih berautoriti seolah-olah dia adalah hakim mahkamah syariah pula! Kasihan.. Rupa-rupanya mereka terpedaya..

3) Faktor didikan.

Faktor ini biasa dilihat berlaku pada golongan ilmuwan tertentu. Dia rajin belajar, membaca dan mengkaji tetapi sekadar untuk menambah ilmu pengetahuan sahaja. Dia tidak berhasrat untuk melakukan tarbiah jiwa dengan ilmu-ilmu tersebut. Apabila dia menyertai badan-badan dakwah atau persatuan-persatuan tertentu, dia hanya menyertainya atas dasar keilmuan semata-mata. Hanya ingin tahu tentang politik, ideologi, fahaman dan akidah tertentu. Adapun atas dasar mendidik jiwa dan membersihkannya dengan ilmu-ilmu tersebut, jauh sekali. Sangkaannya, ilmu sudah memadai. Sudah cukup untuk memasukkannya ke dalam Syurga. Dia terlupa bahawa Islam itu adalah ilmu dan amalan. Akhlak dan penyucian jiwa.

Kita lihat bagaimana golongan salaf berinteraksi dengan ilmu mereka. Mereka menuntut ilmu kerana ingin beramal. Dengan ilmu, mereka menyucikan jiwa dan memurnikan akhlak. Bahkan di kalangan mereka ada yang tidak berani untuk meriwayatkan hadith atau menyampaikan pidato-pidato ilmiah dan nasihat melainkan setelah mereka yakin telah melalui proses tarbiah dan penyucian jiwa dengan jayanya. Kerana itu, ilmu-ilmu mereka diberkati Allah Ta’ala dan orang ramai mudah terkesan dengan ucapan-ucapan mereka. Tidak lain dan tidak bukan adalah kerana ucapan yang mereka ungkapkan lahir dari hati yang bersih kesan tarbiah yang murni. Siapa yang mendakwa mengikut jejak langkah salaf, sepatutnya begini sifatnya! Jangan sekadar dakwa sahaja, tetapi tidak berbukti. Sesiapa sahaja boleh mendakwa itu dan ini, tetapi dakwaan yang diterima adalah yang disokong oleh bukti yang kukuh. Jika tidak, diam lebih baik!!

Kesan-kesan.

Jika orang yang terpedaya dalam beragama ini tidak diberi taufiq oleh Allah Ta’ala untuk membebaskan dirinya daripada sifat ini, maka kesannya adalah buruk di dunia mahu pun di akhirat, na’uzubillah min zalik (kami berlindung dengan Allah Ta’ala daripada perkara itu).

1) Kesan di dunia.

Orang yang bersikap begini akan hilang keberkatan dalam amalannya. Amalannya tidak diterima Allah Ta’ala dan syaitan pun mudah menguasainya.

Selain itu, orang ramai akan benci padanya. Merasa muak dengan sikapnya dan akhirnya dia kehilangan teman. Dakwah pun payah untuk dilaksanakan.

2) Kesan di akhirat.

Mendapat kebinasaan dan azab daripada Allah Ta’ala. Cukuplah sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mafhumnya:

Tiga perkara yang membinasakan:

- Sikap bakhil yang dituruti

- Hawa nafsu yang diikuti

- Dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.[4]

Penyelesaian.

1) Selalu mengingati kebesaran Allah Ta’ala.

Kita beriman kepada Allah Ta’ala. Kita semua meyakini bahawa Dia adalah Esa. Maka segala kemuliaan, kemegahan, keagungan dan kebesaran adalah milik-Nya jua. Tidak ada sesiapa pun yang boleh berkongsi atau merampas sifat-sifat ini daripada-Nya. Jika anda merasa dihinggapi penyakit ‘terpedaya dalam beragama’, maka ingatilah perkara ini agar anda akan selalu merendah diri.

2) Mengambil berat urusan tarbiah jiwa.

