sekali lagi, saje nak buat pengumuman, bahawa saya sudah pun beralih ke blog peribadi saya yg terkini…

http://satuummah.blogspot.com

kini saya sudah beralih ke blog peribadi saya sendiri..

http://satuummah.blogspot.com

terima kasih atas keprihatinan anda untuk membaca apa yang bermanfaat buat iman anda.

blog saya di wordpress ini akan menjadi arkib untuk rujukan saya dan seluruh pelayar yang ingin mencari kebenaran.

Oleh: Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
Sumber: http://www.almanhaj.or.id

Dan barangsiapa yang menentang/memusuhi Rasul sesudah nyata baginya al-hidayah (kebenaran) dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min, nescaya akan Kami palingkan (sesatkan) dia ke mana dia berpaling (tersesat) dan akan Kami masukkan dia ke dalam jahannam dan (jahannam) itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (An-Nisa’ : 115)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah di muqaddimah kitabnya “Naqdlul Mantiq” telah menafsirkan ayat “jalannya orang-orang mu’min” (bahawa) mereka adalah para sahabat. Maksudnya bahawa Allah telah menegaskan barangsiapa yang memusuhi atau menentang rasul dan mengikuti selain jalannya para sahabat sesudah nyata baginya kebenaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah dan didakwahkan dan diamalkan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya, maka Allah akan menyesatkannya kemana dia tersesat (yakni dia terumbang-ambing di dalam kesesatan).

Ayat yang mulia ini merupakan sebesar-besar ayat dan dalil yang paling tegas dan terang tentang kewajipan yang besar bagi kita untuk mengikuti “jalannya orang-orang mu’min” iaitu para sahabat. Yakni cara beragamanya para sahabat atau manhaj mereka berdasarkan nash Al-Kitab dan As-Sunnah diantaranya ayat di atas.

Jika dikatakan : Kenapa “sabilil mukminin atau jalannya orang-orang mukmin” di ayat yang mulia ini ditafsirkan dengan para sahabat (?!) bukan umumnya orang-orang mu’min??

Saya jawab berdasarkan istinbath (pengambilan; penggalian) dari ayat di atas:

Pertama
Ketika turunnya ayat yang mulia ini, tidak ada orang mu’min di permukaan bumi ini selain para sahabat. Maka, khithab (pembicaraan) ini pertama kaliAllah tujukan kepada mereka.

Kedua
Mahfumnya, bahawa orang-orang mu’min yang sesudah mereka (para sahabat) dapat masuk ke dalam ayat yang mulia ini dengan syarat mereka mengikuti jalannya orang-orang mu’min yang pertama yaitu para sahabat. Jika tidak, bererti mereka telah menyelisihi jalannya orang-orang mu’min sebagaimana ketegasan firman Allah di atas.

Ketiga
Kalau orang-orang mu’min di ayat yang mulia ini ditafsirkan secara umum, maka jalannya orang mu’min manakah? Apakah mu’minnya Khawarij atau Syiah/Rafhidhah atau Mu’tazilah atau Murji’ah atau Jahmiyyah atau Falasifah atau Sufiyyah atau….atau…?

Keempat
Perjalanan orang-orang mu’min yang paling jelas arahnya, aqidah dan manhajnya hanyalah perjalanan para sahabat. Adapun yang lain mengikuti perjalanan mereka, baik aqidah dan manhaj.

Kelima
Perjalanan orang-orang mu’min yang paling alim terhadap agama Allah yaitu Al-Islam hanyalah para sahabat. Allah telah menegaskan di dalam Kitab-Nya yang mulia bahwa mereka adalah orang-orang yang telah diberi ilmu. (Muhammad : 16)

Keenam
Perjalanan orang-orang mu’min yang mulia yang paling taqwa kepada Allah secara umum hanyalah para sahabat.

Ketujuh
Perjalanan orang-orang mu’min yang paling taslim (menyerahkan diri) kepada Allah dan Rasul-Nya secara umum hanyalah para sahabat.

Kelapan
Perjalanan orang-orang mu’min yang ijma’ (kesepakatan) mereka menjadi hujjah dan menjadi dasar hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan As-Sunnah hanyalah ijma’ para sahabat. Oleh kerana itu tiada ada ijma’ kecuali para sahabat atau setelah terjadi ijma’ di antara mereka. Demikian itu juga sebaliknya, mustahil terjadi perselisihan apabila para sahabat telah ijma’. Dan tidak ada yang menyalahi ijma’ mereka kecuali orang-orang sesat dan menyesatkan yang telah mengikuti “selain jalannya orang-orang mu’min”.

Kesembilan
Perjalanan orang-orang mu’min yang tidak pernah berselisih di dalam aqidah dan manhaj hanyalah perjalanan para sahabat bersama orang-orang yang mengikuti mereka tabi’in dan tabi’ut tabi’in dan seterusnya.

Kesepuluh
Para sahabat adalah sebaik-baik umat ini dan pemimpin mereka.(Bacalah I’laamul Muwaqqi’iin juz 1 hal 14 oleh Imam Ibnul Qayyim)

Kesebelas
Para sahabat adalah ulama dan muftinya umat ini. (Bacalah I’laamul Muwaqqi’iin juz 1 hal 14 oleh Imam Ibnul Qayyim)

Keduabelas
Para sahabat adalah orang-orang yang pertama-tama beriman kepada Allah dan RasulNya. Oleh kerana itu Allah memerintahkan manusia untuk mengikuti mereka (Al-Baqarah :13)

Ketigabelas
Para sahabat telah dipuji dan dimuliakan oleh Allah dibanyak tempat di dalam KitabNya yang mulia.

Keempat belas
Bahawa perjalanan para sahabat telah mendapat keredhaan Allah dan mereka pun redha kepada Allah (At-Taubah :100)

Kelima belas
Perjalanan para sahabat telah menjadi dasar, bahawa Allah akan meradhai perjalannnya orang-orang mu’min dengan syarat mereka mengikuti “jalannya orang-orang mu’min yang pertama yaitu para sahabat”. Mahfumnya, bahawa Allah tidak akan meredhai mereka yang tidak mengikuti perjalanannya Al-Muhajirin dan Al-Anshar (At-Taubah :100)

Keenam belas
Sebaik-baiknya sahabat para nabi dan rasul ialah sahabat-sahabat Rasulullah.

Ketujuh belas
Tidak ada yang marah dan membenci para sahabat kecuali orang-orang kafir. (Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Fath :29)

Kelapan belas
Dan tidak ada yang menyatakan bodoh terhadap para sahabat kecuali orang-orang munafik. (Al-Baqarah : 13)

Kesembilan belas.
Rasulullah telah bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian yang sesudah mereka” (Hadist Shahih mutawatir dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dan lain-lain)

Generasi pertama adalah sahabat, yang kedua tabi’in dan yang ketiga adalah tabiut tabi’in. mereka inilah dinamakan dengan nama Salafush Shalih (generasi pendahulu yang shalih) yakni tiga generasi terbaik dari umat ini. Kepada mereka inilah kita meruju’ cara beragama kita dalam mengamalkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas. Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka dinamakan Salafiyyun dari zaman ke zaman sampai hari ini.

