Oleh: Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
Sumber: http://www.almanhaj.or.id

Dan barangsiapa yang menentang/memusuhi Rasul sesudah nyata baginya al-hidayah (kebenaran) dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min, nescaya akan Kami palingkan (sesatkan) dia ke mana dia berpaling (tersesat) dan akan Kami masukkan dia ke dalam jahannam dan (jahannam) itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (An-Nisa’ : 115)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah di muqaddimah kitabnya “Naqdlul Mantiq” telah menafsirkan ayat “jalannya orang-orang mu’min” (bahawa) mereka adalah para sahabat. Maksudnya bahawa Allah telah menegaskan barangsiapa yang memusuhi atau menentang rasul dan mengikuti selain jalannya para sahabat sesudah nyata baginya kebenaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah dan didakwahkan dan diamalkan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya, maka Allah akan menyesatkannya kemana dia tersesat (yakni dia terumbang-ambing di dalam kesesatan).

Ayat yang mulia ini merupakan sebesar-besar ayat dan dalil yang paling tegas dan terang tentang kewajipan yang besar bagi kita untuk mengikuti “jalannya orang-orang mu’min” iaitu para sahabat. Yakni cara beragamanya para sahabat atau manhaj mereka berdasarkan nash Al-Kitab dan As-Sunnah diantaranya ayat di atas.

Jika dikatakan : Kenapa “sabilil mukminin atau jalannya orang-orang mukmin” di ayat yang mulia ini ditafsirkan dengan para sahabat (?!) bukan umumnya orang-orang mu’min??

Saya jawab berdasarkan istinbath (pengambilan; penggalian) dari ayat di atas:

Pertama
Ketika turunnya ayat yang mulia ini, tidak ada orang mu’min di permukaan bumi ini selain para sahabat. Maka, khithab (pembicaraan) ini pertama kaliAllah tujukan kepada mereka.

Kedua
Mahfumnya, bahawa orang-orang mu’min yang sesudah mereka (para sahabat) dapat masuk ke dalam ayat yang mulia ini dengan syarat mereka mengikuti jalannya orang-orang mu’min yang pertama yaitu para sahabat. Jika tidak, bererti mereka telah menyelisihi jalannya orang-orang mu’min sebagaimana ketegasan firman Allah di atas.

Ketiga
Kalau orang-orang mu’min di ayat yang mulia ini ditafsirkan secara umum, maka jalannya orang mu’min manakah? Apakah mu’minnya Khawarij atau Syiah/Rafhidhah atau Mu’tazilah atau Murji’ah atau Jahmiyyah atau Falasifah atau Sufiyyah atau….atau…?

Keempat
Perjalanan orang-orang mu’min yang paling jelas arahnya, aqidah dan manhajnya hanyalah perjalanan para sahabat. Adapun yang lain mengikuti perjalanan mereka, baik aqidah dan manhaj.

Kelima
Perjalanan orang-orang mu’min yang paling alim terhadap agama Allah yaitu Al-Islam hanyalah para sahabat. Allah telah menegaskan di dalam Kitab-Nya yang mulia bahwa mereka adalah orang-orang yang telah diberi ilmu. (Muhammad : 16)

Keenam
Perjalanan orang-orang mu’min yang mulia yang paling taqwa kepada Allah secara umum hanyalah para sahabat.

Ketujuh
Perjalanan orang-orang mu’min yang paling taslim (menyerahkan diri) kepada Allah dan Rasul-Nya secara umum hanyalah para sahabat.

Kelapan
Perjalanan orang-orang mu’min yang ijma’ (kesepakatan) mereka menjadi hujjah dan menjadi dasar hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan As-Sunnah hanyalah ijma’ para sahabat. Oleh kerana itu tiada ada ijma’ kecuali para sahabat atau setelah terjadi ijma’ di antara mereka. Demikian itu juga sebaliknya, mustahil terjadi perselisihan apabila para sahabat telah ijma’. Dan tidak ada yang menyalahi ijma’ mereka kecuali orang-orang sesat dan menyesatkan yang telah mengikuti “selain jalannya orang-orang mu’min”.

Kesembilan
Perjalanan orang-orang mu’min yang tidak pernah berselisih di dalam aqidah dan manhaj hanyalah perjalanan para sahabat bersama orang-orang yang mengikuti mereka tabi’in dan tabi’ut tabi’in dan seterusnya.

Kesepuluh
Para sahabat adalah sebaik-baik umat ini dan pemimpin mereka.(Bacalah I’laamul Muwaqqi’iin juz 1 hal 14 oleh Imam Ibnul Qayyim)

Kesebelas
Para sahabat adalah ulama dan muftinya umat ini. (Bacalah I’laamul Muwaqqi’iin juz 1 hal 14 oleh Imam Ibnul Qayyim)

Keduabelas
Para sahabat adalah orang-orang yang pertama-tama beriman kepada Allah dan RasulNya. Oleh kerana itu Allah memerintahkan manusia untuk mengikuti mereka (Al-Baqarah :13)

Ketigabelas
Para sahabat telah dipuji dan dimuliakan oleh Allah dibanyak tempat di dalam KitabNya yang mulia.