Atas dasar inilah, bertasawuf itu penting. Jiwa perlu dididik dan disucikan selalu agar menjadi jernih. Bila hati jernih, maka terbitlah akhlak mulia. Kita perlu memandang diri ini serba kekurangan. Jangan mudah berpuas hati dengan apa yang ada. Bila kita berdepan dengan para ulama’ yang berwibawa, sepatutnya kita beradab dengan mereka. Sedar bahawa diri kita jauh ketinggalan berbanding diri mereka. Baik dari segi ilmu, amalan mahu pun akhlak. Sudah menjadi lumrah, diri itu memang selalu inginkan pujian. Walaupun tiada sumbangan, tetap ingin dipuji (tak tahu malu). Oleh itu, jiwa perlu sering disucikan. Perlu selalu rasa serba kekurangan.

3) Selalu membaca kisah-kisah golongan yang terpedaya dalam beragama.

Sejarah seringkali dijadikan iktibar. Sikap sebegini telah lama muncul sejak terciptanya ayahanda kita Adam ‘alaihissalam. Baca kisah mereka dan ambil pengajaran tentang kesudahan mereka. Kemudian buat perbandingan dengan kisah-kisah golongan yang bersikap tawadhu’. Lihat betapa bersihnya jiwa mereka dan murninya akhlak mereka. Mudah-mudahan kita mampu untuk mengikut jejak langkah mereka.

Penutup.

Kita sama-sama berdoa agar Allah Ta’ala memelihara kita daripada sifat tercela ini. Kita sangat mengharapkan bimbingan taufiq, hidayah dan ‘inayah daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tuhan kami! Janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan kurniakan rahmat dari sisi-Mu buat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Kurnia. [Aali 'Imran: 8]

Bibliografi:

- Majalah al Wa’yu al Islami, bilangan 514, bulan Jamadil Akhir 1429 (Jun 2008).

- Musnad Imam Ahmad bin Hambal, jilid ketiga, cetakan kedua 1414 (1994), terbitan Darul Fikr, Beirut dengan kerjasama al Maktabah al Tijariyyah.

- Majma’ al Zawaid wal Manba’ al Fawaid, al Hafiz Nuruddin Ali bin Abu Bakar al Haithami, jilid pertama, cetakan tahun 1425/26 (2005), terbitan Darul Fikr, Beirut-Lebanon.

- Ihya’ ‘Ulumiddin, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali, jilid ketiga, cetakan tahun 1421 (2001), terbitan Darul Kutub al ‘Ilmiyyah, Beirut-Lebanon.

- Ghaithul Mawahib al ‘Aliyyah fi Syarhil Hikam al ‘Atoiyyah, Syeikh Muhammad bin Ibrahim bin ‘Ubbad al Nafari al Rindi, bahagian pertama, cetakan tanpa tahun, terbitan Darul Ma’arif, Kaherah.

http://wwwhumair-humair.blogspot.com/2008/07/terpedaya-dalam-beragama.html

[1] Ghaithul Mawahib al ‘Aliyyah fi Syarh al Hikam al ‘Atoiyyah, hikmah pertama, halaman 48, bahagian pertama, Darul Ma’arif, Kaherah.

[2] Musnad Imam Ahmad bin Hambal, 7689/3, Darul Fikr-al Maktabah al Tijariyyah.

[3] Ihya’ Ulumuddin 308/3, Darul Kutub al ‘Ilmiyyah, Beirut-Lebanon.

[4] Majma’ al Zawaid, 1/313, Darul Fikr, Beirut.

http://an-nawawi.blogspot.com


Kira-kira petang tadi ketika pergi menunaikan solat asar di sebuah masjid, sebelum solat asar berjama’ah dilaksanakan dan sebaik selepas solat sunnah tahiyatul masjid, aku duduk sebentar sambil melihat-lihat sekitar dalam masjid.