Keduapuluh.
Rasulullah telah bersabda pada waktu hajjatul wada’ (haji perpisahan): “Hendaklah orang yang hadir diantara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir”. (Hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari jalan beberapa orang sahabat)

Hadist yang mulia ini meskipun bersifat umum tentang perintah tabligh dan dakwah akan tetapi para sahabatlah yang pertama kali diperintahkan oleh Rasulullah untuk bertabligh dan berdakwah, sebagai contoh bagi umat ini dan agar diikuti oleh mereka bagaimana cara bertabligh dan berdakwah yang benar di dalam menyampaikan yang hak. Oleh kerana itu hadist yang mulia ini memberikan pelajaran yang tinggi kepada kita diantaranya:

(a). Bahawa dakwah mereka adalah haq dan lurus di bawah bimbingan Nabi yang mulia.

(b). Bahawa mereka adalah orang-orang kepercayaan Rasulullah. Kalau tidak, tentu Rasulullah tidak akan memerintahkan mereka untuk menyampaikan daripada beliau.

(c). Bahawa mereka kaum yang benar, lawan dari dusta, yang amanat, lawan dari khianat. Bahawa mereka telah di ta’dil (dinyatakan bersifat adalah : tsiqah/ terpercaya dan dhabt/teliti) oleh Rabb mereka, Allah, dan oleh nabi mereka. Oleh kerana itu Ahlussunnah Wal Jama’ah telah ijma’ bahawa mereka tidak perlu diperiksa lagi dengan sebab di atas. Keadilan dan ketsiqahan mereka tidakdiragukan lagi. Allahumma! Kecuali oleh kaum Syi’ah dan Rafhidhah dari cucu Abdullah bin Saba’ si Yahudi hitam dan orang-orang mereka yang dahulu dan sekarang.

(d). Bahawa wajib bagi kita kaum muslimin mengikuti cara dakwahnya para sahabat, bagaimana dan apa yang mereka dakwahkan dan seterusnya. Adapun dalam masalah keduniaan seperti alat dan mengikuti perkembangan zaman dan tingkat pengetahuan manusia, seperti menggunakan kendaraan yang ada pada zaman ini atau alat perekam dan pengeras suara dan lain-lain kita bebas melakukannya selagi tiada dalil yang melarang.

Keduapuluh satu.
Rasulullah telah bersabda : “Janganlah kamu mencaci-maki sahabat-sahabatku! Kalau sekiranya salah seorang daripada kamu menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, nescaya tidak akan mencapai darjat mereka satu mudpun atau setengah mud”. (Hadist Shahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Keduapuluh dua.
Para sahabat secara umum telah dijanjikan jannah (syurga). (At-Taubah : 100)

Keduapuluh tiga.
Secara khusus sebahagian sahabat telah diberi khabar gembira oleh Nabi sebagai penghuni syurga, seperti Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan lain-lain.

Keduapuluh empat.
Para sahabat telah berhasil menguasai dunia membenarkan janji Allah di dalam Kitab-Nya yang mulia (Tafsir Ibnu Katsir surat An-Nuur ayat 55)

Keduapuluh lima.
Perjalanan orang-orang mu’min yang paling kuat “Ukhuwwah Islamiyyahnya” ialah para sahabat berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah serta sejarah.

Keduapuluh enam.
Di dalam ayat yang mulia ini Allah tidaklah mencukupkan firman-Nya dengan perkataan: ”Barangsiapa yang memusuhi Rasul sesudah nyata baginya kebenaran…., nescaya akan palingkan dia….”. dan kalau Allah mencukupinya sampai disitu pasti hak/benar. Akan tetapi terdapat hikmah yang dalam ketika Allah mengkaitkan dengan “dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min -iaitu para sahabat. Dari sini kita mengetahui, bahawa di dalam berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, mesti ada jalan atau cara di dalam memahami keduanya. Jalan atau cara itu adalah “jalannya orang-orang mu’min iaitu para sahabat”. Jadi urutan dalilnya sebagai berikut : Al-Qur’an As-Sunnah. Keduanya menurut pemahaman para sahabat atau cara beragama mereka, aqidah dan manhaj.

(Disalin dari Majalah As-Sunnah edisi : 02/V/1421-2001M, hal 51-53, Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183)

Soalan:

Kami adalah mahasiswi-mahasiswi yang menuntut di salah sebuah universiti. Sudah menjadi kebiasaan kepada kami apabila para profesor datang, mereka akan memberi salam dan kami menjawabnya dengan sebaik-baiknya atau seperti yang diucapkan sebagaimana yang diperintahkan Allah s.w.t.

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat (seperti memberi salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama). (Surah al-Nisa`: 86)

Kami mempercayai bahawa ayat di atas bukan khusus kepada kaum lelaki sahaja. Tetapi salah seorang profesor kami tidak mengikuti kebiasaan ini dan beliau tidak memberi salam kepada kami. Pernah sekali secara terang-terangan saya bertanya kepadanya: Mengapa tuan tidak memberi salam kepada kami? Lalu beliau menjawab, memberi salam kepada wanita tidak harus mengikut syara’ dan suara wanita adalah aurat! Bagaimanapun beliau sebagai pensyarah kami, bercakap-cakap dengan kami dan kami bercakap-cakap dengannya, beliau bertanya kami menjawab dan sebaliknya. Kami sering berbincang dalam banyak perkara tanpa beliau mempertikaikan perbincangan tersebut. Jadi mengapa pula memberi salam sahaja yang ditegah? Adakah benar suara perempuan itu aurat, walaupun untuk menjawab salam atau ucapan-ucapan baik yang lain dalam keadaan menjaga adab-adab yang dituntut pada wanita muslimah ketika berdialog dengan bukan mahram?

Kami ingin sekali mengetahui hukum syara’ dalam masalah ini, sama ada yang dibolehkan kepada kami atau yang ditegah. Tetapi yang paling penting ialah apakah dalil yang memuaskan dan melapangkan hati yang dapat menghilangkan sebarang pertikaian, sebagaimana yang menjadi komitmen tuan dalam memberi fatwa. Semoga Allah memberikan manfaat akan ilmu tuan kepada kaum muslimin.

Mahasiswi-mahasiswi Universiti Qatar.

Jawapan:

Sesiapa yang memerhatikan nas-nas umum yang menyuruh supaya menyebarkan salam akan mendapati ia tidak membezakan antara lelaki dan wanita seperti hadis yang menyeru supaya memberi makanan, menyebarkan salam, menghubungkan tali persaudaraan, sembahyang malam dalam keadaan orang lain sedang tidur. Dalam hadis yang sahih diriwayatkan oleh Imam Muslim:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Demi jiwaku di tangan-Nya kamu tidak akan memasuki syurga sehinggalah kamu beriman, kamu tidak akan beriman sehinggalah kamu berkasih sayang, mahukah aku beritahu kepada kamu sesuatu yang kamu lakukan kamu akan berkasih sayang? sebarkanlah salam di kalangan kamu.