Keempat belas
Bahawa perjalanan para sahabat telah mendapat keredhaan Allah dan mereka pun redha kepada Allah (At-Taubah :100)

Kelima belas
Perjalanan para sahabat telah menjadi dasar, bahawa Allah akan meradhai perjalannnya orang-orang mu’min dengan syarat mereka mengikuti “jalannya orang-orang mu’min yang pertama yaitu para sahabat”. Mahfumnya, bahawa Allah tidak akan meredhai mereka yang tidak mengikuti perjalanannya Al-Muhajirin dan Al-Anshar (At-Taubah :100)

Keenam belas
Sebaik-baiknya sahabat para nabi dan rasul ialah sahabat-sahabat Rasulullah.

Ketujuh belas
Tidak ada yang marah dan membenci para sahabat kecuali orang-orang kafir. (Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Fath :29)

Kelapan belas
Dan tidak ada yang menyatakan bodoh terhadap para sahabat kecuali orang-orang munafik. (Al-Baqarah : 13)

Kesembilan belas.
Rasulullah telah bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian yang sesudah mereka” (Hadist Shahih mutawatir dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dan lain-lain)

Generasi pertama adalah sahabat, yang kedua tabi’in dan yang ketiga adalah tabiut tabi’in. mereka inilah dinamakan dengan nama Salafush Shalih (generasi pendahulu yang shalih) yakni tiga generasi terbaik dari umat ini. Kepada mereka inilah kita meruju’ cara beragama kita dalam mengamalkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas. Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka dinamakan Salafiyyun dari zaman ke zaman sampai hari ini.

Keduapuluh.
Rasulullah telah bersabda pada waktu hajjatul wada’ (haji perpisahan): “Hendaklah orang yang hadir diantara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir”. (Hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari jalan beberapa orang sahabat)

Hadist yang mulia ini meskipun bersifat umum tentang perintah tabligh dan dakwah akan tetapi para sahabatlah yang pertama kali diperintahkan oleh Rasulullah untuk bertabligh dan berdakwah, sebagai contoh bagi umat ini dan agar diikuti oleh mereka bagaimana cara bertabligh dan berdakwah yang benar di dalam menyampaikan yang hak. Oleh kerana itu hadist yang mulia ini memberikan pelajaran yang tinggi kepada kita diantaranya:

(a). Bahawa dakwah mereka adalah haq dan lurus di bawah bimbingan Nabi yang mulia.

(b). Bahawa mereka adalah orang-orang kepercayaan Rasulullah. Kalau tidak, tentu Rasulullah tidak akan memerintahkan mereka untuk menyampaikan daripada beliau.

(c). Bahawa mereka kaum yang benar, lawan dari dusta, yang amanat, lawan dari khianat. Bahawa mereka telah di ta’dil (dinyatakan bersifat adalah : tsiqah/ terpercaya dan dhabt/teliti) oleh Rabb mereka, Allah, dan oleh nabi mereka. Oleh kerana itu Ahlussunnah Wal Jama’ah telah ijma’ bahawa mereka tidak perlu diperiksa lagi dengan sebab di atas. Keadilan dan ketsiqahan mereka tidakdiragukan lagi. Allahumma! Kecuali oleh kaum Syi’ah dan Rafhidhah dari cucu Abdullah bin Saba’ si Yahudi hitam dan orang-orang mereka yang dahulu dan sekarang.

(d). Bahawa wajib bagi kita kaum muslimin mengikuti cara dakwahnya para sahabat, bagaimana dan apa yang mereka dakwahkan dan seterusnya. Adapun dalam masalah keduniaan seperti alat dan mengikuti perkembangan zaman dan tingkat pengetahuan manusia, seperti menggunakan kendaraan yang ada pada zaman ini atau alat perekam dan pengeras suara dan lain-lain kita bebas melakukannya selagi tiada dalil yang melarang.

Keduapuluh satu.
Rasulullah telah bersabda : “Janganlah kamu mencaci-maki sahabat-sahabatku! Kalau sekiranya salah seorang daripada kamu menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, nescaya tidak akan mencapai darjat mereka satu mudpun atau setengah mud”. (Hadist Shahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Keduapuluh dua.
Para sahabat secara umum telah dijanjikan jannah (syurga). (At-Taubah : 100)

Keduapuluh tiga.
Secara khusus sebahagian sahabat telah diberi khabar gembira oleh Nabi sebagai penghuni syurga, seperti Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan lain-lain.

Keduapuluh empat.
Para sahabat telah berhasil menguasai dunia membenarkan janji Allah di dalam Kitab-Nya yang mulia (Tafsir Ibnu Katsir surat An-Nuur ayat 55)

Keduapuluh lima.
Perjalanan orang-orang mu’min yang paling kuat “Ukhuwwah Islamiyyahnya” ialah para sahabat berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah serta sejarah.

Keduapuluh enam.
Di dalam ayat yang mulia ini Allah tidaklah mencukupkan firman-Nya dengan perkataan: ”Barangsiapa yang memusuhi Rasul sesudah nyata baginya kebenaran…., nescaya akan palingkan dia….”. dan kalau Allah mencukupinya sampai disitu pasti hak/benar. Akan tetapi terdapat hikmah yang dalam ketika Allah mengkaitkan dengan “dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min -iaitu para sahabat. Dari sini kita mengetahui, bahawa di dalam berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, mesti ada jalan atau cara di dalam memahami keduanya. Jalan atau cara itu adalah “jalannya orang-orang mu’min iaitu para sahabat”. Jadi urutan dalilnya sebagai berikut : Al-Qur’an As-Sunnah. Keduanya menurut pemahaman para sahabat atau cara beragama mereka, aqidah dan manhaj.

(Disalin dari Majalah As-Sunnah edisi : 02/V/1421-2001M, hal 51-53, Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183)