Aku melihatlah beberapa individu yang sedang menunaikan solat sunnah. Aku merasakan sesuatu yang tidak kena kepada beberapa individu tersebut. Angkat tangan hendak takbir pun seakan-akan malas dan tidak disempurnakan dengan kerelaan. Susah sangat ke? Hatiku berbicara sendiri. “Mungkin baru belajar solat agaknya..” aku meredakan prasangka.

Tapi, hatiku terus berkata-kata… Nak bersedekap ketika qiyam pun seakan-akan nak tak nak sahaja. Tangan kanan tidak digenggamkan dengan sebaik-baiknya pada tangan kirinya. Dan ketika sujudnya pula, hidungnya tidak mencecah ke lantai. Tangannya pula dihamparkan begitu sahaja dari jari hingga ke siku menyentuh lantai ketika sujudnya. Hatiku berasa tidak tenang, dan terasa mahu sahaja menegurnya. Tetapi, mengenangkan beberapa situasi lepas yang aku hadapi, membuatkan aku berfikir beberapa kali untuk menegur. Di mana aku seringkali dikatakan “busy body” dan tidak mengikuti serta memahami permasalahan setempat.

Pernah suatu ketika dahulu hendak aku menegur, “Tak pe lah dik, pak cik dah biasa solat macam ni, lebih selesa.” Ada yang lain, “Betulkanlah solat kamu tu dulu.” .

Teruskan bacaan dengan klik tajuk di atas………

Lebih membuatku senyum, “Tapi, solat ni abang belajar kat sekolah dulu memang macam ni, mana boleh salah. Rasanya adik perlu cek balik gi sekolah.”

Tapi, ada yang membuatkan hatiku tesentak suatu ketika dulu adalah apabila ada seseorang datang meneguku, “Brader, kenapa you solat jari gerak-gerak? You wahhabi ke?” Tapi, bila teringat semula, ia menjadikan aku ketawa sendiri.

Berkenaan menegur orang solat di tempat awam, di tempat yang orang tidak mengenali kita, rasanya se-akan-akan lebih mudah. Berbanding di tempat orang yang mengenali kita. Namun, bagiku, ia tetap sama-sama tak mudah. Kerana sebahagian orang ni sangat sensitif dengan teguran. Walaupun adakalanya ditegur dengan baik, ada sebahagian mereka memiliki ego yang tidak mahu tunduk. Sedaya-upaya, pelbagai falsafah dan teori dibentuk. Tapi, aku suka kepada sebahagian orang yang lebih mudah untuk berbincang dan berbual bertukar pendapat. Ia menjadikan siatuasi kelihatan lebih mesra. Berbanding orang yang sensistif, tidak boleh menerima kesilapan sendiri, agak sukar untuk memperbaiki kesalahan mereka. Nak menyapa pun fikir banyak kali.

Sedangkan di sana ada beberapa hadis berkaitan dengan pesoalan solat tersebut,

Daripada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang (iaitu) di atas dahi (beliau turut mengisyaratkan tangannya ke hidung), dua tangan, dua lutut, dan jari-jari kaki.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Azan, no. 812)

Dari al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, “Jika kamu bersujud, letakkanlah kedua telapak tanganmu (ke lantai) dan angkatlah kedua siku kalian.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab ash-Solah, no. 494)

Dalam Riwayat lain, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, “Janganlah seseorang di antara kalian menghamparkan kedua tangannya seperti anjing meletakkan (tangannya).” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Azan, no. 493)

Akhirnya setelah beberapa kali menimbangkannya, aku mengambil keputusan untuk tidak menegurnya dahulu. Mungkin biarlah aku dahulu menunjukkan contoh. Dan seperti biasa, jari jemariku yang hanya mampu berbicara dengan menekan papan kekunci komputerku. Lalu hasilnya aku hamparkannya di blog peribadi ku ini dengan harapan pengalaman ini dapat dikongsikan bersama ke seluruh alam maya dan mereka yang memahami bahasa jari-jemariku.