Di antara dalil yang umum itu, firman Allah s.w.t.:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat (seperti memberi salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama). (Surah al-Nisa`: 86)

Prinsip berkenaan dengan Khitab Syari’ (mesej Allah) ialah merangkumi lelaki dan wanita kecuali yang dikhususkan dengan dalil. Berdasarkan kepada nas al-Qur`an, sekiranya seorang lelaki muslim memberi salam kepada wanita muslimah maka menjadi kewajipan kepadanya untuk menjawab salam dengan cara yang lebih baik atau sekurang-kurang dengan cara yang sama. Begitu juga sekiranya seorang wanita muslimah memberi salam kepada lelaki muslim, maka menjadi kewajipan kepadanya untuk menjawab dengan cara yang lebih baik atau dengan cara yang sama selagi nas-nas itu umum dan tidak terdapat nas lain yang mengkhususkan dan membataskannya.

Bagaimana pun terdapat nas-nas yang menyokong dan menguatkan perbuatan perempuan memberi dan menjawab salam. Nas-nas khusus itu menjelaskan keharusan lelaki memberi salam kepada wanita dan wanita memberi salam kepada lelaki. Di dalam sahih al-Bukhari, diriwayatkan bahawa Ummu Hani` binti Abi Talib berkata: “Saya pergi menemui Rasulullah s.a.w. pada hari pembukaan Kota Mekah, saya dapati baginda sedang mandi dan anaknya, Fatimah menutupnya. Saya memberi salam kepada baginda dan baginda bertanya: “Siapa itu?” Saya menjawab Ummu Hani` binti Abi Talib. Baginda bersabda: “Selamat datang Ummu Hani`. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim.

Imam al-Bukhari meletakkan hadis ini di bawah tajuk, Bab Lelaki Memberi Salam Kepada Wanita Dan Wanita Memberi Salam Kepada Lelaki.

Hafiz ibn Hajar berkata: “Dengan membuat tajuk ini, al-Bukhari mengisyaratkan bahawa beliau menolak riwayat yang dikeluarkan oleh Abdul Razzaq daripada Ma’mar daripada Yahya bin Abi Kathir, bahawa sampai kepada saya, dimakruhkan kepada lelaki memberi salam kepada perempuan dan perempuan memberi salam kepada lelaki”.

Imam al-Bukhari mengemukakan dua hadis dalam bab ini yang menunjukkan keharusannya.

Hadis pertama yang diriwayatkan oleh Sahl:

Abu Hazim menceritakan bahawa Sahl berkata: Kami sangat gembira dengan kedatangan hari Jumaat. Saya (Abu Hazim) bertanya: Kenapa? Dia menjawab: “Ada seorang wanita tua yang kami kenali selalu menghantar seseorang ke Budha’ah. Ibn Maslamah mengatakan Budha’ah adalah sebuah kebun tamar di Madinah. Dia mengambil akar-akar sejenis sayur silq lalu memasukkannya ke dalam periuk dan mengisar bijiran barli. Apabila kami selesai sembahyang Jumaat kami beredar (menuju ke rumahnya) dan memberi salam kepadanya dan dia menghidangkan kepada kami makanan itu.

Hadis kedua:

Daripada ‘Aishah katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Wahai ‘Aishah, ini Jibril mengucapkan salam kepada kamu. ‘Aishah berkata, saya menjawab salamnya, Wa ‘alaihissalam wa rahmatullah”.

Kata Hafiz Ibn Hajar: “Berhubung dengan perkara ini, terdapat sebuah hadis yang tidak menepati syarat al-Bukhari iaitu hadis Asma` binti Zaid, Rasulullah s.a.w. lalu dekat kami dalam sekumpulan wanita dan baginda memberi salam kepada kami. Imam al-Tirmizi menghukumkan hadis ini sebagai hasan dan memadai dengan syaratnya walaupun tidak menepati syarat al-Bukhari.

Hadis ini mempunyai syahid (sokongan) daripada hadis Jabir yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Diriwayatkan daripada beberapa orang sahabat: Orang-orang lelaki memberi salam kepada wanita dan wanita tidak memberi salam kepada orang-orang lelaki. Tetapi hadis ini ditolak dengan hadis Ummu Hani` bahawa beliau memberi salam kepada Rasulullah s.a.w. pada hari pembukaan Mekah dan baginda bukan mahram kepada Ummu Hani` bahkan sepupu baginda dan pernah baginda mahu mengahwininya.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad: “Mu’az pergi ke Yaman lalu bertemu dengan seorang perempuan bersamanya dua belas orang anak lelakinya. Tersebut dalam hadis itu, perempuan itu berdiri dan memberi salam kepada Mu’az.

Dalam sanadnya terdapat Syahr bin Hawsyab dan dia dipertikaikan tetapi boleh dijadikan sokongan dengannya walaupun jika beliau meriwayatkan secara berseorangan tidak boleh dijadikan hujah dan al-Tirmizi menghukumkan hadisnya sebagai hasan.

Diriwayatkan bahawa ‘Umar bin al-Khattab telah datang menemui beberapa orang wanita dan beliau memberi salam kepada mereka seraya berkata: “Saya utusan Rasulullah s.a.w. kepada kamu”.

Ini merupakan petunjuk Rasulullah s.a.w. dan para sahabat berhubung dengan memberi salam kepada wanita atau wanita memberi salam kepada lelaki. Tetapi kebanyakan ulama mensyaratkan keharusan itu apabila selamat daripada fitnah. Al-Halimi berkata: “Rasulullah s.a.w. kerana sifat ma’sumnya terpelihara daripada fitnah. Sesiapa yang mempercayai dirinya selamat daripada fitnah,bolehlah dia memberi salam jika tidak, diam itu lebih selamat. Al-Muhallab berkata: “Ucapan salam lelaki kepada wanita dan wanita kepada lelaki harus apabila aman daripada fitnah. Ulama mazhab Maliki membezakan di antara pemudi dan perempuan tua sebagai langkah menutup pintu kemunkaran. Setengah ulama pula mengkhususkan larangan itu kepada remaja lagi cantik. Jika seorang pemudi yang cantik dikhuatiri akan terpesona dengannya, maka tidak disyariatkan memberi salam atau menjawabnya. Rabi’ah menegah secara mutlak. Ulama Kufah, Abu Hanifah dan murid-muridnya mengatakan, tidak diharuskan perempuan memberi salam kepada lelaki kerana mereka ditegah daripada azan, iqamah dan membaca dengan nyaring dalam sembahyang, kecuali salam kepada mahram, kerana itu diharuskan kepada mahramnya.

