ikhwan
Dari keterangan nas-nas, ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan dari makna jamaah:

1. Sesungguhnya keberadaan sebuah jamaah dari beragam jamaah, sekaipun dengan fikrah yang jelas dan jalan yang lurus tidak berarti bahwa jamaatul muslimin telah tegak. Dari sini, maka semua jamaah yang bergerak dalam medan dakwah saat ini yang telah dikenal dengan nama, pemimpin dan simbol-simbolnya tidaklah satu-satunya jamaah Islam atau jamaah muslimin, akan tetapi kesemuanya itu terhimpun dalam jamaah Islam. Maka Ikhwanul Muslimin, jamaah salafiah serta jamaah-jamaah yang lain adalah bagian dari jamaah muslimin, dan tidak tepat menyebutkannya bahwa ialah jamaah yang repesentatif sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadits-hadits walaupun ia bergerak demi merealisasikan jamaah kaum muslimin dalam sebuah kepemimpinan pemerintah Islam dan khilafah Islamiyah.

2. Bahwasanya jamaah-jamaah ini, meski merupakan implementasi pemahaman manhaji bagi sebuah jamaah Islam, namun ia sangat bertingkat dalam kontribusi dan potensi, di antara mereka ada yang berusaha membatasi kebijaksanaan mereka dalam perbaikan sisi aqidah, ada pula yang lebih memperhatikan sisi pendidikan ruhiyah, ada yang lebih memfokuskan pada nasehat dan pengingatan, ada pula di antara mereka yang lebih memeperhatikan sisi politik, dan ada pula di antara mereka yang berupaya menghimpun semua sisi perbaikan dalam bingkaian universalitas dan komprehensif dengan menjaga keseimbangan dan skala prioritas.

3. Tidaklah tepat menganalogikan jamaah-jamaah ini dengan jamaah Rasulullah SAW sebab mereka adalah penghulu sekalian jamaah, yang mana ketaatan adalah sebuah kewajiban sebab ia diback up langsung dengan wahyu dan tunduk terhadapnya merupakan sesuatu yang mutlak yang menjadi syarat kesempurnaan Islam seseorang, baik dimasa hidupnya maupun setelah meninggalnya. Kemudian pada realitasnya ia sangat bersesuaian dengan perintah syariat, tidaklah setiap yang telah mengaku seorang muslim, menyatakan dua kalimah syahadah serta mendirikan shalat kecuali terhimpun dalam anggota jamaah Rasul. Namun kenyataan kita saat ini sangat berbeda, banyak manusia saat ini yang menyatakan sebagi seorag muslim, menegakkan syariat-syariatnya, akan tetapi tidak terikat dalam sebuah jamaah manapun, penetapan kafir atas mereka dengan pertimbangan analogi terhadap jamaah pertama adalah sebuah tindakan kesewenangan. Demikian juga klaim atas mereka yang memisahkan diri dari salah satu jamaah ini dengan kekufuran adalah tindakan serampangan yang tidak mendasar.

4. Tidak sah pula menganalogikan syarat-syarat kepemimpinan dari jamaah-jamaah ini dengan syarat dan kewajiban seorang Amirul Mukminin.

5. Memisahkan diri secara struktural jamaah tidak berarti identik dengan keluar dari jamaah, sebab istilah keluar jamaah menurut sebagian besar ulama fikih berarti perlawanan senjata bukan hanya sebatas memisahkan dan menjauhkan diri, makna ini sangat begitu tampak pada pemberontak dan pembelot, bahkan keluar dalam masalah inipun tidak semuanya dianggap tindak kekufuran, karena boleh jadi pelakunya melakukan tindakan ini karena salah tafsir dan persepsi, firman Allah: “Jika dua kelompok dari golongan kaum mukminin berperang…”, Allah dalam ayat ini tetap menyebut kaum yang beriman walaupun terjadi pertumpahan darah di antara mereka.

Di antara landasan dasar yang lain tentang masalah ini bahwa Ali RA dan beberapa sahabat yang lain tidak mengkafirkan kalangan khawarij, betapapun banyak riwayat hadits yang menjelaskan akan kesesatan mereka, beliau hanya mengatakan: “Saudara kita telah membelot atas kita, mereka sungguh telah lari menjauh dari kekufuran”. Dan Ia bermu’amalah (berinteraksi) dengan mereka seperti interaksi kaum pemberontak, tidak menjadikan harta mereka sebagai rampasan perang, tidak menjadikan budak wanita-wanita mereka, tidak membunuh para tawanan perang mereka, tidak pula membunuh sekalian orang-orang yang terluka atau mengejar orang-orang yang lari dari medan.

6. “Mati dalam keadaan Jahiliyah” tidak berarti mati dalam kekafiran, akan tetapi kematian yang menyerupai keadaan orang jahiliyah, sebab mereka tidak membaiat seorang pemimpin dan tidak pula tunduk kepada seorang penguasa. Imam Syaukani berkata: “Mati jahiliyah adalah penyerupaan terhadap kematian orang-orang jahiliyah yang tidak memiliki pemimpin, bukan berarti mati dalam keadaaan kafir, namun mati dalam keadaan bermaksiat” [10].

7. Tidak melakasanakan amal jama’i demi menegakkan perintah, syariat dan kepemimpinan agama Allah adalah perbuatan dosa, namun tidak menjadikannya keluar dari agama kecuali bila ia mengingkari tuuan ini yakni berhukum dengan syariat Allah maka ia dianggap kafir dan murtad [11].