Pengalaman ku ketika petang tersebut tidak sahaja berkisar tentang soalnya solat beberapa individu tadi. Tetapi juga tatakala mahu menunaikan solat berjama’ah. Selepas iqamah dikumandangkan, imam pun segera tampil ke hadapan dengan berkata “rapatkan saf”. Beberapa saat mengambil masa, imam membaca surah an-Naas, ta’awuzd, lalu membacakan lafaz niat, dan segera bertakbir. Untuk makluman mereka yang menatap tulisanku ini, bacaan-bacaan imam tersebut bukanlah suatu sunnah yang tsabit. Sekadar memberitahu, mungkin sama-sama boleh kita bersikap terbuka dan mengkaji. Sebenarnya, aku terasa agak pelik ketika itu, imam langsung tidak memandang ke belakang memerhatikan barisan saf-saf makmumnya. Sedangkan barisan saf tersebut sungguh tunggang langgang berdasarkan pemerhatianku.

Dengan keadaan barisan yang tidak rapat, aku cuba mengambil langkah untuk mengajak beberapa individu yang bersebelahan dengan ku untuk merapatkan saf dengan merapatkan kaki dan bahu, namun mereka seakan-akan pelik dan kembali merenggangkannya semula. Aku pun pasrah, lalu segera bertakbir mengikut imam dalam keadaan yang sedikit kecewa.

Mengapa agaknya fenomena sebegitu kerap kali berlaku hampir di setiap masjid dan surau yang aku kunjungi. Ke manakah peranan para imam, para ajk masjid, para ustaz, dan para makmum atau indvidu yang melaksanakan solat itu sendiri? Apakah mereka menganggap persoalan solat adalah suatu persoalan yang remeh-temeh? Cukup sekadar “asal solat cukuplah…” Ataukah mungkin ada suatu bentuk kefahaman solat yang lain yang aku tidak memahaminya. Dari ajaran manakah ia? Jadi, berikanlah kepada ku sumber-sumbernya.

Owh… Pening juga adakalanya…

Sebenarnya, bagi mereka yang memahami, persoalan solat adalah suatu persoalan yang tersangat-sangat besar. Malah, kedudukan solat adalah setelah mengucapnya dua kalimah syahadah di dalam rukun Islam. Malah ia merupakan salah satu lambang terbesar sebagai seorang yang beriman,

“Islam itu ditegakkan atas lima (5) perkara; mengakui bahawa tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah, mendirikan solat, menunaikan zakat, melaksanakan haji ke Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab al-Iman, no. 7)

Di dalam al-Qur’an Allah subhanahu wa Ta’ala menyatakan (maksudnya),

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, iaitu mereka yang khusyu’ dalam solatnya…” (Surah al-Mukminun, 23: 1-2)

Malah sebagai seorang yang beriman, yang mengerti betapa besarnya erti solat tersebut kepada dirinya, dia pasti akan mendidik dirinya agar melaksanakannya dengan sesempurna mungkin. Lalu mengajar dan mendidik ahli keluarganya untuk turut sama melaksakannya dengan sebaik mungkin.

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan solat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Surah Thoha, 20: 132)

“Perintahkanlah anak-anak kamu untuk melaksanakan solat ketika mereka berusia tujuh (7) tahun. Pukullah mereka kerana tidak melaksanakan solat ketika berusia sepuluh (10) tahun…” (Disahihkan oleh Sheikh al-Albani di dalam Irwa’ al-Ghaliil, 1/266)

Dan solat yang terbaik dan tersahih lagi yang sebenarnya adalah, solat yang dilaksanakan berdasarkan contoh yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah sebagaimana yang dipesankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri,

“Solatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku solat” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Azan, no. 604)

Tidak lain, untuk mengetahui tatacara solatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan merujuk dan taat kepada hadis-hadis yang beliau nyatakan.

