Allah SWT berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah : “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang  yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang  yang musyrik”. (QS. 12 : 108)

Wahyu Ilahi diatas merupakan taujih Rabbani yang sangat gamblang dan selalu diulang oleh Nabi Yusuf AS dan para nabi sebelumnnya dan setelahnya, dan kitapun saat ini -hendaknya- mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh para nabi; karena kita merupakan pewaris para nabi… yaitu aktif dalam berdakwah dan mentarbiyah; membawa cahaya dengan transparansi dan gamblang tanpa ada rekayasa dan persekongkolan dalam mengembannya dan cermat dalam mendistribusikan dan memberinya.

Para duat memiliki kewajiban menyebarkan Islam sebagaimana yang telah diperintahkan Allah dan Allah wahyukan tanpa adanya asimilasi dan kontaminasi… menyebarkannya dengan penuh keikhlasan, hanya mengharap pahala dan ridha Allah SWT dan surga-Nya, bukan mencari pujian dan sanjungan, ikhlas yang terlahir dari lubuk hati dan tidak mengharap ganjaran di dunia, tidak mengharap tercapainya cita-citanya dalam bentuk kemenangan (tamkin) terhadap agamanya semasa hidup… hal inilah yang Allah telah berikan pendidikan kepada nabi-Nya

Namun kadangkala para du’at menemui kendala dalam merangkul mad’u, seakan lisannya kelu untuk menyampaikan, tangannya kaku untuk merangkul dan kakinya terpaku untuk membawa, bahkan -semoga tidak terjadi- akalnya beku untuk memberi. Padahal seyogyanya Sesungguhnya seorang da’i harus memiliki banyak kiat dalam menyampaikan, merangkul, mengajak dan memberi, sehingga tujuan yang diinginkanpun dapat tercapai.

Memang tabiat hubungan antara seorang da’i dengan mad’unya pada hakekatnya berbeda dengan hubungan yang lain yaitu hubungan yang harus terjalin dengan rasa kasih sayang dan cinta yang asasnya adalah tsiqah (saling percaya) dan menyatu…selain itu hubungan yang selalu tunduk untuk menerima dan tentram terhadap ucapan dan nasehat. Yang  keduanya merupakan suatu keharusan dalam menjalin hubungan antara da’i dan mad’u,  sehingga ketika seorang da’i memberi sesuatu sang mad’u mau menerimanya dengan  lapang dada dan pada akhirnya dapat memberikan ketenangan jiwa dan menentramkan hati, dan memunculkan sesuatu yang tersembunyi dari cita-citanya, dan menentramkan dari sesuatu yang membuatnya gelisah.

Bahwa kecintaan ini dan keakraban ini yang dapat menjadikan kehidupan berjalan dengan mudah mengalir seperti air yang jernih dan sejuk yang dapat menghilang dahaga.

Apakah seorang murabbi sudah berusaha membentuk kehidupan jama’i yang lebih baik dari kehidupan yang lain?? Sehingga dapat memberikan tarbiyah yang benar, menanamkan konsep (pemahaman), menumbuhkan keimanan, yang seluruhnya terayomi dalam suasana yang bersih, ukhuwah imaniyah, dan kecintaan yang tulus yang tidak mengharap lainnya kecuali ridlo Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya, kecintaan yang tulus yang tidak memiliki perasaan terbebani dan dibuat-buat. Ruang lingkupnya adalah kehidupan jama’i, kehidupan yang penuh taklif dan amal islami.

Namun bagaimanakah hal itu bisa terwujud?? jawabannya adalah sebagai berikut :

1. Mengucapkan salam dan menanyakan kesehatannya dan keadaannya dan banyak menampakkan senyum  dihadapannya.

2. Menghormati kedua orang tuanya, dan berlemah lembut kepada saudara-saudaranya dan anak-anaknya serta mencintai kerabat dan teman-tmannya jika mereka termasuk orang-orang yang salih.

3. Berusaha untuk meluangkan waktu untuk memberikan hadiah kepadanya.

4. Berusaha untuk mengenal dan memahami keadaan sosialnya dan materialnya dan juga berniat membantunya dan berperan serta dalam keadaan suka dan sedih.

5. Tidak menampakkan sikap yang sedih namun tetap ikut prihatin terhadap permasalahn yang sedang dihadapi.

6. Tidak memberikan nasehat dihadapan orang banyak namun cukup dengan empat mata saja.

7. Jangan sebarkan rahasia dirinya dan berusahalah menjaga kehormatannya.

8. Kirimlah kabar (surat) saat dia dalam bepergian, atau saat engkau jauh darinya.

9. Jangan rendahkan kedudukan sosialnya, dan jangan remehkan pendapat dan kreativitasnya serta jangan menghinakan keluarganya dan nasabnya (walaupun hanya sekedar bercanda).

10. Simak dan bersikap diamlah saat mendengarkan ucapannya dan pendapatnya, dan tampakkan perhatian dan ketawaduan dalam mengoreksi pendapatnya jika ada kekeliruan.

11. Jadilah tauladan yang baik terhadap saudaramu dalam berakhlak; uacapan  yang lembut, menepati janji, penampilan yang prima dan selalu senyum dihadapannya.

12. Jauhkan diri dari memberikan beban dirinya tidak sanggup memikulnya dan selalulah menghormati jati dirinya.

13. Banyak-banyaklah brziarah kerumah atau tempat tinggalnya.

14. Berikan kepadanya kepercayaan yang sesuai dengan kemampuannya.

sumber: al-ikhwan.net