Hujah pihak lain ialah hadis yang kami telah sebutkan iaitu hadis Sahl yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari. Para sahabat yang menziarahi wanita itu dan dia memberi makan kepada mereka bukanlah mahramnya.

Ijtihad-ijtihad yang dikemukakan oleh ulama sebenarnya didorong oleh rasa takut yang berlebihan dan ketelitian dan ia tidak diikat dengan nas yang sahih dan jelas. Kebanyakan sahabat dan para tabi’in tidaklah merasa takut dengan semua perasaan ini dan teliti sehingga ke tahap ini. Sesiapa yang meneliti sumber-sumber yang menyebutkan hal ehwal mereka, akan mendapati sebilangan besar mereka berpendapat bahawa tidak mengapa memberi salam kepada wanita terutamanya apabila seorang lelaki itu datang menziarahi wanita-wanita, datang sebagai orang yang merawat, mengajar dan sebagainya. Ini berbeza dengan perempuan yang ditemui di jalan awam, maka ini tidak sesuai memberi salam kepadanya selagi tidak ada sebarang hubungan yang kukuh seperti persaudaraan, persemendaan dan sebagainya.

Cukup bagi saya di sini untuk mencatatkan riwayat para salaf tentang memberi salam kepada wanita yang dinukilkan oleh Hafiz Abu Bakar Ibn Abi Syaibah dalam kitabnya al-Musannaf. Setelah mengemukakan hadis Asma bin Zaid yang kita sebutkan di atas, Ibn Abi Syaibah menyebutkan dengan sanadnya riwayat-riwayat berikut:

Daripada Jarir bahawa Rasulullah s.a.w. lalu dekat dengan perempuan-perempuan dan baginda memberi salam kepada mereka.

Diriwayatkan daripada Mujahid bahawa Ibn ‘Umar melintasi wanita-wanita lalu memberi salam kepada mereka.

Diriwayatkan daripada Mujahid juga bahawa ‘Umar melintasi wanita-wanita lalu memberi salam kepada mereka.

Daripada Ibn ‘Uyainah daripada Abi Zar katanya, Saya bertanya ‘Ata` tentang memberi salam kepada wanita-wanita. Beliau menjawab sekiranya mereka itu muda maka jangan.

Daripada Ibn ‘Aun katanya, Saya bertanya Muhammad bin Sirin, adakah saya boleh memberi salam kepada perempuan. Beliau menjawab: “Saya tidak tahu itu dilarang”.

Daripada al-Hasan bahawa beliau tidak berpendapat bahawa lelaki boleh memberi salam kepada perempuan kecuali dia datang menemui perempuan di rumahnya, maka dia boleh memberi salam kepada perempuan itu.

Daripada ‘Ubaidullah katanya, ‘Amar bin Maimun memberi salam kepada wanita-wanita dan kanak-kanak.

Diriwayatkan daripada ‘Amar bin ‘Uthman katanya, saya melihat Musa binTalhah lalu dekat perempuan-perempuan yang sedang duduk kemudian memberi salam kepada mereka.

Daripada Syu’bah katanya, saya bertanya al-Hakam dan Hammad tentang memberi salam kepada perempuan-perempuan. Hammad mengatakan makruh kepada orang muda dan orang tua. Al-Hakam mengatakan, Syuraih memberi salam kepada setiap orang. Saya bertanya, kepada perempuan-perempuan? Dia menjawab kepada setiap orang.

Sandaran paling kuat bagi pihak yang melarang ialah takutkan fitnah yang sepatutnya dijaga dengan semampunya oleh seorang muslim demi menjaga agamanya dan maruahnya. Ini merujuk kepada hati seorang muslim dan perkiraannya dan dia hendaklah bertanya kepada hatinya. Dalam persoalan kita ini, kami berpendapat ada kelainan:

Memberi salam kepada sekumpulan wanita dan pemudi tidak sama dengan memberi salam kepada seorang perempuan.

Memberi salam dalam dewan kuliah yang terdapat ketenangan dan keseriusan tidak sama dengan memberi salam di jalan dan tempat-tempat seumpamanya.

Ucapan salam guru kepada pelajar-pelajar perempuan tidak sama dengan orang biasa. Rata-rata usia guru pada peringkat bapa atau datuk.

Profesor yang bersikap wara’ untuk tidak memberi salam masih terus bertanya kepada para mahasiswinya dan mereka pula bertanya kepadanya dan mereka saling memberikan jawapan. Oleh itu, tidak ada erti mengharuskan semua ini tetapi melarang ucapan salam sahaja. Membangkitkan soal fitnah di sini tidak ada ma’na kerana ucapan salam tidak melebihi percakapan, dialog dan perbincangan dalam kelas dan kuliah.

Jika meninggalkan ucapan salam menyebabkan pelajar-pelajar perempuan terasa jauh daripada adab kesopanan maka sepatutnya diberikan salam untuk mengelakkan diri daripada kegusaran hati dan mengelakkan daripada menyakiti orang lain.

Berhubung dengan kata-kata suara perempuan itu aurat, saya mengatakan tidak ada alasan tentangnya dan itu bukan pendapat ulama mu’tabar.

Bagaimana boleh begitu sedangkan Allah s.w.t. berfirman:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ

Dan apabila kamu meminta sesuatu yang harus diminta dari isteri-isteri Nabi maka mintalah kepada mereka dari sebalik tabir. (Surah al-Ahzab: 53)

Ma’na ayat ini ialah mereka menjawab pertanyaan orang bertanya mereka dari balik tabir. Demikianlah yang dilakukan oleh ‘Aishah dan isteri-isteri Rasulullah s.a.w. yang lain. Mereka menjawab soalan dan meriwayatkan hadis-hadis dan sirah dalam keadaan mereka ditentukan hukum yang ketat dan keras yang tidak ditentukan kepada perempuan-perempuan lain.

Berapa ramai perempuan-perempuan yang bertanya dan bercakap-cakap dalam majlis Rasulullah s.a.w. Berapa banyakkah peristiwa yang berlaku yang tidak terhitung di zaman Rasulullah s.a.w. dan sahabat di mana wanita-wanita bercakap-cakap dengan lelaki, bersoal jawab, berbincang tetapi tidak ada seorangpun yang berkata kepada seorang perempuan, diamlah kerana suara kamu aurat!

sumber : http://www.darulkautsar.com/fatwaqardawi/salam.htm

Di mana Ayahku …..
Di mana Bundaku …

Mungkin petikan bait lagu itu akan sering dinyanyikan oleh anak-anak kita yang selama ini hampir tidak pernah kita berikan waktu lebih. Yang lebih sering kita tinggal untuk bekerja dengan dalih mencari uang untuk beli susu, pampers dll. Kalau laki-laki memang mempunyai kewajiban sebagai kepala keluarga untuk memberikan nafkah kepada anak istrinya. Tapi bukankah tidak menjadi sebuah keharusan bagi kaum wanita untuk bekerja?