Ia bermulalah dari soalnya thoharah, wudhu’, soalnya pakaian, persoalan tempat solat, tatacara solat bermula dari takbirnya sehinggalah kepada salamnya, dan sehinggalah kepada sesudahnya salam yang termasuk amalan-amalan sunnahnya.

Perkara-perkara inilah yang kini semakin diabaikan dan dilupakan oleh para individu Muslim. Mengapa jika persoalan tugas di pejabat mampu dilaksanakan dengan bertungkus lumus, tetapi soalnya solat ditinggalkan keutamaannya. Mengapa soalnya pengajian dan pendidikan sains, kejuruteraan, pembinaan bangunan, kajian DNA, analisa kewangan, dan pelbagai lagi boleh dilakukan dengan penuh teliti namun solatnya terabai dan umpama tidak diberi makanan yang cukup bagi membolehkan terbinanya jasad yag sihat.

Begitulah solat. Ia dilakukan dengan ilmu dan kefahaman bagi membolehkan ia dibina dan dilaksanakan dengan penuh bermaya dan syi’ar-syi’ar agama terpancar daripadanya.

Malah, ia sebenarnya menjadi titik mula kepada pekerjaan dan perlakasanaan aktiviti yang lain. Ia merintis sebuah disiplin yang sebenar sebagai seorang mukmin yang taat dan komited terhadap setiap tugasan yang diterimanya.

“Dasar segala urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah solat, manakala puncaknya adalah jihad.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Dihasankan oleh Sheikh al-Albani di dalam Irwa’ al-Ghaliil, 2/138)

Ia melambangkan betapa kesungguhan seseorang tehadap amanah yang dipegangnya. Ia melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Ia melakukan dengan penuh kesabaran dalam apa jua keadaannya.

“Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Surah al-Baqarah, 2: 45)

Namun, sungguh dikesalkan pada hari ini, lambang dan syi’ar-syi’ar ini mula ditinggalkan. Mereka menjadikan hal-hal yang lain pula sebagai syi’ar dan melupakan keutamaan yang sebenar. Meletakkan priority pada kedudukan yang terkemudian. Susunan mula menjadi terbalik. Malah mungkin menjadi tunggang langgang. Seseorang dipandang baik tidak lagi pada prinsip-prinsip agamanya. Tidak penting lagi persoalan solatnya, tetapi pekerjaannya sebagai seorang jurutera, doktor, pakar ekonomi, pakar tari, pakar musik, dan seumpamanya. Solat bukan lagi soal utama. Entah duduk di ranking ke berapa agaknya… Kenapa mind-set kita berputar sejauh itu?

Di sebahagian sudut dan kelompok, sungguh lebih dikesalkan, perjuangan jihad tanpa ketahuan pula dikehadapan melampaui segala-galanya. Sehinggakan hal keimanan dan solat menjadi kelam tidak disuarakan. Hal ini mungkin berlaku kepada kelompok yang memiliki semangat keterlampauan, namun tidak dibina atas dasar ilmu. Semangat berkobar-kobar, namun kefahaman terhadap agama sangat mengecewakan. Sewajarnya persoalan solat ini diperbaiki dengan sungguh-sungguh. Kerana, setiap hal yang besar dalam agama itu, bermula dengan dasar aqidah serta solatnya. Jika persoalan yang lebih dasar gagal diperbaiki, bagaimana pula hendak memperbaiki persoalan yang lebih rumit?

Kita lihat di masjid-masjid hari ini, ada pelbagai ragam dan gaya orang menunaikan solatnya. Ada yang tangannya tidak disedekapkan, ada yang kakinya dirapatkan, ada yang kakinya dikangkangkan melebihi kewajaran, ada yang takbirnya berulang-ulang kali untuk melaksakan solatnya, dan ada yang solat jama’ahnya hanya sekadar datang ke masjid namun ruhnya tiada. Mengapa ruhnya tiada? Tidak lain, kerana ianya tidak dibina atas dasar kefahaman yang tepat. Saf-saf solatnya juga tidak dijaga. Imamnya tidak mengambil endah soal makmumnya di belakang.