Imam Hasan Al Banna memiliki sebuah manhaj yang jelas pijakan dan tahapannya, saya akan menjelaskan jati diri jamaah Ikhwanul Muslimin (IM), sikapnya terhadap jamaah-jamaah kaum muslimin, yang mencerminkan kemurnian nilai dan keseimbangan pijakan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para imam dari generasi salaf, manhaj itu akan saya jelaskan dalam beberapa hal berikut [12]:

1. Sikap IM terhadap Jamaah dan Institusi Da’wah

Imam Hasan Al Banna mengungkapkan: “IM mempunyai padangan tersendiri terhadap ormas-ormas ini (dengan berbagai ladang garap mereka dalam berjuang untuk membela Islam. mereka semua mendambakan kesuksesan. Ikhwan juga menginginkan terwujudnya kedekatan jamaah-jamaah ini dan berusaha menyatukan serta menghimpun mereka dalam satu fikrah secara umum” [13].

2. Perbedaan IM dan Jamaah-jamaah Islam yang lain.

Imam Al Banna berkata: “Banyak orang yang pikirannya dibingungkan oleh pertanyaan ini: “Apa perbedaan antara jamaah IM dengan jamaah Asy-syubban? Kenapa keduanya tidak bergabung dalam satu organisasi saja dan bergerak dalam manhaj yang satu pula”. Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin menegaskan kepada mereka yang menginginkan kesatuan potensi dan kerjasama antar aktifis, bahwa jamaah IM dan jamaah As-syubban – di Kairo – tidak pernah merasa bahwa keduanya berada di medan yang berbeda, tetapi mereka selalu merasa ada dalam satu medan dengan menjalin kerjasama yang kuat dan kokoh. Banyak masalah keislaman yang antara Ikhwan dan Sy-Syubban bisa seiya sekata dalam menyikapinya. Hal ini karena tujuan umum dari keduanya adalah sama, yakni bergerak dan beramal demi kejayaan Islam dan kebahagiaan kaum muslimin. Hanya saja, ada perbedaan-perbedaan kecil dalam masalah uslub dakwah, langkah para aktifis dan prioritas penyaluran potensi dari kedua jamaah tersebut, saya yakin akan tiba masanya disaat semua jamaah Islamiyah berada di dalam front. Dan waktulah yang akan menjamin realisasinya, Insya Allah” [14].

3. Bentuk sikap dan Muamalah terhadap penentang.

“Dan Kami memohon maaf kepada mereka yang berbeda dengan kami dalam masalah furu’. Kami sama sekali tidak melihat bahwa perbedaan itu akan menghambat proses menyatunya hati, saling mencintai dan kerja sama dalam menegakkan kebenaran dan kebaikan. Islam yang universal ini akan sanggup memayungi kami dengan mereka dalam batasan-batasannya yang begitu luas. [15]”

4. Sikap kami terhadap seruan dan dakwah yang lain:

“Sikap kami terhadap seruan-seruan lain di negeri ini baik yang berorientasi agama, sosial, ekonomi maupun politik – dengan berpijak pada karakter dasar dakwah kami – adalah sebuah sikap yang satu menurut keyakinan kami yaitu: mengharapkan kebaikan padanya serta mendoakannya dengan curahan taufik, dan sesungguhnya sebaik-baik jalan adalah agar kita tidak sibuk mencari celah dan kesalahan orang lain dari meneliti kesalahan dan kekurangan kita, sungguh kita membutuhkan perbekalan dan rasa tanggung jawab, sebab ummat kita dan medan-medan perjuangan yang masih kosong sangat menanti uluran tangan para pejuang dan kesungguhan sang mujahid dan tidak ada waktu yang cukup untuk sibuk mencari-cari kekurangan orang lain, masing-masing bergerak dibidangnya dan Allah selalu bersama orang-orang yang berbuat baik hingga Allah membukakan pintu kebenaran antara kita dan kaum kita” [16].

5. Penegasan Al Khudhaibi tentang langkah amaliah Imam Hasan al Banna

Imam Khudhaibi berkata: “Telah disepakati bahwasanya jamaah Ikhwanul Muslimin sejalan dengan kesempurnaan imannya tegak di atas nilai kebenaran dan dengan keyakinannya yang tidak diliputi keraguan, ia adalah dakwah kebenaran yang murni sebagaimana yang Allah perintahkan dengan sebuah kewajiban yang mengikat. Perlu ditegaskan, bahwasanya pendirian organisasinya bukan legitimasi bahwasanya ialah jamaah kaum muslimin, sebagaimana yang dimaksudkan dalam hadits-hadits akan tetapi ia senantiasa menyeru dengan pertolongan Allah untuk merealisasikan jama’atul Muslimin”.

Hal ini dipertegas bahwa pendiri jamaah – semoga Allah meridhainya – mengakui sepanjang kepemimpinannya begitu pula para sahabatnya yang mendukungnya dan berhimpun bersamanya akan keberadaan jamaah-jamaah yang lain sebagai jamaah Islam, sebagaimana pengakuan jamaah ini terhadap mereka yang tidak bergabung dengan jamaah ikhwan atau yang telah dikeluarkan sebagai seorang muslim.

Dan sungguh Imam Asy syahid telah menetapkan pengeluaran dua wakil terdahulu jamaah serta puluhan yang lain, sebagian mereka adalah anggota dalam kantor pembinaan dan dewan pendiri, dan tidak ada satupun di antara mereka yang dituduh telah melakukan tindakan atau ucapan yang menjadikannya murtad dari Islam, dan tidak ada satupun yang menganggap bahwa pengeluaran mereka dari jamaah berarti mereka telah keluar dari Islam” [17].