Ada kalanya ini menjadi sebuah konflik yang merucut, hampir saja suami memaksa saya untuk berhenti kerja ketika pengasuh anak saya berhenti tiba-tiba. Sempat kolabs juga, karena kami kehabisan akal bingung harus dititipkan kemana anak kami. Sedangkan orang tua saya juga masih aktif bekerja, mertua nun jauh di sana. Akhirnya dengan terpaksa saya ijin mengajak anak ke sekolah untuk sehari saja.

Pilihan yang sulit, ketika keluarga dihadapkan pada tuntutan ekonomi yang lebih otomatis suami istri harus bekerja sama untuk memenuhinya. Tapi ketika perekonomian keluarga sudah mencukupi dan cenderung berlebih mungkin akan lebih mudah untuk istri memutuskan tidak bekerja.

Ada curhat seorang teman, kebetulan dia salah satu guru BK di tempat saya bekerja, bukan bermaksud membuka aib tapi ada satu permasalahan yang membuat dia dan terutama saya malu sebagai seorang ibu.

Allah menegur

Waktu itu ada seorang ibu (wali murid) yang berkonsultasi tentang anaknya. Dia sempat mengucapkan kata-kata yang saya ingat sampai sekarang. Bahwa dia rela meninggalkan karirnya demi untuk menghabiskan waktu bersama anaknya “Saya tidak ingin melewatkan waktu sedetikpun untuk melihat perkembangan anak saya, dan saya tidaj rela kehilangan waktu semenitpun untun mendengar keluhan mereka” Subhanallah, saya malu sebagai seorang ibu, hati saya tercabik sebagai seorang wanita. Rasanya saya mendapat teguran dari Allah, apa yang sudah saya lakukan untuk anak saya? Apa yang sudah saya berikan untuk buah hati saya?

Selama ini saya hanya memikirkan mencari uang untuk membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangga, atau membeli kebutuhan anak. Tapi bukankah seorang anak tidak membutuhkan uang tapi perhatian dan kasih sayang.

Saya memang bercita-cita menjadi ibu yang baik, tapi baik menurut saya mungkin bukan baik menurut anak saya kelak. Saya ingin anak saya mempercayai saya menjadi wadah mengeluarkan unek-uneknya. Tapi dengan keadaan sekarang apakah itu mungkin?

Kalau ada istilah anak durhaka, mungkin saya salah satu orang tua yang durhaka pada anak. Karena saya lebih banyak menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak orang lain di sekolah (di luar tugas) tapi membiarkan anak sendiri menghabiskan waktu dengan nenek, kakek atau malah dengan pengasuhnya.

Istri yang Baik VS Ibu yang Baik

Hati saya perih ketika anak saya cenderung lebih memilih digendong pengasuh daripada lengket dan akrab dengan saya. Meskipun saya berusaha semaksimal mungkin untuk menarik perhatiannya tapi tetap saja tidak berhasil. Bukan salahnya jika dia lebih memilih digendong orang yang sudah menghabiskan banyak waktu dengannya. Ini salah satu bukti nyata, ternyata anak kita tidak hanya butuh pengakuan tapi juga bukti nyata kalau kita ini ibunya!

Memilih menjadi ibu yang baik atau istri yang baik, ketika kita mempunyai niat untuk membantu pasangan memenuhi kebutuhan hidup itulah saat kita menjadi istri yang baik. Tapi kalau kita bisa memenuhi keduanya antara membantu suami tanpa meninggalkan kewajiban kita sebagai ibu itulah saat kita benar-benar menjadi ibu yang baik.

Pilihan yang sulit memang, karena wanita/istri/ibu adalah penghasil produk-produk yang nantinya mempunyai misi untuk dirinya sendiri dan negara ini.

Hidup ini sebuah pilihan, Allah memberi banyak pilihan terserah kita memilih hidup yang seperti apa. Apakah kita menginginkan menjadi istri yang baik saja atau ibu yang baik? Menyakitkan bukan bila anak kita mendendangkan bait lagu di atas…. jangan sampai deh. Ibu saatnya kita memilih….

A. TENTANG TAUHID
Tercantum dalam kitab Al Mihnah bahawa Imam Ahmad berkata: Allah Azza Wa Jalla, bukan makhluk dan Dia tidak boleh disifati dengan sesuatu melebihi daripada apa yang Dia telah sifati diri-Nya sendiri.(67)

Berkata Abdullah Bin Ahmad di dalam kitab Al Sunnah: Sesungguhnya Imam Ahmad berkata: Barangsiapa yang mendakwa bahawa Allah tidak berkata-kata maka dia kafir.(68)

Dikeluarkan oleh Al Lalakaai daripada Hanbal Bin Ishak bahawa dia bertanya kepada Imam Ahmad tentang Rukyah (melihat Allah), Imam Ahmad menjawab: Semua hadis yang sahih daripada Nabi s.a.w. dengan sanad-sanad yang baik (jayyidah) kami beriman dan berikrar dengannya.(69)

Ibnu Al Jauzy membawa kata-kata Imam Ahmad dalam Al Manaaqib, katanya: Sifatilah Allah dengan apa yang Allah sifati diri-Nya, dan nafikanlah daripada Allah apa yang dinafikan-Nya daripada diri-Nya. (70)

Imam Ahmad berkata di dalam kitabya: Bantahan terhadap Jahmiyah: Sesungguhnya Jahm Bin Shafwan mendakwa kononnya sesiapa yang mensifati Allah dengan sesuatu yang Dia sifati diri-Nya di dalam Kitab-Nya atau sebagaimana yang dikhabarkan oleh RasulNya maka dia kafir dan dia termasuk ke dalam Musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk). (71)

Ibnu Abi Ya’laa menukilkan daripada Imam Ahmad bahawa ia berkata: Barangsiapa yang mendakwa bahawa Allah tidak dapat dilihat di akhirat nanti maka dia kafir dan pendusta terhadap Al- Quran. (72)

Ibnu Abi Ya’laa menukilkan daripada Abdullah Bin Ahmad, katanya: Aku bertanya kepada ayahku tentang kaum yang berkata: Ketika Allah berkata kepada Nabi Musa, Dia tidak berkata dengan suara. Lalu ayahku menjawab: Allah berkatakata dengan suara, dan hadis-hadis ini kami riwayatkan sebagaimana ia datang daripada Rasulullah s.a.w. (73)

Dikeluarkan oleh Al Lalkaai daripada Idrus Bin Malik Al’Aththar, katanya Al-Quran itu Kalam Allah, dan dia bukan makhluk. Dan kamu jangan merasa lemah untuk mengatakan bahawa dia bukan makhluk, kerana Kalam Allah adalah daripada-Nya, dan tidak ada suatu pun daripada-Nya itu makhluk.