Ini yang datang ke masjid. Belum dikirakan mereka yang tidak mahu ke masjid. Dan sebahagian mereka yang langsung tidak menunaikan solat. Atau apakah mungkin mereka yang tidak mahu ke masjid akibat soalnya solat di masjid sudah menjadi tidak ketahuan kaedahnya? Manakala mereka yang tidak menunaikan solat adalah lantaran solat sudah tidak ada arahnya dan sumbernya yang benar perlaksanaannya. Tiada keseragaman, yang mengakibatkan mereka hilang keyakinan untuk melaksanakannya. Mereka menanyakan, apakah standardize perlaksanaan solat? Apakah cukup sekadar mulut menyatakan “kita ikut Mazhab Syafi’i”?

Ketahuilah bahawa perkara yang pertama-tama sekali dihisab bagi kita adalah persoalan solat. Ini dapat difahami dari hadis nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

“Amalan yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari Kiamat kelak adalah solatnya. Jika solatnya baik, maka dia telah beruntung, dan jika solatnya rosak, maka dia telah gagal dan rugi.” (Sahih menurut Sheikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahaadis ash-Shahihah, 3/346)

Malah, ikatan dan simpulan Islam itu dinyatakan jika ianya mula terlerai, maka ianya akan terlerai satu demi satu dari individu atau masyarakat mukmin bermula dari hukum-hakamnya yang tertentu sehinggalah kepada yang terakhir sekali adalah solatnya. Apakah kita mahu lagi memandang enteng persoalan solat? Setelah banyak sekali persoalan yang lainnya kita merasakan sebagai berat dan seringkali terlepas begitu sahaja. Fahamilah bahawa solat adalah ikatan yang menjadi benteng dan syi’ar terakhir kita.

“Ikatan-ikatan Islam itu akan terlepas seikat demi seikat. Setiap kali ikatan itu terlepas maka mereka akan berpegang kepada ikatan yang berikutnya. Dan yang pertama sekali terlepas (ikatannya) adalah hukum-hakam, manakala yang terakhir sekali terlepas adalah solat.” (Dinilai sahih oleh Sheikh al-Albani di dalam Shahih at-Targhiib wa at-Tarhiib, 1/229)

Jadi, jika solat pun telah kita pandang remeh, ikatan apa lagi yng mahu kita pegang kemudiannya? Tanyakan lah pada pendirian dan kegfahaman masing-masing.

Dengan itu, marilah kita kembali membina kekuatan yang semakin rapuh tersebut dengan kembali melihat dan memperbaiki solat-solat kita berdasarkan sumber-sumber yang benar. Sehinggalah kita melaksanakannya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melasanakannya. Mengerjakannya dengan penuh semangat, khusyu’ dan tenang yang terbina atas landasan ilmu pengetahuan yang benar. Tidak lain, ia dibina berdasarkan hadis-hadis yang sahih lagi diyakini.

Kita kembali melaksanakan solat dengan sebaik-baiknya. Menegakkan syi’ar-syi’ar agama bermula dari dasar dan landasan yang betul. Melaksanakannya berdasarkan hadis-hadis yang sahih. Bermula dari wudhu’nya sehinggalah kepada takbir sampailah kepada akhir salamnya. Semuanya didasari hadis-hadis yang benar. Kita terapkan serta praktikkan kefahaman dan ilmu tersebut ke dalam diri masing-masing, sehinggalah kepada ahli keluarga.

Kemudian, kita melaksanakannya di masjid-masjid atau di surau-surau secara berjama’ah. Di surau dan masjid pula, para imamnya tahu tanggungjawab mereka masing-masing. Saf-saf solat kembali menjadi rapat dan teguh barisannya. Ia terbina dengan rapat, tersusun, kemas, dan betul sekaligus mencerminkan betapa teguhnya hati-hati mereka dalam kesatuan dengan disiplinnya.

Sebagaimana pentingnya saf-saf solat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi tahukan kepada kita melalui hadis yang tidak kurang banyaknya yang antaranya,

“Luruskanlah saf, rapatkanlah bahu-bahu, rapatkanlah ruang-ruang (antara kamu), lembutkanlah ketika menyentuh tangan-tangan saudara kalian, dan janganlah kamu membiarkan celah-celah terbuka untuk syaitan. Barang siapa menyambung saf maka Allah akan menyambungnya dan barang siapa memutuskan saf maka Allah akan memutuskannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, Kitab ash-Solah, no. 666. Disahihkan oleh Sheikh al-Albani dailam Shahih Sunan Abi Daud, 1/197)

Dari Nu’man, bin Bashir, Rasulullah menyatakan (dengan mengahadap kami, ketika hendak solat) “Luruskanlah saf-saf kamu, luruskanlah saf-saf kamu, luruskanlah saf-saf kamu, Demi Allah, kamu akan meluruskan saf-saf kamu atau Allah akan menjadikan hati-hati kamu saling berselisih”. Aku melihat bahu saling bersentuhan, lutut dengan lutut teman sebelahnya saling bersentuhan, dan mata kaki dengan mata kaki teman sebelahnya turut bersentuhan.” (Hadis Riwayat Abu Daud, Kitab ash-Solah, no. 662)


Malahan di sebahagian hadis-hadis yang lain dengan jelas dinyatakan bahawa Rasulullah dan para sahabat yang lain selepasnya, sekali-kali solat berjama’ah tidak akan dimulakan selagi mana saf tidak dirapatkan. Ini menunjukkan bahawa betapa pentingnya merapikan saf di dalam perlaksanaan solat berjama’ah.


Betapa hebatnya jika disiplin ini kembali terlaksana di setiap surau-surau dan masjid-masjid sekitar kita. Ia akan jelas menggambarkan kepada kita betapa hebatnya disiplin, kesatuan dan kecintaan kita sesama sendiri.

Bagi mereaslisasikan situasi tersebut, apa yang paling utama dan terpenting adalah dengan kembalinya kita semua kepada manhaj ilmu. Cari dan dapatkanlah sumber-sumber rujukan, buku-buku atau kitab-kitab yang sahih yang mampu menerangkan persoalan agama berdasarkan hadis-hadis yang sahih lagi jelas. Tinggalkanlah pertikaian-pertiakain dan perbahasan-perbahasan yang membelakangkan nilai-nilai ilmiyah tanpa image intelektual. Semoga dengan sumber-sumber yang sahih ini akan mampu membentuk semula daya juang dan image agama yang segar sekaligus menyerlahkan ketulenan ber-agama yang sebenar sebagaimana yang dituntut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak pesanan-pesananannya iaitu dengan berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.

Semoga luahan hati ku ini mampu dibaca oleh sesiapa sahaja, sekaligus merealisasikan impian ku untuk melihat syi’ar-syi’ar agama ini ditegakkan bermula dari dasarnya yang sebenar. Kerana, hanya dengan dasar yang betul, maka cabang-cabang yang lainnya akan menjadi betul. Ia tidak lain juga, dimulakan dengan prinsip-prinsip aqidah yang betul. Apabila pengambilan agama dilaksanakan dengan dasar yang betul. Apabila priroriti dan keutamaan dikenal pasti dan diperbaiki, insyaAllah, disiplin dan perjalanan cabang-cabang dan dahan-dahan yang menjalar seterusnya akan berupaya menghasilkan bunga serta buah yang terbaik.

10:00p.m
21-May-2008

Diedit oleh zikri, boleh dihubungi di zicksi@yahoo.com

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.