B. TENTANG QADAR
Ibnu Al Jauzy menukilkan di dalam Al Manaaqib kitab Imam Ahmad Bin Hanbal kepada Musaddad, dan tertera di dalamnya: Dan beriman dengan qadar, baiknya dan buruknya, manisnya dan pahitnya adalah daripada Allah.(75)

Dikeluarkan oleh Al Khallaal daripada Muhammad Bin Abu Harun daripada Abi Al Haris, katanya: Aku mendengar Aba Abdullah (Imam Ahmad) berkata: Allah Azza Wa Jalla yang takdirkan ketaatan dan maksiat, dan Dialah yang takdirkan baik dan buruk, dan barangsiapa yang ditulis sebagai orang yang bahagia maka dia akan bahagia, dan barangsiapa yang ditulis celaka maka dia akan celaka. (76)

Abdullah bin Ahmad berkata: Aku pernah sekali bertanya kepada ayahku tentang solat di belakang Qadari. Jawabnya: Sekiranya dia mempertahankan pandangannya dan mengajak kepada fahamannya maka janganlah kamu solat di belakangnya.

C. TENTANG IMAN
Ibnu Al Jauzy menukilkan daripada Imam Ahmad katanya: Iman itu bertambah dan berkurang sebagaimana tercantum di dalam khabar (hadis): Mukmin yang paling sempurna ialah mukmin yang paling baik akhlaknya (HR Ahmad).(78)

Dikeluarkan oleh Al Khallaal daripada Sulaiman Bin Asy’ats, katanya: Sesungguhnya Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: Solat, zakat, haji dan amal kebajikan adalah sebahagian daripada iman, sedangkan maksiat pula dapat mengurangi iman.(79)

Abdullah bin Ahmad berkata: Aku mendengar ayahku Rahimahullaah ditanya tentang Murjiah, lalu jawabnya: Kami berpendapat: Iman adalah ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang, jika ia berzina dan minum arak maka berkuranglah imannya. (80)

D. TENTANG SAHABAT
Termaktub dalam kitab Al Sunnah oleh Imam Ahmad sebagaimana berikut: Adalah sunnah menyebut kebaikankebaikan semua sahabat Rasul s.a.w. Dan berhenti daripada menyebut keburukan-keburukan mereka dan pertelingkahan yang terjadi di antara mereka. Barangsiapa yang mencaci salah seorang daripada mereka maka dia adalah mubtadi’ (pembuat bid’ah) dan rafidhy yang sangat buruk. Malahan mencintai mereka adalah sunnah. Mendoakan mereka adalah qurbah (ibadah). Mencontohi mereka adalah wasilah (jalan untuk mencapai keredhaan Allah). Dan mengambil atsar-atsar (peninggalan) mereka adalah fadhilah (kelebihan). (81)

Ibnu Al Jauzy menukilkan risalah Imam Ahmad kepada Musaddad, di antara kandungannya: Dan hendaklah engkau mempersaksikan ke atas sepuluh sahabat bahawa mereka masuk syurga iaitu Abu Bakar, Umar, Othman, Ali, Thalhah, Al Zubeir, Sa’d, Sa’id, Abdul Rahman Bin ‘Auf, Abu Ubaidah Bin Jarrah. Dan barangsiapa yang dipersaksikan oleh Nabi s.a.w. akan masuk syurga, maka kami juga mempersaksikannya. (82)

Dinukilkan oleh Ibnu Abi Ya’laa daripada Imam Ahmad, katanya: Barangsiapa yang tidak mensabitkan (menetapkan) kekhalifahan bagi Ali bin Abi Thalib maka dia adalah lebih sesat daripada keldai ahlinya. (83)

Dan dinukilkan daripada Ibnu Abi Ya’laa daripada Imam Ahmad, katanya: Barangsiapa yang tidak menyakini bahawa Ali bin Abi Thalib khalifah keempat, maka janganlah kamu bercakap dengannya dan jangan kamu nikahi dia. (84)

E. TENTANG ILMU KALAM
Dikeluarkan oleh Ibnu Al Jauzy daripada Musa Bin Abdullah Al Tharsuusy, katanya Aku mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Janganlah kamu duduk pada majlis ahli kalam walaupun mereka itu mahir tentang sunnah (85).

Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah daripada Abdullah Bin Ahmad katanya : Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: Berpegang teguhlah dengan sunnah dan hadis dan semoga Allah memberi kamu manfaatnya, dan jauhiah olehmu daripada berbantah-bantahan dan perdebatan dan bermegah-megah kerana orang yang suka berbantah-bantahan tidak akan menang. Dan setiap orang yang mencipta baru masalah kalam nescaya tidak akan berakhir urusannya melainkan kepada bid’ah. Kerana kalam tidak ada yang mengajak kepada kebaikan. Dan aku tidak menyukai Kalam, Khaudah dan Jidaal. Berpegang teguhlah dengan Sunnah dan Atsar dan Fiqh yang boleh mendatangkan manfaat kepadamu. Hindarilah Jidaal (berbantah-bantahan) dan Kalam Ahli al-ziqh Wa al-Muraa’ (perkataan orang yang kehilangan pedoman dan bermegah-megah). Semoga Allah melindungi kita semua daripada fitnah dan menyelamatkan kita daripada segala kebinasaan. (86)

Ibnu Baththah menukilkan di dalam kitab Al Ibaanah daripada Imam Ahmad, katanya: Jika kamu melihat lelaki yang suka kepada Kalam maka berwaspadalah daripadanya (87)
Demikianlah beberapa pandangan Imam Ahmad Bin Hanbal tentang masaalah Ushuluddin dan sikap beliau terhadap Ilmu Kalam.

PENUTUP
Berdasarkan penjelasan di atas jelaslah bahawa Aqidah Imam-Imam Yang Empat adalah (satu) selain Imam Abu Hanifah dalam masalah Iman. Namun demikian kita difahamkan bahawa Iman, Abu Hanifah telah rujuk (kembali) daripada pandangannya dan mengikuti pandangan jumhur dalam hal tersebut. Aqidah seperti inilah yang sewajarnya diikuti oleh semua umat Islam sehingga mereka terhindar daripada perpecahan kerana aqidah ini disandarkan pengambilannya daripada Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya s.a.w.

Sungguh sedikit manusia yang memahami aqidah para Imam Yang Empat ini dengan pemahaman yang sebenarnya. Malahan berita yang sungguh meluas tersebar di kalangan mereka ialah kononnya Imam-Imam Yang Empat itu termasuk golongan Mufawwidhuun (golongan yang menyerahkan segala makna sifat-sifat Allah kepada Allah semata-mata – P), dan kononnya mereka tidak mengetahui nas-nas Al-Quran kecuali sekadar membacanya sahaja, seolah-olah Allah tidak menurunkan wahyu kecuali sia-sia sahaja. Padahal Allah S.W.T. telah berfirman, mafhumnya,: Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran (Shaad: 29)

Dan Allah berfirman lagi, mafhumnya: Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Al Roh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas (Al Syu’araa: 192 – 195)

Dan Allah berfirman lagi, mafhumnya: Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya (Yusuf: 2)

Jadi Allah S.W.T. telah menurunkan kitab Al-Quran supaya kita memperhatikan ayat- ayatnya dan mengambil pengajaran yang ada di dalamnya. Dan Allah S.W.T mengkhabarkan kepada kita bahawa Dia menurunkan dalam Bahasa Arab yang jelas dan terang supaya manusia dapat memahami dan memikirkan maknanya . Dan kalaulah tujuan Allah menurunkan Al-Quran supaya umat manusia memperhatikan ayat – ayatnya dengan Bahasa Arab yang nyata dan jelas maka sudah semestinya Al-Quran itu mengandungi ilmu yang mudah difahami oleh semua umat manusia, dan lebih-lebih lagi tentunya bagi Bangsa Arab yang dengan bahasa mereka Al-Quran itu diturunkan. Sebab jika tidak demikian maka matlamat penurunannya hanyalah akan sia-sia belaka.

Dan pandangan seperti itu adalah jenayah yang paling besar ke atas Aqidah para Sahabat dan Tabi’iin serta Imam-Imam yang mengikuti jejak langkah mereka sesudah itu. Ini adalah tuduhan yang tidak mempunyai asas sama sekali. Sebab merekalah orang yang paling faham terhadap nas-nas wahyu kerana hampirnya mereka dengan zaman kenabian. Bahkan merekalah manusia yang paling berhak mendapat kemuliaan tersebut. Mereka beribadat kepada Allah SWT dengan ibadat-ibadat yang mereka fahami langsung daripada petunjuk Al-Quran dan Sunnah. Dan jika mereka memahami jalan yang boleh menyampaikan mereka kepada Tuhan yang mereka sembah, maka bagaimana mungkin mereka tidak mengenali Sifat-Sifat Kesempurnaan Tuhan Yang Mereka Sembah? Dan bagaimana mungkin mereka tidak memahami nas-nas yang diajar sendiri oleh Allah melalui Rasul-Nya?

Jadi ringkasnya, sesungguhnya Aqidah Imam-Imam Yang Empat, inilah Aqidah Yang Sahih lagi Benar yang bersumberkan dari sumber yang murni iaitu Al-Quran dan Sunnah. Tidak terdapat di dalamnya pencemaran dan noda walaupun sedikit, samada takwil, ta’thil, tasybih ataupun tamtsil. Adapun mu’aththil dan musyabbih, mereka tidak memahami sifat-sifat Allah kecuali apa yang layak untuk makhluk. Dan dalam hal ini sangat bercanggah kerana Allah tidak serupa dengan suatu apa pun, sama ada Zat-Nya, Sifat-Nya mahu pun Af’aal-Nya.

Saya berdoa kepada Allah S.W.T. semoga risalah kecil ini berguna untuk kaum muslimin dan semoga Dia menghimpunkan mereka di atas Aqidah Yang Satu dan Jalan Yang Satu iaitu Aqidah Al-Quran dan Sunnah. Hanya kepada Allah tempat kita semua berserah diri.

Oleh : Dr Abdullah Yassin

Rujukan lanjut dan sumber : http://opalotus99.blogspot.com/

Mutiara Nasihat Luqman al-Hakim Di Dalam al-Qur’an

http://an-nawawi.blogspot.com

Luqman, sebuah nama besar yang tercatat di dalam kitab suci al-Qur’an. Menamai sebuah surah yang terkandung di dalamnya sebanyak tiga puluh empat (34) ayat. Yang di dalam surah tersebut terkandung beberapa untaian nasihat yang begitu utama lagi agung.

Siapakah Luqman?

Majoriti ulama menjelaskan bahawa beliau adalah seorang hamba Allah yang soleh dan kuat beribadah. Beberapa riwayat turut menjelaskan bahawa beliau adalah seorang yang memiliki tubuh fizikal yang sasa dan kuat. Dia merupakan seorang hamba berketurunan Habsyi. Di dalam al-Qur’an (31: 12), Allah menjelaskan bahawa beliau adalah di antara hamba-Nya yang diberikan hikmah.

Hikmah di sini membawa maksud kepada kefahaman yang mendalam dan ilmu yang begitu luas serta cara penyampaian yang begitu baik. (Rujuk Tafsir Ibnu Katsir)

1 – Syirik Sebagai Sebesar-besar Kezaliman

Allah berfirman (maksudnya):

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di ketika beliau memberi pelajaran kepadanya: “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (mensyirikkan) Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (Surah Luqman, 31: 13)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan bahawa Luqman adalah insan yang sangat terpuji dan Allah telah menganugerahkan hikmah kepadanya. Yang kemudiannyanya Allah menyatakan pula bahawa dia memberi pelajaran untuk anaknya yang merupakan manusia yang paling beliau sayangi serta paling berhak mendapat didikan darinya yang dengannya beliau memberi beberapa untaian nasihat yang sangat penting.

Maka, nasihat yang paling utama yang beliau sampaikan untuk anaknya adalah berupa nasihat supaya mentauhidkan Allah dengan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Beliau menjelaskan bahawa betapa syirik adalah suatu perbuatan yang merupakan sebesar-besar kezaliman.

Ini adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya (mkaksudnya):

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dan sesiapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya dia telah melakukan dosa yang besar.” (Surah an-Nisaa’, 4: 48)

Di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahawa dosa syirik adalah sebuah dosa yang tidak terampunkan. Sekiranya manusia itu mati sebelum sempat bertaubat dari perbuatan syiriknya, maka tiada ruang baginya untuk diampuni. Berbeza dengan dosa-dosa yang selainnya, di mana Allah masih memberi ruang kepada pelakunya diampuni.

2 – Berbuat Baik Kepada Kedua Ibu Bapa

Setelah menasihati kepada anaknya supaya menjauhi perbuatan syirik, beliau menasihati anaknya agar sentiasa berbuat kebaikan dan berbakti kepada kedua ibu bapa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

“Dan Kami perintahkan kepada manusia berbuat kebaikan kepada dua orang ibu-bapanya; di mana ibunya telah mengandungkannya dalam keadaan lemah yang ter-amat, dan menyapihnya (mencerai susu) dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapamu, hanya kepada-Kulah tempat engkau dikembalikan.” (Surah Luqman, 31: 14)

Di dalam ayat yang lain, Allah turut menjelaskan perkara yang sama iaitu supaya menjauhi kesyirikan sekaligus memerintahkan agar sentiasa berbuat kebaikan kepada kedua ibu bapa sebagaimana berikut:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapa.” (Surah al-Isra’, 17: 23)

Dan Allah juga memerintahkan supaya anak-anak sentiasa mendoakan kebaikan buat ibu bapanya di dalam ayat seterusnya (maksudnya):

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah (doakanlah): “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil”.” (Surah al-Isra’, 17: 24)

Berdasarkan ayat 14 dari Surah Luqman tersebut, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan di dalam tafsirnya bahawa Allah sengaja menyebutkan perjuangan dan pengorbanan seseorang ibu di dalam mengurus anaknya. Penderitaan dan pengorbanan seseorang ibu dalam melindungi anaknya adalah di antaranya seperti tidak boleh tidur dengan selesa di setiap siang dan malam (bertujuan menyusuinya dan menjaganya – pen.), ini adalah semata-mata mahu memberi penjelasan betapa besarnya jasa seseorang ibu. (Rujuk Tafsir Ibnu Katsir)

Walaupun begitu, persoalan tauhid tetap adalah sebuah keutamaan dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Allah memerintahkan supaya kita tidak mengikuti kehendak ibu bapa kita sekiranya dia meminta kita berlaku syirik kepada Allah. Cumanya, perhubungan dengan keduanya tetap perlu dijaga dengan sebaik mungkin. Ini adalah sebagaimana yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala jelaskan bahawa (maksudnya):

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan (mensyirikkan) terhadap Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan layanilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah tempat kembalimu, maka Ku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Surah Luqman, 31: 15)

Dari sini juga, ayat ini turut menjelaskan betapa tingginya akhlak seseorang muslim itu terhadap kedua ibu bapanya biar pun mereka mengajak kepada perbuatan yang tidak baik. Dalam keadaan seperti itu, Allah tetap memerintahkan supaya setiap anak menjaga hubungan kepada kedua ibu bapanya dengan sebaik mungkin. Iaitu dengan mencerminkan akhlak seorang muslim sejati yang taat di dalam bertauhid. Di mana di antara hikmahnya adalah ia mampu melahirkan rasa tertarik sang ibu dan ayah dengan keindahan Islam itu sendiri.

3 – Kekuasaan Allah Dan Hari Perhitungan

(Luqman berkata): “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.” (Qs. Luqman, 31: 16)

Pada ayat ke-16 dari surah Luqman, Allah menjelaskan bahawa Luqman kembali memberikan nasihat kepada anaknya berkenaan dengan persoalan tauhid, bahawa sekecil apa pun perbuatan seseorang, sama ada berupa ketaatan mahu pun kemaksiatan, pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalasnya. Perbuatan baik, maka balasannya juga baik. Jika perbuatan tersebut buruk, maka balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala juga demikian. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman (maksudnya):

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang sedikit pun, dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)-nya, dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (Surah al-Anbiya’, 21: 47)

Maka, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pandangan Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh kerana itu, di akhir ayat 16 surah Luqman ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (mejelaskan):

“… Sesungguhnya Allah Maha Halus (teliti) lagi Maha Mengetahui.”

4 – Perintah Menegakkan Solat, Menegakkan Kebenaran, Dan Bersabar Dengan Musibah

Allah Subhanahahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

(Luqman berkata) “Wahai anakku, dirikanlah solat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang diwajibkan (oleh Allah).” (Surah Luqman, 31: 17)

Allah menjelaskan bahawa Luqman memerintahkan anaknya supaya mengerjakan solat yang mana solat adalah merupakan ibadah yang paling utama bagi seseorang muslim. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan di dalam tafsirnya bahawa perintah Luqman supaya anaknya menegakkan solat tersebut adalah dengan melaksanakannya dengan seluruh tatacaranya (sebagaimana solat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam – pen.), rukun-rukunnya, dan waktu-waktu yang telah ditetapkannya. (Rujuk Tafsir Ibnu Katsir)

Berkenaan penekanan solat dan pendidikan mengenainya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah berpesan kepada kita (maksudnya):

“Perintahkan anak-anak kamu untuk melakukan solat bermula ketika mereka mencapai umur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak mahu melakukan solat) ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (Hadis Riwayat Abu Daud. Lihat Shahihul Jami’, no. 5868)

Selanjutnya, beliau memerintahkan anaknya supaya melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar (menegakkan kebenaran dan menghapuskan kemungkaran). Perlaksanaan ini sebenarnya membawa seseorang agar mengetahui perkara-perkara yang ma’ruf (baik) dan yang mungkar. Sekaligus, dalam menegakkannya akan membawa pelakunya supaya sentiasa melazimi sifat sabar. Dari sini, ia turut menzahirkan bahawa perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar ini agak berat untuk dilaksanakan dan menuntut kesabaran serta kefahaman yang tinggi.

5 – Tidak Sombong, Angkuh, dan Membanggakan Diri

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

(Luqman berkata) “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (kerana sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Surah Luqman, 31: 18)

Dari sini, maksudnya adalah supaya jangan kita memalaingkan wajah dari seseorang di ketika sedang berbicara dengannya, atau di ketika mereka sedang berbicara dengan kita, sehingga ia menampakkan kesombongan dan keangkuhan. Tetapi yang sewajarnya adalah kita diperintahkan supaya sentiasa merendahkan diri/hati, serta sentiasa menampakkan wajah yang mesra/ramah terhadap mereka. (rujuk Tafsir Ibnu Katsir)

Di dalam ayat yang lain, Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman:

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, kerana sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Surah al-Isra, 17: 37)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Tidak (akan) masuk Syurga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau pun sekecil zarah”. (Kemudian) ada seseorang yang berkata: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan kasutnya baik,” (maka) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah, dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (Hadis Riwayat Muslim)

Di dalam hadis yang lain, dari hadis Haritsah bin Wahb al-Khuza’i radhiallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“… Mahukah aku beritahu kamu, siapakah penghuni neraka?” Mereka menjawab: “Tentu”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Setiap orang yang kasar, tamak haloba, dan yang sombong”. (Hadis Riwayat Muslim)

6 – Bersederhana Ketika Berjalan Dan Lembutkan Suara

“Dan bersederhanalah kamu dalam berjalan serta lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keldai.” (Surah Luqman, 31: 19)

Luqman menasihati anaknya supaya bersifat tawadhu’ (rendah hati), tenang, tidak tergesa-gesa dan tidak terlalu lambat dalam berjalan. Dia juga menasihati anaknya supaya tidak berlebih-lebihan dalam berbicara, dan tidak meninggikan suara untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya di dalam apa jua perbualan/bicara. Sehinggakan di sini beliau mengambil perumpamaan bagi suara yang buruk adalah seperti suara keldai.

Seburuk-buruk perumpamaan bagi orang yang meninggikan suaranya di ketika berbicara adalah seperti keldai ketika bersuara. Dan adalah suara seperti ini sangat-sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penutup

Nasihat-nasihat Luqman yang dibawakan di atas tadi adalah sangat bermanfaat dan berguna. Sehingga ianya dirakamkan di dalam kitab suci al-Qur’an al-‘Azim. Ada beberapa hikmah dan nasihat-nasihat lain yang baik yang cukup banyak selain apa yang telah dibawakan. Namun, cukuplah dulu dengan beberapa nasihat yang utama di atas untuk sama-sama kita renungi dan mengambil pengajaran darinya.

Wallahu a’lam…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.